Rumah Indonesia

Membaca Peristiwa dengan Sudut Pandang Beda

Archive for October, 2006

Syarifuddin Dg Tutu

Posted by Mh. Nurul Huda on 30 October 2006

Syarifuddin Dg Tutu: “Siapa Bilang Sinrilik Tidak Islami?”

 

Syarifuddin Dg Tutu, namanya. Mustahil rasanya masyarakat di sekitar Gowa tak mengenalnya. Pria ramah ini adalah salah satu seniman sinrilik yang cukup terkenal. Bahkan ia bukan hanya ahli membaca sinrilik, ia juga mahir menampilkan tari pakarena dan beberapa seni tradisi lainnya.

Saat DESANTARA bertandang ke rumahnya di daerah Bontoramba, wajahnya tampak sumringah. Ia bersemangat melayani perbincangan kami terutama saat menyinggung seputar tradisi sinrilik yang juga ia geluti. “Sekarang ini sinrilik praktis makin termarginalkan,” ujar Syarifuddin tiba-tiba dengan nada suara yang terdengar berat.

Read the rest of this entry »

Posted in Tokoh | Leave a Comment »

Mitos Sinrilik dan Narasi Kolonial

Posted by Mh. Nurul Huda on 30 October 2006

Oleh: Mh. Nurul Huda & Syamsurijal Adhan

Konon, dari cerita mulut ke mulut, sinrilik mulai dikenal orang sekitar tahun 1545. Saat itu Raja Gowa ke-10, Tumapa’risi Kalonna, membuat sebuah perjanjian dengan Raja Bone, Laulio Bottoe. Kurang jelas memang perjanjian macam apa itu, namun H. Sirajuddin yang juga seniman sinrilik ini meyakini sekitar abad ke-16 itulah pertama kalinya sinrilik tampil sebagai kesenian kerajaan.

Adalah seorang ahli bahasa bernama B.F. Matthes yang diyakini sejumlah ahli sebagai orang pertama yang berjasa mencatat sinrilik dalam teks tertulis. Dalam sebuah buku berjudul Makassaarsche Chrestomathie, yang ia terbitkan pada 1860, Matthes telah mentranskrip dan menerjemahkan sinrilik I Datu Museng dan juga sinrilik Kappalak Tallumbatua. Dari catatan Matthes inilah sinrilik dikenal banyak orang.

Matthes memang diakui beberapa pihak telah berjasa dalam mendokumentasikan beberapa sinrilik. Tetapi bila catatan-catatan yang dibuat misionaris Belanda ini kita telusuri lebih jauh, ternyata ia menyimpan pertanyaan besar. Betulkah catatan-catatan transkripsi dan terjemahan itu mencerminkan hati, pikiran, perasaan dan imajinasi rakyat Makassar waktu itu? Atau jangan-jangan –sebagaimana dilihat oleh sejumlah kalangan– cerita-cerita sinrilik yang dibukukan Matthes justru bercampur dengan imajinasi kolonial negeri tempatnya berasal.

Read the rest of this entry »

Posted in Politik Budaya | Leave a Comment »

Ketika Sinrilik Berdialog dengan Islam

Posted by Mh. Nurul Huda on 30 October 2006

Oleh: Mh. Nurul Huda & Syamsurijal Adhan

Eeeee…..tunimalo sengka sako, Eroka la makuta’nang, Apa lanrinna, Na kimenteng assumbajang// Nakimenteng assumbajang, Ka….sumbajang ni battui, Rupa tau kasumbajang memang todong//. (Wahai orang yang lewat, singgahlah sebentar, ada hal yang ingin kutanyakan, apa gerangan hingga kita harus mendirikan sembahyang// Wahai, ketahuilah, kita mendirikan sembahyang, karena suatu saat sembahyanglah yang akan menjadi tujuan kita, dan ketahuilah, sosok manusia, dirinya adalah sembahyang).

Tidak lazim memang, menyajikan ceramah agama dalam lirik-lirik sinrilik. Bukan hanya dalam Islam tapi juga dalam tradisi sinrilik sendiri. Barangkali hanya H. Sirajuddin Bantam yang berani melakukan. Seperti yang ia lakukan di hadapan ratusan jamaah di sebuah mesjid, bulan puasa lalu. Lirik-lirik bersyair di atas adalah catatan dari ceramahnya yang disajikan dengan cara massinrilik.

Nampak jelas para jamaah itu menikmati kalimat-kalimat bijak berbalut nilai-nilai spiritual Sirajuddin dalam irama sinrilik yang melantun indah. Sesekali mereka mengangguk. Kadang mereka dibuat terpingkal mendengar cerita sinrilik yang mengundang tawa.

Sinrilik, selama ini memang jarang, kalau bukan malahan tak pernah ditampilkan dalam ceramah semacam itu. Umumnya salah satu seni tradisi lisan orang-orang Makassar ini dibacakan pada saat-saat tertentu, seperti menjelang pendirian rumah baru. Dalam bahasa Makassar acara seperti ini disebut “akmata benteng”, yang bertujuan untuk mencegah maksud-maksud jahat dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Selain itu, sinrilik dipakai dalam acara-acara ritual keluarga seperti perkawinan, khitanan, dan lain-lain, atau dalam acara-acara yang ditujukan sebagai pernyataan syukur kepada Tuhan.

Read the rest of this entry »

Posted in Politik Budaya | Leave a Comment »

Sahuni

Posted by Mh. Nurul Huda on 1 October 2006

Pada tahun 1984, tepatnya Bulan Oktober, seorang seniman berwajah ala Nietsche menggebrak panggung kesenian di Banyuwangi. Ialah Sahuni, seniman cerdas yang mampu “mereinkarnasikan” kembali hadrah kuntulan yang nyaris tersingkir dalam panggung kesenian di Banyuwangi. Ia mengembangkan hadrah menjadi kesenian kundaran. Sebab kuntulan dalam hematnya kurang membumi.

Menurut Sahuni, Jika ditarik lebih kebelakang lagi, kundaran awalnya berasal dari Hadrah, sebuah kesenian yang tumbuh di lingkungan pesantren. Hadrah dimainkan oleh empat orang lelaki penabuh rebana, dalam kesenian ini tidak ada unsur gerakan tari sama sekali dan mengusung dakwah keislaman 100 persen dalam lirik-lirik yang dinyanyikannya. Menurut catatan historisnya, hadrah tiba di Banyuwangi pada awalnya di bawa oleh Kyai Sholeh seorang tokoh agama Islam, yang berasal dari Lateng, Kecamatan Rogojampi, pada sekitar awal abad ke-18. Sampai sekarang hadrah masih tetap hidup di beberapa pesantren di Banyuwangi, wujudnya tidak sebagai pertunjukan tetapi pembinaan agama Islam. Kesenian yang hampir sama dengan hadrah adalah Gembrung, seni musik yang dimainkan dengan rebana besar-besar yang kental dengan nuansa Banyuwangen. Lantunan nyanyiannya diambilkan dari Surat Yusuf dari awal sampai akhir. Satu-satunya desa di Banyuwangi yang masih memiliki Gembrung adalah Desa Kemiren.

Read the rest of this entry »

Posted in Tokoh | 1 Comment »

Kundaran, Dari Tuntunan ke Tontonan, dan Tantangannya Kini

Posted by Mh. Nurul Huda on 1 October 2006

Oleh: Mh. Nurul Huda & Paring Waluyo Utomo

Bagi orang Banyuwangi, kundaran atau kuntulan dadaran, atau yang biasa disebut dengan kuntulan saja, sudah tidak asing lagi. Ia diminati banyak orang, pertunjukannya selalu disesaki oleh penonton tua-muda. Maklum saja, kuntulan versi baru ini boleh dibilang mewakili ruang batin masyarakat Banyuwangi kontemporer yang terbuka, cair, dinamis dan peka terhadap perubahan.

Tidak banyak yang mencatat memang, bahwa kuntulan sebenarnya memiliki sejarah yang sangat menegangkan. Ibarat sebuah arena, ia adalah ruang tempat berbagai kepentingan dipertarungkan. Ya, kuntulan sebagai arena kontestasi.

Read the rest of this entry »

Posted in Politik Budaya | Leave a Comment »

Nasib Kuntulan di Tengah Desakan Purifikasi Islam

Posted by Mh. Nurul Huda on 1 October 2006

Oleh: Mh. Nurul Huda & Paring Waluyo Utomo

“Kuntulan itu sudah mengarah ke pelanggaran agama dan penyelewengan. Karena sudah jauh diselipi budaya-budaya di luar Islam,” tegas Soecipto, seorang tokoh sebuah tarekat terkenal di Banyuwangi.

Ya, Soecipto adalah salah seorang saja. Salah satu agamawan yang berpandangan negatif dan menolak keras keberadaan seni kuntulan di bumi Blambangan ini. Alasannya, pertunjukan kuntulan membawa maksiat, penuh tabu erotisme dan menodai agama.

Pernyataan keras semacam ini memang kembali menguat akhir-akhir ini. Tidak jelas memang sebab musabab derasnya arus kecaman terhadap salah satu kesenian yang paling dinamis di Banyuwangi ini. Padahal kuntulan yang telah mengalami perkembangan pesat terutama setelah mengalami pendadaran (perluasan) oleh para seniman, dan oleh karenanya sering disebut dengan “kundaran” atau kuntulan dadaran, telah diterima oleh para pendukungnya baik para seniman sendiri maupun penikmatnya yakni rakyat Banyuwangi. Bahkan dalam banyak hal fenomena ini seringkali dipandang sebagai kemampuan kuntulan berdialog dengan tradisi lokal lainnya, seperti gandrung. Meski toh kuntulan versi baru ini menuai kontroversi tersendiri.

Read the rest of this entry »

Posted in Politik Budaya | 1 Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.