Rumah Indonesia

Membaca Peristiwa dengan Sudut Pandang Beda

Archive for October 1st, 2006

Sahuni

Posted by Mh. Nurul Huda on 1 October 2006

Pada tahun 1984, tepatnya Bulan Oktober, seorang seniman berwajah ala Nietsche menggebrak panggung kesenian di Banyuwangi. Ialah Sahuni, seniman cerdas yang mampu “mereinkarnasikan” kembali hadrah kuntulan yang nyaris tersingkir dalam panggung kesenian di Banyuwangi. Ia mengembangkan hadrah menjadi kesenian kundaran. Sebab kuntulan dalam hematnya kurang membumi.

Menurut Sahuni, Jika ditarik lebih kebelakang lagi, kundaran awalnya berasal dari Hadrah, sebuah kesenian yang tumbuh di lingkungan pesantren. Hadrah dimainkan oleh empat orang lelaki penabuh rebana, dalam kesenian ini tidak ada unsur gerakan tari sama sekali dan mengusung dakwah keislaman 100 persen dalam lirik-lirik yang dinyanyikannya. Menurut catatan historisnya, hadrah tiba di Banyuwangi pada awalnya di bawa oleh Kyai Sholeh seorang tokoh agama Islam, yang berasal dari Lateng, Kecamatan Rogojampi, pada sekitar awal abad ke-18. Sampai sekarang hadrah masih tetap hidup di beberapa pesantren di Banyuwangi, wujudnya tidak sebagai pertunjukan tetapi pembinaan agama Islam. Kesenian yang hampir sama dengan hadrah adalah Gembrung, seni musik yang dimainkan dengan rebana besar-besar yang kental dengan nuansa Banyuwangen. Lantunan nyanyiannya diambilkan dari Surat Yusuf dari awal sampai akhir. Satu-satunya desa di Banyuwangi yang masih memiliki Gembrung adalah Desa Kemiren.

Read the rest of this entry »

Posted in Tokoh | 1 Comment »

Kundaran, Dari Tuntunan ke Tontonan, dan Tantangannya Kini

Posted by Mh. Nurul Huda on 1 October 2006

Oleh: Mh. Nurul Huda & Paring Waluyo Utomo

Bagi orang Banyuwangi, kundaran atau kuntulan dadaran, atau yang biasa disebut dengan kuntulan saja, sudah tidak asing lagi. Ia diminati banyak orang, pertunjukannya selalu disesaki oleh penonton tua-muda. Maklum saja, kuntulan versi baru ini boleh dibilang mewakili ruang batin masyarakat Banyuwangi kontemporer yang terbuka, cair, dinamis dan peka terhadap perubahan.

Tidak banyak yang mencatat memang, bahwa kuntulan sebenarnya memiliki sejarah yang sangat menegangkan. Ibarat sebuah arena, ia adalah ruang tempat berbagai kepentingan dipertarungkan. Ya, kuntulan sebagai arena kontestasi.

Read the rest of this entry »

Posted in Politik Budaya | Leave a Comment »

Nasib Kuntulan di Tengah Desakan Purifikasi Islam

Posted by Mh. Nurul Huda on 1 October 2006

Oleh: Mh. Nurul Huda & Paring Waluyo Utomo

“Kuntulan itu sudah mengarah ke pelanggaran agama dan penyelewengan. Karena sudah jauh diselipi budaya-budaya di luar Islam,” tegas Soecipto, seorang tokoh sebuah tarekat terkenal di Banyuwangi.

Ya, Soecipto adalah salah seorang saja. Salah satu agamawan yang berpandangan negatif dan menolak keras keberadaan seni kuntulan di bumi Blambangan ini. Alasannya, pertunjukan kuntulan membawa maksiat, penuh tabu erotisme dan menodai agama.

Pernyataan keras semacam ini memang kembali menguat akhir-akhir ini. Tidak jelas memang sebab musabab derasnya arus kecaman terhadap salah satu kesenian yang paling dinamis di Banyuwangi ini. Padahal kuntulan yang telah mengalami perkembangan pesat terutama setelah mengalami pendadaran (perluasan) oleh para seniman, dan oleh karenanya sering disebut dengan “kundaran” atau kuntulan dadaran, telah diterima oleh para pendukungnya baik para seniman sendiri maupun penikmatnya yakni rakyat Banyuwangi. Bahkan dalam banyak hal fenomena ini seringkali dipandang sebagai kemampuan kuntulan berdialog dengan tradisi lokal lainnya, seperti gandrung. Meski toh kuntulan versi baru ini menuai kontroversi tersendiri.

Read the rest of this entry »

Posted in Politik Budaya | 1 Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.