Home » Fragmen Budaya di Media Massa » Aliran Kepercayaan, Agama atau Budaya

Aliran Kepercayaan, Agama atau Budaya

Arsip

Koran Tempo, Senin, 27 Nopember 2006

Kiai sepuh Nahdlatul Ulama dari Jember, Jawa Timur, Abdul Muchid Muzadi dan Washil Syarbini, menolak tegas kemungkinan mengakui aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai agama. “Bisa jadi sejarah 1970-an terulang lagi. Jadinya ribut-ribut,” kata Muchid awal November lalu.

Kakak kandung Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi itu menuturkan pemerintah pernah berencana mengakui aliran kepercayaan sebagai agama pada pertengahan 1970-an. Namun, reaksi keras bermunculan. Akhirnya, niat itu surut, lalu pemerintah mengeluarkan kebijakan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara dan instruksi Menteri Agama pada 1978 bahwa aliran kepercayaan bukan agama. “Tapi bagian dari budaya yang harus dibina,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Administrasi Kependudukan Departemen Dalam Negeri A. Rasyid Saleh mengungkapkan pemerintah bersama DPR segera menyelesaikan Rancangan Undang-Undang Administrasi Kependudukan yang mengatur landasan hukum pengakuan aliran kepercayaan dalam pencatatan kependudukan. Penyelesaian RUU ini dilakukan untuk mempercepat pengakuan aliran kepercayaan sebagai agama.

Washil Syarbini mengingatkan, jika Menteri Agama menyetujui aliran kepercayaan menjadi atau setara dengan agama, akan timbul konflik sosial antara pemeluk agama dan aliran kepercayaan. Selama ini, kata dia, pemeluk kepercayaan telah mengakui bahwa keyakinannya hanyalah budaya. “Kalau sekarang pemerintah mau mengakuinya sebagai agama, dasarnya apa? Jangan hanya sekadar untuk kepentingan KTP, kehidupan umat beragama jadi kacau,” ujarnya.

Bagi Muchid, rencana itu merupakan salah satu dampak liberalisasi dalam pemikiran dan kehidupan beragama yang makin marak. Padahal mengakui dan memberikan ruang serta hak bagi pemeluk agama dan aliran kepercayaan untuk melakukan ajaran dan keyakinan masing-masing saja sudah cukup.

Jika pemerintah hanya mempertimbangkan alasan diskriminasi atau hak asasi dalam kehidupan beragama tanpa melihat situasi riil dalam masyarakat, kedua kiai ini menegaskan, hal itu dikhawatirkan malah akan menyulut kontroversi yang berdampak konflik sosial. Sebab, aliran kepercayaan di Indonesia itu banyak macamnya. “Kalau yang satu diakui sebagai agama, yang lain juga minta diakui. Lama-lama kehidupan beragama jadi kisruh,” ungkap Muchid. []

About these ads

5 Comments

  1. flora says:

    ya betul juga.. kl ujung2nya utk urusan KTP. tp knp di KTP ada kolom isian agama? buat apa capek2 nulis? gak njalur to..
    btw, siapa juga yang takut (ketakutan-red) kl aliran2 jd agama? emang knp? why?
    knp jg kehidupan beragama jd kisruh? siapa hayo..yg bikin kisruh?
    prinsip bapak2 yg pinter2 itu kan : “KL BISA DIPERSULIT, KENAPA DIPERMUDAH…” SELAMA BS DIKISRUH…WHY NOT…??

  2. khomang says:

    agama dan budaya adalah satu nafas dalam dunia rohani, sama seperti kita ingin membuat sesuatu, ada yang dipikirkan dan ada yang dilakukan, dengan demikian terwujudlah sesuatu, budaya merupakan sebuah tindakan dari apa yang diyakini atau dipercaya, dan agama menjadi dasar dari pokok-pokok tindakan tersebut, jadi agama adalah landasan hukumnya dan budaya adalah tatanan aturan dalam menjalankan landasan tersebut,…keyakinan untuk menjalankan keduannya itu dinamakan kepercayaan…

  3. kalau kita masing-masing mau menyadari, apa yang sudah diajarkan Tuhan kepada kita melalui para utusannya, tentunya kita tidak perlu merasa khawatir, kita hanya perlu konsen kedalam keyakinan kita saja,…mengarah kepada yang lebih positip.

  4. maman says:

    Saya kira semakin banyak agama di Indonesia, bangsa ini akan semakin meriah, dan kita pun akan saling belajar satu sama lain. Kenapa kita harus takut dengan kehadiran kelompok agama lain? Apakah kita takut kalah bersaing dengan mereka? Itu adalah sikap para pecundang. Seharusnya semakin tinggi ilmu seseorang maka akan semakin luas pandangannya, dan tangannya akan semakin terbuka untuk menerima kelompok agama lain. Jangan mentang-mentang mayoritas seenaknya menindas dan mengatur agama lain. Sudah siapkah kita? saya kira seharusnya kita sudah siap.

  5. asmudin.MH says:

    kalau boleh usul ,coba tampilin makalah pemikiran tentang aliran2 kepercyaan di Indonesia yang kini masih eksis, makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 154,447 hits

Kalender

November 2006
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: