Rumah Indonesia

Membaca Peristiwa dengan Sudut Pandang Beda

Archive for December, 2006

La Condeng

Posted by Mh. Nurul Huda on 30 December 2006

La Condeng:

Potret Kemandirian Seniman Kecapi

Namanya Syarifuddin. Lebih dikenal banyak orang dengan sebutan La Condeng. Tak begitu sulit menemukan rumah seniman kecapi yang satu ini. Hampir semua tukang ojek yang menjual jasa transportasi penghubung jalan besar menuju kampung Tollupoccoe, tempat tinggal La Condeng di Sidrap, mengenalinya dengan baik. Profesinya sebagai seniman yang lihai memainkan kecapi secara apik dan menawan. Membuat namanya berkibar dan akrab di telinga para penikmat kecapi, terutama di beberapa wilayah seperti Sidrap, Pinrang dan juga Enrekang.

Bagaimana tidak. Lihat saja berbagai aktifitas manggungnya, meskipun tak sesering dulu. Selain memenuhi berbagai undangan keluarga, petikan kecapinya belakangan ini mampu membius para pendengarnya di radio swasta Bambapuang Pinrang. Ia juga kerap diundang di acara-acara resmi pemerintah, dalam upacara festival dan kampanye tertentu. Bahkan belakangan ini ia sukses melakukan rekaman kecapi tunggal miliknya.

la-condeng.JPG

La Condeng memang bukan hanya lihai memainkan kecapi. Sehingga dia termasuk beberapa kecil saja seniman di Sidrap yang masih bertahan hidup sampai sekarang. Ia juga kreatif. Cerdik. Pintar menarik perhatian penonton.

Read the rest of this entry »

Posted in Tokoh | Leave a Comment »

Pesantren Kecapi dan Kecapi Pesantren

Posted by Mh. Nurul Huda on 30 December 2006

Oleh: Yasir Alimi

(Kandidat Ph. D ANU Australia)

Pada malam itu, alunan kecapi menggoncangkan pesantren Urwatul Wusqa, Sidrap. Bukan apa-apa, karena letak konser kecapi itu tepat berada di seberang pesantren. Blocking-nya seperti dua santri yang saling menyimak di masjid pesantren. Saling berhadapan, saling belajar. Pimpinan dan ustad pesantren-pun ikut hadir merayakan dan bergembira bersama warga Benteng. Malam itu, santri Urwatul Wusqa yang merupakan diantara pesantren terdepan di Sulawesi Selatan, terhibur. Kiai Imran, sang pimpinan pesantren, Sidrap, mengajak Desantara, memburu arah hentakan-hentakan kecapi itu. Walau usianya yang masih muda, Kiai Imran adalah pemimpin pesantren yang ulet, dinamis, visioner dan berwawasan luas.

Read the rest of this entry »

Posted in Politik Budaya | Leave a Comment »

Nasib Seniman Kecapi dan Perubahan Sosial

Posted by Mh. Nurul Huda on 30 December 2006

Malam mulai larut. Kerumunan orang masih saja memadati halaman depan salah satu rumah warga kampung Benteng, Sidrap. Malam itu Laha, Lihi dan Lahadu, tiga seniman kecapi tunggal ini sedang memperlihatkan kelebihannya. Mereka tengah manggung dalam acara aqiqah dan syukuran masuk rumah baru warga setempat.

Dentingan dan irama yang keluar dari petikan kecapi itu memang serasa membius. Terdengar indah. Nyaring. Dan kadang mendayu-dayu diiringi lantunan lagu-lagu Bugis yang aduhai. Tak selang beberapa lama, lagu-lagu berganti cerita. Mulai dari kisah kepahlawanan sampai cerita sehari-hari yang kerap mengundang gelak tawa. Semuanya dimainkan secara apik, menawan dan sempurna. Tak terlihat kesan bahwa Laha, Lihi dan Lahadu sebenarnya tak memiliki penglihatan sempurna, laiknya orang normal. Kedua mata mereka buta. Namun begitu, ketrampilannya memainkan kecapi sungguh tak meragukan. Benar-benar mengundang decak kagum penonton.

tiga-seniman-kecapi-laha-lihi-lahadu.JPG

Read the rest of this entry »

Posted in Politik Budaya | Leave a Comment »

Pasar Perlu Instrumen Sosial

Posted by Mh. Nurul Huda on 2 December 2006

Kompas, Sabtu, 2 Desember 2006

 

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Jangan Dianggap Beban

 

Jakarta, Kompas – Hiruk-pikuk perekonomian tidak sebatas suku bunga, indeks harga saham, dan investasi. Untuk mencapai kesejahteraan bersama perlu ditanam instrumen sosial dalam kinerja pasar.

Hal itu yang antara lain terungkap dalam diskusi bertajuk “Membangun Ekonomi Pasar Sosial untuk Indonesia: Mungkinkah?” di Jakarta, Jumat (1/12). Diskusi digelar dalam rangka peluncuran buku Karya Lengkap Driyarkara: Esai-Esai Filsafat Pemikir yang Terlibat dalam Perjuangan Bangsanya.

Pendiri Kompas-Gramedia Jakob Oetama dalam sambutannya mengungkapkan, tema pembangunan ekonomi pasar sosial sangat relevan. Katanya, “Saat ini kita sedang mencari dan merumuskan kembali dengan menyesuaikan antara warisan sejarah dan perkembangan global.”

Read the rest of this entry »

Posted in Fragmen Budaya di Media Massa | Leave a Comment »

Islamic Fashion Festival: Keindahan dalam Keberagaman

Posted by Mh. Nurul Huda on 2 December 2006

Kompas, 2 Desember 2006

Keberagaman adalah kodrat. Itu pula yang dimunculkan dalam Kuala Lumpur-Jakarta Islamic Fashion Festival atau IFF, acara bersama antara perancang Malaysia dan Indonesia dalam menampilkan desain busana muslim, di Kuala Lumpur, Malaysia, pekan lalu.

Ada banyak hal ingin dicapai melalui acara yang baru pertama kali diselenggarakan ini. Ketua penyelenggaraan IFF dan pencetus acara, Dato’ Raja Rezza Shah dari Nusantara Gems Malaysia, Wakil Ketua Yenny Zannuba Wahid dari Wahid Institute Indonesia, dan Presiden Direktur Metro Department Store Christine Barki sebagai sponsor, menyebut aspek ekonomi, mempromosikan keberagaman, dan menunjukkan keindahan Islam sebagai motivasi penyelenggaraan IFF.

Read the rest of this entry »

Posted in Fragmen Budaya di Media Massa | Leave a Comment »

Festival Tradisi Lisan 2006

Posted by Mh. Nurul Huda on 2 December 2006

Kompas, Sabtu, 2 Desember 2006

Jakarta, Kompas – Rangkaian kegiatan Festival Tradisi Lisan Nusantara 2006, Jumat (1/12) malam, dibuka oleh Direktur Jenderal Film, Seni Budaya, dan Tradisi Sri Hastanto, yang mewakili Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik.

Ditandai penampilan seni tradisi HoHo dari Nias, Sumatera Utara, Makyong dari Kelantan, Malaysia, dan Ketoprak Terutuk dari Semarang, Jawa Tengah, Festival Tradisi Lisan Nusantara ini akan berlangsung hingga Minggu besok. Sebelum acara pembukaan berlangsung, undangan terlebih dahulu disambut seni pertunjukan pantun dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, serta Hudoq dan Nelui dari Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Read the rest of this entry »

Posted in Fragmen Budaya di Media Massa | Leave a Comment »

Jutaan Anak Tidak Punya Akta Lahir

Posted by Mh. Nurul Huda on 2 December 2006

Kompas, 2 Desember 2006

Politik Negara Dipertanyakan

Jakarta – Politik negara dalam melindungi hak-hak anak dipertanyakan. Rancangan Undang-Undang Administrasi Kependudukan yang rencananya disahkan DPR dan Pemerintah 7 Desember 2006 mempersulit semua anak mendapatkan akta lahir.

Pasal-pasal dalam RUU Adminduk tak lagi mewajibkan pemerintah memberi pelayanan akta kelahiran gratis seperti tertuang dalam UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

Diperkirakan, sedikitnya ada 15 juta anak Indonesia yang tidak bisa mendapatkan akta kelahiran karena secara ekonomi tak mampu. Atas dasar itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia Magdalena Sitorus, Ketua Gerakan Perjuangan Antidiskriminasi Ari Masyhuri, dan Pelaksana Proyek Perlindungan Anak Unicef Luky Lumingkewas mendesak DPR dan Pemerintah memperbaiki RUU sebelum disahkan. “RUU ini akan menjadi kemunduran dan merugikan jutaan anak,” kata Ari Masyhuri, Jumat (1/12).

Read the rest of this entry »

Posted in Fragmen Budaya di Media Massa | Leave a Comment »

Nicolaus Driyarkara

Posted by Mh. Nurul Huda on 1 December 2006

Kompas, 1 Desember 2006

Sumbangsih untuk Bangsa Ini
Oleh: St. Sularto

Pendapat dan nama Driyarkara, lengkapnya Prof Dr Nicolaus Driyarkara SJ (1913-1967), sering dikutip. Pikiran dan gagasan Driyarkara membuat orang berdecak kagum. Sayang warisan itu umumnya hanya menjadi pemanis tulisan, pidato, dan ceramah. Sedikit saja yang mau membaca secara lengkap karya-karya Driyarkara.

Menurut F Danuwinata SJ, salah seorang murid setianya, Driyarkara memang tidak pernah menulis buku. Dia tidak meninggalkan satu pun karya utuh komprehensif tentang satu persoalan.

Kalau mau disebut sebagai “buku”, mungkin tulisan tentang filsafat Malebranche, disertasi untuk memperoleh gelar doktor ilmu filsafat dari Universitas Gregoriana, Roma, tahun 1952. Disertasi itu berupa manuskrip setebal 300 halaman ditulis dalam bahasa Latin klasik. Naskah asli disimpan di Roma, tetapi tahun 1954 terbit versi ringkasannya setebal 40 halaman.

Read the rest of this entry »

Posted in Tokoh | 2 Comments »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.