Home » Fragmen Budaya di Media Massa » Islamic Fashion Festival: Keindahan dalam Keberagaman

Islamic Fashion Festival: Keindahan dalam Keberagaman

Arsip

Kompas, 2 Desember 2006

Keberagaman adalah kodrat. Itu pula yang dimunculkan dalam Kuala Lumpur-Jakarta Islamic Fashion Festival atau IFF, acara bersama antara perancang Malaysia dan Indonesia dalam menampilkan desain busana muslim, di Kuala Lumpur, Malaysia, pekan lalu.

Ada banyak hal ingin dicapai melalui acara yang baru pertama kali diselenggarakan ini. Ketua penyelenggaraan IFF dan pencetus acara, Dato’ Raja Rezza Shah dari Nusantara Gems Malaysia, Wakil Ketua Yenny Zannuba Wahid dari Wahid Institute Indonesia, dan Presiden Direktur Metro Department Store Christine Barki sebagai sponsor, menyebut aspek ekonomi, mempromosikan keberagaman, dan menunjukkan keindahan Islam sebagai motivasi penyelenggaraan IFF.

“Kami ingin tunjukkan, Islam tidak seperti yang digambarkan media Barat sebagai tempat terorisme dan kekerasan. Dengan IFF kami perlihatkan Islam adalah keindahan,” kata Rezza Shah yang kerap menyelenggarakan acara keagamaan di Malaysia, termasuk lomba baca Al Quran untuk mualaf.

Yenny Wahid menekankan, keberagaman yang merupakan kodrat manusia dan telah dijalani masyarakat Indonesia sepanjang sejarahnya juga muncul di dalam busana. Pada masyarakat dengan tradisi Islam di berbagai daerah di Indonesia, busana dipengaruhi budaya setempat.

“Menurut saya, busana muslim intinya adalah kepantasan yang normanya sesuai dengan budaya setempat. Bukan lalu berpakaian seperti orang Arab yang berbeda budaya dan geografinya. Kita lihat, ibu-ibu kita memakai kebaya kurung dengan kerudung, kan dianggap pantas dalam budaya kita,” kata Yenny.

“Tidak semua perancang yang ikut dalam IFF adalah Muslim, ini untuk menunjukkan toleransi di dalam Islam,” kata Rezza Shah. Dia menambahkan, “Di dalam Al Quran tidak ada aturan pasti, yang diberikan adalah petunjuk umum (guideline) untuk menutup aurat. Orang berbeda-beda mengenai menutup aurat, acara ini memberi banyak pilihan busana muslim.”

Rancangan beragam

IFF kali ini diadakan sebagai bagian dari Malaysian International Fashion Week di Kuala Lumpur Convention Center. Selanjutnya, IFF diadakan bergantian di Kuala Lumpur dan Jakarta. Yenny Wahid sebagai anggota Dewan IFF dari Indonesia bersama Titik Soeharto, Tati Bakrie, dan Christine Barki, merencanakan enam bulan lagi Jakarta jadi tuan rumah IFF. Di Malaysia, istri Deputi Perdana Menteri, Datin Rosmah Mansor, sebagai patron kegiatan ini.

IFF diikuti 17 perancang dan rumah busana. Dari Indonesia ada Ida Royani, Herman Nuari, Iva Lativah, Erni Kosasih, Ramli, Itang Yunasz, Ghea Panggabean, Samuel Wattimena, dan Sebastian Gunawan. Malaysia mengikutkan perancang Tom Abang Saufi, Kapas Couture, Carven Academy of Fashion, Radzwan Radziwill, Melvin Lam, Rozi dari Kraftangan Malaysia, dan Bernard Chandaran. Dari Pakistan ada Deepak Perwani yang merancang busana laki-laki.

Seusai IFF yang dihadiri Permaisuri Agung Tuanku Fauziah binti Almarhum Tengku Abdul Rashid dan dibuka Datin Rosmah Mansor, dalam jamuan minum teh bersama Permaisuri Agung Fauziah dan Datin Rosmah Mansor dilelang busana karya Sebastian Gunawan dan Studio 133 dari Biyan Wanaatmadja dengan sponsor Metro Department Store. Hasil lelang disumbangkan untuk Yayasan Harapan Kanak-kanak Malaysia pimpinan Datin Rosmah Mansor.

IFF memperlihatkan keragaman busana muslim. Karena ditempatkan sebagai mode, desainnya menampilkan kekinian. Tutup kepala ada yang rapat, tetapi ada juga berupa selendang yang disampirkan.

Tom Abang Saufi, misalnya, menampilkan gaya sportif yang muda dengan rok balon dipadu celana berpipa sempit. Sebastian Gunawan dengan tema “Eastern Rendez Vouz” membuat gaun kemeja dengan rok bervolume dipadu celana pipa sempit mengikuti mode saat ini. Sementara perancang yang diunggulkan di Malaysia, Bernard Chandran, mendapat inspirasi dari cara berbusana perempuan di Jazirah Arab yang mengenakan abaya di bagian luar, sedangkan di baliknya mereka memakai gaun yang sangat mengikuti mode.

Studio 133 menampilkan sifon berlapis dengan sulam bebungaan atau gaun baju sifon bersiluet kebaya dengan baju dalam sutra tebal lengan panjang sebagai pakaian dalam.

Prospek ekonomi

IFF juga memiliki ambisi dalam bidang ekonomi, yaitu meluaskan pasar busana muslim. Selama 10 tahun, Asosiasi Perancang Pengusaha Muslim Indonesia (APPMI), menurut Ida Royani yang anggota APPMI, tiap tahun membuat pergelaran busana muslim sebagai bagian Fashion Tendance APPMI.

“Pasar busana muslim merupakan pasar yang besar, bukan hanya Indonesia atau Malaysia, tetapi juga dunia. Kenapa mode selama ini selalu mengikuti Barat, bagaimana dengan dunia Muslim yang beragam. Islam itu tidak sama dengan Arab, begitu pula pakaiannya,” kata Yenny.

Christine Barki menekankan peluang meningkatkan perdagangan produk Indonesia ke negara-negara Muslim sebagai motivasi. “Kita punya banyak produk yang bagus dan dibuat oleh perancang dan tenaga kerja yang terampil dan berbakat. Pergelaran ini menjadi sarana mempromosikan karya Indonesia ke dunia internasional,” ungkapnya. [Ninuk Mardiana Pambudy]

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 154,905 hits

Kalender

December 2006
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: