Posted by Mh. Nurul Huda on 30 August 2007
Source: Kompas, Jumat, 24 Agustus 2007
Oleh Antonius Ponco Anggoro
Kugali hatiku dengan linggis alif-Mu Hingga lahirnya mata air Jadi sumur, jadi sungai, jadi laut, jadi samudra dengan gelombang, mengerang menyebut alif-Mu Hompimpa…hompimpa…hompimpa Hidupku, matiku, nasibku
Puisi berjudul Zikir karya budayawan Zawawi Imron yang dibuat tahun 1981 itu dibacakan Zawawi dengan penuh penghayatan hati di hadapan korban lumpur Lapindo yang masih mengungsi di Pasar Baru Porong, Sidoarjo, Kamis (23/8). Suatu puisi yang singkat, padat, tetapi penuh makna. Read the rest of this entry »
Posted in Fragmen Budaya di Media Massa | Leave a Comment »
Posted by Mh. Nurul Huda on 30 August 2007
Hasil Keputusan Bahtsul Masail Lintas Iman
Tentang Lumpur Lapindo
Pasar Baru Porong, 22 Agustus 2007

1. (Soal): Apakah dibenarkan bila pemberian uang oleh Lapindo terhadap masyarakat yang menjadi korbanya diperlakukan sebagai sebuah akad jual beli yang karenanya masyarakat korban dianggap sebagai penjual harus melengkapi syarat-syarat sebuah akad jual beli kepada Lapindo (dianggap sebagai pembeli), padahal faktanya adalah bahwa masyarakat kehilangan harta bendanya karena ulah Lapindo dan mereka meminta ganti rugi atas hilangnya harta benda tersebut?. Read the rest of this entry »
Posted in Pernyataan | Leave a Comment »
Posted by Mh. Nurul Huda on 24 August 2007
Jumat, 24 Agt 2007
Pengungsi Diteror SMS, Zawawi Imron pun Menangis
Kondisi pengungsi korban lumpur di Pasar Porong Baru (PPB) mengundang simpati dan empati para budayawan. Mereka prihatin. Selain jadi korban banjir lumpur, pengungsi juga jadi alat untuk mencari keuntungan.
THORIQ S. KARIM, Sidoarjo
Para budayawan tersebut datang ke pengungsian PPB kemarin (23/8). Mereka, antara lain, penyair berjuluk Celurit Emas D. Zawawi Imron, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), dan Acep Zam Zam Noer, pengasuh Ponpes Cipayung, Tasikmalaya, Jawa Barat. “Saya tidak tega melihat semua ini. Mereka harus menanggung penderitaan karena sifat serakah beberapa orang,” ujar Acep.
Dia menilai, penyebab bencana lumpur adalah perilaku serakah. Bahkan, perilaku serakah itu pun dilakukan orang-orang yang mengambil keuntungan di atas bencana dan penderitaan para korban tersebut. “Banyak yang menjadikan ini sebagai ajang mengumpulkan harta. Itu fenomena yang terjadi,” ungkap Acep. Read the rest of this entry »
Posted in Fragmen Budaya di Media Massa | Leave a Comment »
Posted by Mh. Nurul Huda on 22 August 2007
Warga korban lumpur Lapindo yang selama ini terus menuntut hak-haknya tak berjuang sendirian. Mereka yang sebagian besar mengungsi di Pasar Baru Porong Sidoarjo ini juga memperoleh dukungan dari kalangan seniman. Dukungan itu disampaikan lewat pentas sejumlah kesenian seperti komunitas jaranan, band indie asal Surabaya dan pagelaran ludruk.
Kemarin siang, Selasa 21 Agustus, sekitar pukul 10.00 WIB, Paguyuban Seni Jaran Kepang Condro Budoyo asal Malang menghibur warga korban di sekitar Porong. Tak henti-hentinya mereka menampilkan atraksi memikat yang mengundang decak kagum penonton.
Selain kesenian tradisonal Jaranan, kaum muda yang tergabung dalam band indie Surabaya Plat L dan Shaga ikut tampil menghibur dan menyemangati warga korban lapindo Porong. Selain menyanyikan lagu-lagu popular seperti lagu gebyar-gebyar milik almarhum Gombloh, mereka juga membawakan lirik-lirik lagu bernuansa kritik sosial. Tak jarang di tengah-tengah jeda para vokalis band indie ini meneriakkan dukungannya kepada warga korban Lapindo agar tetap bersemangat dan tak pantang menyerah.
“Kami putra-putri warga korban lumpur Lapindo bersumpah, berbahasa satu bahasa anti penindasan,” teriak vokalis Red Line Band lantang dan diikuti serentak oleh muda-mudi warga korban. Penampilan band indie berakhir pukul 19.00 WIB menjelang tampilnya Grup Ludruk Polma Malang. Read the rest of this entry »
Posted in Politik Budaya | Leave a Comment »
Posted by Mh. Nurul Huda on 22 August 2007
Jawa Pos, Selasa, 21 Agt 2007
SIDOARJO – Pasar Porong Baru kian ramai pertunjukan. Penampungan pengungsi korban lumpur itu didatangi aneka elemen dari berbagai daerah yang menamakan diri Gerakan Bersama Rakyat untuk Korban Lapindo (Gebrak Lapindo). Gabungan elemen itu akan mengadakan serangkaian pertunjukan sebagai kepedulian kepada korban lumpur.
Ada pertunjukan barongsai, musik indie, ludruk, musik al banjari, wayang kulit, sampai lawak. Menurut Inung, koordinator aksi, kegiatan tersebut merupakan ungkapan rasa solidaritas untuk warga korban yang masih berada di pengungsian. “Aksi ini kami selenggarakan selama empat hari sebagai bentuk rasa kebersamaan kami dalam merasakan penderitaan warga di pengungsian,” kata Inung kemarin (20/8). Read the rest of this entry »
Posted in Fragmen Budaya di Media Massa | Leave a Comment »
Posted by Mh. Nurul Huda on 21 August 2007
Warga pengungsi di Pasar Baru Porong tidak melulu tenggelam dalam kesedihan. Mereka terus menyuarakan hak-haknya yang dirampas dan tetap memompa semangat melalui panggung pagelaran kesenian tradisional rakyat.
Siang kemarin, Senin, 20 Agustus, misalnya, warga pengungsi dihibur oleh penampilan Grup Barongsai Dragon milik Pendeta Nugroho, di Sidoarjo. Penampilan Barongsai ini juga diselingi dengan happening art berupa sosok patung kepala Aburizal Bakrie, pejabat pemerintah dan Lapindo yang telah menyengsarakan warga korban lumpur Lapindo dan tidak bertanggung jawab memenuhi kewajiban mereka memberi ganti rugi “cash and carry” kepada para korban. Setelah sosok-sosok ini dikejar-kejar oleh ular Barongsai, lalu kepala mereka dibentur-benturkan di atas tanah sebagai balasan terhadap para penindas rakyat dan korban lapindo. Read the rest of this entry »
Posted in Politik Budaya | Leave a Comment »
Posted by Mh. Nurul Huda on 21 August 2007
Inilah uniknya bila ketoprak mentas di arena pengungsian korban lumpur Lapindo, Porong, Sidoarjo. Malam kemarin, Senin, 20 Agustus, pukul 20.00 WIB, di tengah-tengah pagelaran grup ketoprak Ganesa Tiwikrama asal Kota Kediri, yang berlakon “Sayembara Joko Baru Klinting” ini perwakilan korban menyampaikan unek-uneknya kepada pemerintah.
Salah seorang pengungsi menceritakan bagaimana dirinya dan sejumlah tetangga desanya dulu dibohongi oleh kepala desanya mengenai pembelian tanah yang kini dimanfaatkan untuk pengeboran gas milik Lapindo itu.
“Dulu katanya tanah itu dibeli untuk keperluan ladang peternakan. Eh, ternyata untuk pengeboran gas. Kami merasa dibohongi. Sekarang malah kejadiannya seperti ini,” ujarnya. Read the rest of this entry »
Posted in Politik Budaya | Leave a Comment »
Posted by Mh. Nurul Huda on 21 August 2007
Tepuk tangan meriah bukan hanya mewarnai pembacaan naskah “Proklamati” dalam upacara pembukaan Aksi Bersama Korban Lapindo, Gebrak Lapindo, pagi kemarin, Senin, 20 Agustus 2007. Pidato sambutan inspektur upacara yang dibacakan Ahmad Zainul Hamdi yang akrab dipanggil Inung juga tak kalah riuhnya memperoleh sambutan tepuk tangan warga.
Inung yang juga koordinator Bahsul Masta’il dan Doa Bersama Lintas Iman, Gebrak Lapindo, dalam pidatonya menganalogikan kejahatan Lapindo dengan kejahatan penjajah Belanda. Menurut Inung, bila Diponegoro, pahlawan nasional kita, melawan Belanda karena penjajah itu telah merampas tanah makam leluhurnya, maka Perusahaan Lapindo Brantas, Inc. yang dikendalikan oleh keluarga Bakrie telah merampas tanah dan tempat tinggal warga Porong Sidoarjo.
“Maka sebenarnya Lapindo itu lebih kejam, dan karena itu harus terus kita lawan,” teriak Inung. Read the rest of this entry »
Posted in Politik Budaya | 2 Comments »
Posted by Mh. Nurul Huda on 21 August 2007
Setelah melalui persiapan matang, Aksi Bersama Korban LAPINDO yang rencananya berlangsung selama 4 hari, 20-23 Agustus 2007, siang kemarin, Senin, 20 Agustus sekitar pukul 10.10 WIB dibuka dengan rangkaian acara Opening Art. Pembukaan yang dibungkus dalam upacara bendera yang amat sederhana itu dihadiri oleh ratusan warga korban lapindo yang terdiri dari para ibu, bapak, dan anak-anak yang sebagian terlihat dalam gendongan ibunya atau berada di atas pundak bapaknya. Sejumlah aktifis yang tergabung dalam Gerakan Bersama Rakyat untuk Korban Lapindo (Gebrak Lapindo) juga terlihat dalam barisan upacara yang diselenggarakan di lokasi pengungsian Pasar Baru Porong, Sidoarjo itu.
Dalam upacara yang berlangsung di bawah sengatan panas matahari, selain dikibarkan bendera merah putih setengah tiang juga dikumandangkan naskah proklamasi versi warga pengungsi, “Proklamati”, yang dibacakan oleh Purwanto yang juga sering dipanggil Gus Pur, salah seorang pengungsi. Dengan suara lantang dan penuh semangat, Gus Pur dengan tangan bergetar membacakan naskah “Proklamati” dan ditirukan seluruh peserta. Berikut ini naskahnya:

PROKLAMATI
Kami Bangsa Indonesia Korban Lumpur Lapindo dengan ini menyatakan dalam keadaan belum merdeka. Hal-hal mengenai pembayaran ganti rugi diselenggarakan dengan cara yang tidak seksama dan dalam tempo yang dilambat-lambatkan.
Porong, 20 Agustus 2007
Atas nama sebagian bangsa Indonesia
Gus Pur
Read the rest of this entry »
Posted in Politik Budaya | 1 Comment »