Politik (Ruang) Perempuan PMII
Posted by Mh. Nurul Huda on 10 April 2008
“Teman-teman perempuan menangis terisak, saat mendengar KOPRI diputuskan menjadi badan semi-otonom,” kata Desilawati, teman saya, yang juga anggota KOPRI asal DKI Jakarta.
“Nampak sekali mereka kecewa,” demikian lanjutnya dalam sebuah pembicaraan via telpon sekitar dua minggu usai Kongres Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Kota Batam, Propinsi Riau. Meskipun dalam beberapa diskusi ringan mengenai KOPRI (Korp PMII Putri) saya seringkali berbeda pendapat dengannya, Desi, sejauh pengetahuan saya, adalah salah seorang kader perempuan PMII yang punya integritas. Justru karena berbeda, dan terutama karena integritasnya, itulah saya menghargainya dengan tanpa syarat.
Saya sendiri tidak menghadiri perhelatan Kongres yang akhirnya memilih Sahabat Rodli Kaelani sebagai ketua umum itu, karena menyadari diri bukan bagian dari orang penting di tubuh organisasi mahasiswa muslim progresif ini. Tapi sikap acuh tak acuh semacam ini sebenarnya membuat saya merugi lantaran tidak memahami secara detil argumentasi di balik keputusan strategis soal KOPRI di atas. Satu-satunya alasan dominan yang terdengar adalah bahwa perjuangan kesetaraan perempuan sudah paripurna, setidaknya sudah maju sekian puluh langkah, bila pemisahan domain kader PMII putra dan kader PMII putri telah didekonstruksi. Pembedaan hanyalah ekspresi cara berpikir yang diskriminatif. Begitu kata sebagian mereka.
Sejauhmanakah argumentasi ini bisa dipertanggungjawabkan dalam konteks strategi gerakan perempuan ke depan, dan KOPRI pada khususnya? Esei pendek ini dimaksudkan untuk memeriksa hal tersebut.
Hampir semua aktifis perempuan sudah mafhum, bahwa gerakan perempuan adalah fenomena umum dari gejala maraknya berbagai gerakan sosial baru yang tumbuh sejak pertengahan abad lalu. Ia adalah respon dari kebuntuan gerakan Kiri Lama yang terkurung dalam politik kelas yang berakibat pada sikap acuh tak acuh terhadap realitas penindasan di dalam sub-sub kelas, seperti yang menimpa komunitas kulit hitam dan kaum perempuan. Maklum saja, bagi Kiri Lama hanya ada dua kelas, kelas kapitalis sebagai kelompok penindas, dan kelas proletar sebagai kelompok tertindas. Dalam pandangan mereka (berbagi dengan Liberalisme, Kiri Lama masih menganut keyakinan rasionalitas Pencerahan yang meyakini “kemanusiaan yang sama dan universal”), kelas yang telah disebut terakhir ini adalah satu-satunya agen universal yang menjadi motor perubahan.
Refleksi semacam ini lahir di Eropa, sementara realitas peminggiran dan diskriminasi terhadap kaum perempuan adalah fenomena yang hampir merata di belahan dunia. Justeru karena dalam setiap refleksi bersifat partikular, parsial dan selalu ada jarak renggang dengan kenyataan, maka setiap basis dasar pengandaian dari sebuah refleksi mesti ditatap dengan mata kritis dan terbuka. Apakah universalitas manusia –yang acuh tak acuh terhadap realitas diskriminasi dan peminggiran berdasarkan perbedaan budaya, agama, etnik, dan jenis kelamin, atau katakanlah perbedaan konteks struktur dasar masyarakat– adalah pengandaian yang cukup memadai sebagai basis gerakan kesetaraan kaum perempuan?
Di kalangan feminis progresif, dalam struktur dasar masyarakat yang patriarkis, kesetaraan universal adalah ilusi. Dan gerakan perempuan seyogyanya tidak lahir dari sebuah ilusi semacam itu. Gerakan perempuan harus lahir dari basis dasar kenyataan sosial yang konkrit. Kenyataan itu adalah perbedaan. Perbedaan budaya, mode ekonomi, nilai religi, kekuatan fisik, aspek psikologis dan biologis, dan seterusnya. Bukan perbedaan yang diingkari dan didiskriminasi, melainkan perbedaan yang dihargai dan dalam konteks yang bersifat relasional. Di dalam politik perbedaan, butuh suatu strategi: politik ruang. Ruang yang didominasi oleh laki-laki tak banyak yang bisa diharapkan, baik akomodasi suara maupun sumberdaya. Ini realitas, bukan pengandaian. Berdasarkan alasan itu pula, kira-kira, dulu, Kiri Lama yang sudah impoten dan lesu itu harus menggantikan pandangan kelas universalnya dengan gerakan-gerakan sosial baru berbasis perbedaan. Dan Kiri Lama bermetamorfosis menjadi Kiri Baru. Lalu bagaimana dengan PMII?
Mari kita kembali pada hasil keputusan Kongres PMII yang lalu. Kita bisa menganalogikan mahasiswa muslim PMII sebagai kelas universal. Di dalam universalitas semacam itu perempuan tak dihitung, dan nampaknya memang kurang diperhitungkan. Apalagi menyangkut hal ikhwal problem perempuan, posisinya dan bagaimana gerakannya. That’s all almost unthinkable.
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Perempuan PMII “dikandangkan” dalam kesatuan, “universalitas” yang bernama PMII. Dalam konteks politik ruang, perempuan PMII kalah. Skor 0-2. Satu untuk defisit basis pengetahuan, dan satu lagi untuk defisit perjuangan politik (ruang). Ini baru di dalam PMII, bagaimana halnya dengan defisit-defisit lain perempuan PMII dihadapan berbagai gerakan perempuan lokal, regional bahkan global?
Oleh karena itu, untuk mengatasi dua defisit itu perkenankanlah saya mengusulkan agar KOPRI menjadi badan otonom. Tentu saja usulan ini disertai dengan beberapa alasan. Pertama, agar gerakan KOPRI terhindar dari pengandaian kesetaraan yang ilusif, dan akhirnya jatuh ke dalam pilihan-pilihan posisi yang artifisial dan mudah dimanipulasi. Kedua, agar identitas keperempuanan tidak begitu saja larut tenggelam dalam segala hiruk pikuk wacana internal dominan. Dan ketiga, proses-proses negosiasi gagasan dan gerakan kader perempuan sebagai “kelompok-gerakan”, hemat saya, akan lebih kuat dan kokoh ketimbang bersifat individual dan non-identitas, baik dalam internal kelembagaan PMII maupun dengan pihak eksternal. Cara berpikir macam ini biasanya sering disebut sebagai “esensialisme-strategis”.
Mudah-mudahan uraian yang amat pendek ini bisa menjadi pertimbangan di masa mendatang, agar perempuan PMII lebih mampu berkonsentrasi menggarap wacana (teori plus praktek) dan gerakan perempuan dunia ketiga (poskolonial dan multikultural) yang hingga kini nampak masih terseok-seok keteteran.
Jadi, buat perempuan PMII, masih ada waktu. Segera usaplah air matamu, dan kembali singsingkan lengan baju … []
sahabat88 said
pmii ya masss…
maju terus dukung syariat islam…
terima kasih infonya..
sangat bermanfaat
caklul said
mosok sih pak…
dadi, piye?
Mh. Nurul Huda said
Halo kang sahlul, esei ini udah aku kirim ke redaksi PMII online, dg harapan bisa jadi perdebatan di internal, tp sayang, aku cek ga dipublish juga
ya mau gmana lg?
Kalo gagasan ini mmng penting dan dirasa penting oleh teman2.. ya digelindingkan saja diskursusnya… baru kongres 2 thun yg akan datang diformalkan.
hairus salim said
hei bung…mbok aq minta kopi skripsimu ttg bikhu parekh itu???
Mh. Nurul Huda said
oh iya.. pasti ntar aku kirim, mas
nia said
hmm…Kopri dijadikan semi otonom??? kenapa harus menangis??? apa yang harus ditakutkan???
status otonom atau semi otonom, sebenarnya menurutku tidak menjadi substansi pembatas gerakan temen2 perempuan di PMII.
mas huda menarik ke teori2 feminis, yang menurutku…gubrakk-gubrakkkk….tai ah teori!!
sejak dulu anak2 perempuan semarang ga pernah bingung ama status semi otonom kek, otonom kek…itu yang kebakaran jenggot ya, yang kebakar jenggotnya…ha ha ha
yang jadi pembatas itu menurutku ya soal :
1. emang bener bergerak? atau…cuman gerak-gerik…jangan-jangan hanya garuk-garuk
2. jangan hanya kebanyakan omong kalo mau bergerak…ngeeemeenngg terus dua tahun tiga tahun…kapan bergeraknya???
kUAliTas Broooowwwwwwwwww……bukan ngeeemmmeeeeeeeennnggg teruzzzzzz
nia said
eiitt..kufikir lagi, itu commentnya ada yang ga pas….., jangan marah ya mas huda…smalem ngantuk sih, ga terlalu mikir2.
btw, terimakasih banget dah berbagi manfaat.
Mh. Nurul Huda said
Nia yang baik,
Kita slow aja. sebenarnya inti esei itu diparagraf 10. Tapi sebelum mengajukan sebuah usulan, tentu saya harus berangkat dari wawasan yang sdh ada. Yakni argumentasi/pengandaian teman2 soal mengapa PMII dan Kopri harus “dilebur”, dan sejauhmana pengandaian mereka bs dipertanggungjawabkan, serta nilai strategisnya dimana.
Nah berdasarkan pemeriksaan saya, argumentasi teman2 itu saya anggap patah di tengah jalan. Minimal dipandang dari diskursus gerakan keperempuanan belakangan ini. Kalo dipandang terlalu teoritik ya maaf banget. Yang saya tahu sejak MAPABA dulu, saya selalu didorong untuk membuat argumentasi dari setiap gagasan yang mau kita ajukan, entah teori maupun riset lapangan. Tetapi esei saya mungkin diliat terlalu teoritik ya, jadi minus riset gerakan KOPRI Semarang. Maklumlah, saya tidak banyak tahu soal KOPRI Semarang. Yg saya tahu Nia salah satu produk Semarang itu… hehehe..
Soal mengapa gerak bisa menjadi gerak gerik dan garuk2 itu, implisit dalam paragraf2 sebelumnya, dan paragraf sebelum akhir, saya ingin memancing tentang something unthinkable di kita. Tentang diskursus gerakan perempuan yang “KOPRI banget gitu loh..”. Apa jelasnya, itu yg perlu didiskusikan, bukan?! Saya yakin, dalam diskusi semacam ini masih penting “teori tai ah” itu. Paling ngga untuk memperkaya visi KOPRI macam apa yang hendak dibangun dimasa mendatang. Saya pernah membaca kalimat begini:
“Vision without action is just a dream. Action without vision is just wasting time. And Vision with action can change the world”. Nggak usah di dunialah, KOPRI cukup di Indonesia saja..
Ciaooo….
infogue said
Artikel di Blog ini bagus dan berguna bagi para pembaca.Anda bisa lebih mempromosikan artikel anda di Infogue.com dan jadikan artikel anda topik yang terbaik bagi para pembaca di seluruh Indonesia.Telah tersedia plugin/widget.Kirim artikel dan vote yang terintegrasi dengan instalasi mudah dan singkat.Salam Blogger!!!
http://www.infogue.com/
http://www.infogue.com/masalah_politik/politik_ruang_perempuan_pmii/
PUSPeK Averroes said
halahh akhirnya ketemu di sini… piye kabare mas
Mh. Nurul Huda said
baik, alhamdulilah. Rian gmna kbarnya, n temen2 di Averroes?
Ainur Rohman said
Sugeng mampir. Postingan selanjutnya aku tunggu mas. Tulisannya koq mellow terus mas…
heruyaheru said
nice blog
wong ndeso said
wah…bagus sekali diskusinya yah…., salam….
Wong Ndeso Bodho
hani said
hai. salam kenal. kontak2 donk. hpku 081331607420
yaqon said
prempuan PMII tak akan pernah usang, Maju terus perherakan
wafa said
mas aku sih tidak setuju bila kopri di hapus, karena termasuk banyuwangi kekurangan kader perempuan
heruyaheru said
sisingkan lengan baju, hehehe…asyik juga membanyangkan anak-anak pmii perempuan menyingsingkan lengan baju…hehe
Ronald J Warsa said
Saya sepakat sekali dengan pendapat Mas, di paragraph terakhir. Dimana perempuan PMII hendaknya mampu berkosentrasi menggarap wacana dan teori praktek, terlebih kemudian Perempuan PMII seperti antipati dengan poskolonial dan multikultural. Dan sangat keteteran dalam banyak hal yang bertujuan untuk memperjuangkan tujuan besar.
Hal ini terlihat dimana PMII Putri sangat canggung untuk mau terjun ke akar rumput dan mau bermandikan lumpur. Kenyataan ini diperparah kader perempuan PMII sangat terlihat primordial banget. Ada yang patut disayangakan jika ada perempuan yang berani terjun dalam wacana yang seharusnya mereka kuasai dan praktekkan. Tetapi perempuan tersebut malah menjadi musuh bagi sahabati-sahabati PMII, nah kesadaran persamaan dalam memperjuangkan hal dasar ini menurut saya yang harus direntangkan kembali. Pilihannya sanggupkah Sahabat2I rela kepanasan, kehujanan, serta menantang pola mainstream yang kadung menjadi pemebenaran. Salam kenal sebelumnya SAM! main-main di http://www.sungaimahakam.com
ANTON HILMAN said
ASSALAMUALAIKUM
SALAM PERGERAKAN, SALAM DEMOKERASI,
SAHABAT , JAGAN MENANGIS , INGATLAH BUKTIKAN BAHWA ENTE MAMPU BANGKIT, 2010 REBUT PB PMII OLEH SAHABATI, KALAU ANDA MAMPU
ANTON HILMAN said
SALAM BUAT SEMUA . BY PC PMII OKU. JANGAN LUPA CONTAK SAHABAT2 DI OKU KALO ADA AGENDA. OKE
abu al hasan said
sudah saatnya sektarianisme dihapuskan. menjadi kita tambah tersekat sekat. dulu sekat HMI dan PMII. lha ini yang aneh, khususnya di jawa timur. kabeh sama amalan dan wiridannya. sekat ini pula yang membikin kita pribadi tidak cukup mampu mengenal para sedulur di PMII Putri yang ternyata cakep cakep dan cerdas ! he he he
Salam kepada semua mantan Ketua PB PMII Putri. terutama yang sekarang lagi maju jadi caleg DPR dari dapil Jawa Timur.
Buat teman-teman PMII Kota Malang, apa kabarmu sobat ?
ketua kopri pmii semarang said
@nia: stuju buangetsssss. dari dulu ko ngomong struktuuuuuuur terus. actionnya mana????? jangan-jangan pmii ga bergerak2 ya karena selalu memperdebatkan hal-hak teknis begitu ya? ngomong2 semarnganya mana ya sahabati nia? kita sependapat dalam hal ini. kalo berminat hubungi di emailku atao fbku ya. alamatnya rinrintin_vokal@yahoo.co.id.