Rumah Indonesia

Membaca Peristiwa dengan Sudut Pandang Beda

Archive for the ‘Fragmen Lain’ Category

Catatan Ringan usai menonton film “Merantau”

Posted by Mh. Nurul Huda on 10 August 2009

“Gila!…Luar biasa filmnya, saya benar-benar nggak rugi,” kata teman saya berdecak puas usai menonton film Merantau di Depok Town Square. Saya pun tak mengelak. Sore itu lebih separoh kursi dalam studio 2 bioskop 21 nampak penuh, dan terlihat wajah-wajah penonton yang kebanyakan muda mudi di sebelah kiri dan kanan saya berbinar sambil sedikit menahan haru meninggalkan ruangan.

FIlm olahan sutradara asal Inggris Gareth Evans ini, menurut saya, paling bermutu di antara film laga nasional yang pernah ada. Merantau menampilkan seni beladiri silat harimau asal Minang, Sumatera Barat yang digarap secara ciamik nan memukau. Judul ‘Merantau” sendiri diambil dari tradisi merantau anak muda Minang yang pergi ke tanah seberang untuk mencari jatidirinya. Konon, Merantau telah diputar sebagai film penutup di ajang Puchon International Fantasy Film Festival (Pifan) 2009 di Bucheon, Korea Selatan, dan memperoleh applause dari masyarakat di sana.

Sepenuhnya saya setuju pendapat banyak orang bahwa bila semakin banyak film bermutu semacam ini diproduksi, pasti dengan sendirinya film-film dengan selera rendahan seperti “Paku Kuntilanak” yang dirilis dalam waktu hampir bersamaan akan segera masuk liang kuburnya dan tak pernah bangkit lagi, kecuali ada “dukun” sinting yang sukanya cari sensasi.

Read the rest of this entry »

Posted in Fragmen Lain | 5 Comments »

Dewan Kesenian Jember Teror Wartawan/Peneliti Desantara

Posted by Mh. Nurul Huda on 4 April 2007

Kawan-kawan,

Kemarin, Selasa, 3 April, peristiwa tragis menimpa Taufik Soleh, kawan kita di Jember. Ia adalah wartawan sekaligus peneliti Desantara Institute for Cultural Studies yang tinggal di Jember yang giat mengamati pergulatan kebudayaan di Jawa Timur, khususnya Jember dan sekitarnya.

Hasil pengamatan lapangan Taufik Soleh yang menyorot Dewan Kesenian Jember (dan Dewan-dewan Kesenian lain) dan diterbitkan Harian Surya Surabaya pada Minggu, 1 April 2007, berjudul “Kala Seniman Berebut SK Penguasa”, “Dewan Kesenian di Mata Para Seniman”, wawancara berjudul “Jika Terus Konflik, DKJ Akan Rapuh”, ditambah dengan esei Bisri Effendy berjudul “Dewa(n) (Ke)seni(an)”, memperoleh respon tak mengenakkan.

Taufik Soleh yang salah seorang anggota lembaga RIAK Jember ini menerima teror dan intimidasi dari seorang “preman’. Dengan tanpa basa basi dan dialog, pria yang nampaknya tidak menerima isi liputan lapangan tersebut memukul dan menempeleng Taufik Soleh, sambil terus mengintimidasinya. Kejadian ini berlangsung pada hari Selasa, 3 April, jam 09.00 WIB di Jl. Karimata Gg. Mandauli Jember.

Peristiwa ini jelas sangat memprihatinkan. Bahkan amat menyedihkan bagi kebebasan informasi dan kejujuran yang amat kita perjuangkan dalam alam demokrasi sekarang ini. Peristiwa ini sekaligus menjadi tantangan bagi kita semua yang terlibat aktif dalam kerja-kerja kebudayaan semacam ini.

Karena itu, kami mohon dukungan kawan-kawan jaringan di manapun berada agar aktifitas dan perjuangan Taufik Soleh dan kawan-kawan di Jember tak berhenti hanya karena teror yang tak bermartabat ini.

Salam, Read the rest of this entry »

Posted in Fragmen Lain, Politik Budaya | 2 Comments »

Surat Cinta Imajiner: Tentang Aku dan Kamu, Sayangku!

Posted by Mh. Nurul Huda on 23 March 2007

Sayangku. Maafkan aku. Lama aku tak berkirim kabar. Tak terasa hampir tiga purnama. Sampai akhirnya pada suatu hari tiba-tiba kamu mengirimiku pesan pendek: lihatlah, malam ini bulan sedang gerhana!

Aku terkejut, kesadaranku tersentak. Apakah bulan benar-benar gerhana, ataukah ini sekadar metafora? Segera aku memandang langit, menengadah dan mataku mulai meraba. Malam itu langit terlalu pekat, mataku tak sanggup menembus awan hitam lekat. Sayang, tahukah kala itu aku mulai panik. Aku takut gerhana itu benar metafora. Kalau kalau kamu mulai rapuh dan cintamu terkikis ombak waktu.

Sayangku. Kamu pasti ingat. Obrolah di malam empat purnama lalu saat aku nyatakan kata-kata itu, tentang aku dan kamu, tentang kita, tentang cinta. ya tentang cinta…

Seringkali tatapan cinta tinggal hasrat, pesona ragawi, dan bahkan possessi. Itulah sebabnya mengapa cinta lalu menjadi begitu melukai dan menyakiti. Sayangku. Ini bisa terjadi pada siapapun, pada diri kita, juga pada diriku jika aku memandangmu sebagai objek, dan bukan sebagai subjek. Read the rest of this entry »

Posted in Fragmen Lain | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.