Rumah Indonesia

Membaca Peristiwa dengan Sudut Pandang Beda

Archive for the ‘Politik Budaya’ Category

Korupsi dan Konsumerisme Kita

Posted by Mh. Nurul Huda on 9 December 2010

Pada pertengahan tahun 1950-an, Mohammad Hatta (1957) pernah berkomentar tentang praktek korupsi yang mulai marak dalam birokrasi. Menurut sang proklamator kita ini maraknya korupsi disebabkan oleh karena gaji pegawai pemerintah yang waktu itu “tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari” sehingga dimanfaatkan oleh para avonturir untuk memperkaya diri sendiri. Pernyataan ini dibuat Bung Hatta ketika pemerintah waktu itu sedang mengalami inflasi yang tinggi dan kesenjangan sosial yang meningkat. Namun, ironisnya, menurut Hatta, sekelompok kecil orang yang punya uang dan koneksi politik dalam pemerintahan telah seenaknya mengambil keuntungan dari konsesi-konsesi dan spekulasi. Melalui berbagai koneksi politik inilah mereka getol memperkaya diri sendiri.

Kini, setelah lebih setengah abad berlalu kita dibuat tercengang betapa tak berubahnya kondisi birokrasi negeri ini. Yang paling mutakhir ialah terbongkarnya sindikat korupsi atau yang sering disebut mafia kasus yang melibatkan oknum dirjen pajak, oknum penegak hukum, dan pihak kepolisian. Gayus Tambunan, pegawai biasa yang bekerja di kantor dirjen pajak terungkap menyimpan uang hasil makelar kasus sebesar 28 milyar yang diperoleh dari sogokan sejumlah perusahaan besar yang bersama oknum terkait melakukan kongkalingkong memanipulasi kewajiban pembayaran pajak. Diberitakan bahwa uang miliyaran rupiah ini mengalir ke sejumlah oknum pejabat pemerintah dan penegak hukum mulai dari institusi perpajakan, kejaksaan, hakim, pengacara hingga lembaga kepolisian.

Read the rest of this entry »

Posted in Ekonomi Politik, Politik Budaya | 2 Comments »

Tempat Ibadah Ahmadiyah Terancam Dibongkar

Posted by Mh. Nurul Huda on 3 December 2007

Source: Radar Cirebon, 3 Desember 2007

JALAKSANA – Pergolakan sosial di Desa Manislor, Kecamatan Jalaksana kembali muncul. Hal itu menyusul disebarkannya surat dari gabungan ormas Islam di Kuningan yang mengatasnamakan Komponen Muslim perihal penegasan terhadap jamaah Ahmadiyah di desa tersebut.

Sedikitnya 35 aktivis Komponen Muslim melakukan penyebaran surat terhadap seluruh jamaah Ahmadiyah di sana. Sekitar 1.000 lembar surat diberikan kepada setiap rumah yang berjumlah 3.029 jiwa. Tidak hanya penyebaran surat, pada hari itu juga dibentangkan spanduk bertuliskan imbauan jihad terhadap seluruh umat Islam. Read the rest of this entry »

Posted in Fragmen Budaya di Media Massa, Keputusan/Regulasi Budaya, Politik Budaya | Leave a Comment »

Tegang, Ratusan Suku Dayak Luruk Kantor Kejaksaan

Posted by Mh. Nurul Huda on 21 November 2007

Takmad-Kapolres Saling Dorong

Source: Radar Cirebon, 21/11/2007


INDRAMAYU – Sebagai bentuk penolakan terhadap keputusan Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) Kabupaten Indramayu, ratusan pengikut aliran Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Losarang meluruk Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Indramayu, Selasa (20/11) sekitar pukul 10.00. Mereka memprotes keras sekaligus menolak hasil telaah anggota Pakem yang menyatakan bahwa aliran Suku Dayak sesat dan harus dibubarkan.

Pantauan Radar, ratusan pengikut aliran Suku Dayak Losarang pimpinan Pangeran Takmad Diningrat Gusti Alam diangkut menggunakan truk mendatangi kantor Kejari. Ikut mengawal rombongan Suku Dayak di antaranya Ahmad Baso (Komnas HAM), Wakiran dan Sarma, angota perwakilan Suku Baduy, Ketua Patrio Sunda Pajajaran, Kamaludin dan Ketua Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika, Elen. Read the rest of this entry »

Posted in Fragmen Budaya di Media Massa, Politik Budaya | 7 Comments »

Warga NU Sesalkan Penyerangan Naqsabandiyah

Posted by Mh. Nurul Huda on 20 November 2007

Source: Harian Fajar, 20 Nov 2007

MAKASSAR– Sebagian warga Nahdhatul Ulama (NU) menyayangkan tindak penyerangan terhadap kelompok tarekat Naqsabandiyah di Bulukumba beberapa waktu lalu. Warga NU dimaksud, seperti Lakpesdam-NU Makassar, Aliansi Muda Nahdhatul Ulama (AMNU) Sulsel, dan KMNU Sulsel.Mereka menyayangkan tindakan anarkis hingga melukai beberapa pengikut aliran sekaligus merusak rumah yang biasa dijadikan tempat berzikir. Warga NU itu menilai tindakan penyerangan tidak bisa dibiarkan.

“Menyesalkan sikap beberapa kelompok masyarakat yang dengan mudah menyatakan dan memberi stigma “sesat” terhadap praktik kebergamaan dalam masyarakat, khususnya yang menimpa kelompok tarekat naqsabandiyah,” sebutnya dalam siaran persn yang diterima redaksi, malam tadi.

Read the rest of this entry »

Posted in Fragmen Budaya di Media Massa, Politik Budaya | 5 Comments »

Warga Serang Kelompok Tarekat Naqsabandiyah

Posted by Mh. Nurul Huda on 20 November 2007

Source: Harian FAJAR, 19 Nov 2007

Pimpinan Tarekat Terluka

BULUKUMBA — Ratusan warga Tana Beru Kecamatan Bontobahari, menyerang sebuah rumah yang diyakini sebagai tempat ibadah Tarekat Naqsabandiyah, di Kelurahan Sapolohe, Sabtu malam pukul 22.30 Wita.Akibatnya, rumah permanen itu hancur rata dengan tanah setelah diamuk massa menggunakan batu dan senjata tajam lainnya.

Sekitar 60-an jemaah pengikut tarekat dari beberapa kecamatan terdekat yang sedang melakukan zikir terpaksa dievakuasi ke kantor Polsek Bontobahari.

Akibat diserang warga, pimpinan tarekat Naqsabandiyah di Bulukumba, Andi Muhammad Ridwan, terluka di bagian mata. Warga bertindak brutal lantaran merasa resah dengan kehadiran aliran yang dianggap menyimpang dari agama Islam itu. Untuk mengamankan situasi, puluhan aparat Polres Bulukumba dipimpin Wakil Kepala Polres Bulukumba, Kompol Teguh Aswardie, turun ke lokasi.

Read the rest of this entry »

Posted in Fragmen Budaya di Media Massa, Politik Budaya | 27 Comments »

Ngadu ke Komnas HAM, Polisi Diminta Tangkap Pimpinan Dayak Losarang

Posted by Mh. Nurul Huda on 13 November 2007

Source: Radar Cirebon, 9/11/2007

INDRAMAYU – Perseteruan antara Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) dan Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Losarang, terus memanas. Untukmempertahankan keyakinannya pasca pembekuan oleh Pakem, sejumlah perwakilan aliran kepercayaan pimpinan Takmad Diningrat itu meminta perlindungan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di Jakarta, Kamis (8/11).

Pimpinan Suku Dayak Losarang, Takmad Diningrat melalui juru bicara Dedi mengungkapkan, pihaknya sengaja datang ke Komnas HAM karena merasa keyakinan dan budaya yang dijalani secara damai telah dihalang-halangi bahkan dianggap sesat, sehingga harus dibekukan. ”Saat ini kami masih berada di Jakarta untuk meminta perlindungan kepada Komnas HAM terkait dengan munculnya telaah dari anggota Pakem. Kalau tidak ada halangan, sejumlah anggota Komnas HAM akan mendatangi Pakem Indramayu untuk meminta klarifikasi tentang hasil telaah,” tandas Dedi melalui saluran telepon, kemarin

Read the rest of this entry »

Posted in Fragmen Budaya di Media Massa, Politik Budaya | Leave a Comment »

Dayak Losarang Tolak Dibubarkan

Posted by Mh. Nurul Huda on 12 November 2007

Source: Radar Cirebon, 8/11/2007

Dedi: Kami Bukan Aliran Kepercayaan tapi Budaya

INDRAMAYU – Meski Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) Kabupaten Indramayu secara resmi membekukan aliran Suku Dayak Hindu Budha Segandu Loasarang, namun para pengikut aliran kepercayaan yang dipimpin Takmad Diningrat tetap berpegang teguh kepada keyakinannya. Bahkan, ia menolak pembekuan aliran kepercayaan yang telah dianut oleh ribuan pengikut di sejumlah desa di Indramayu.

Pimpinan Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Losarang, Takmad Diningrat melalui juru bicara Dedi menjelaskan, saat ini pihaknya bersama ribuan pengikut tetap melakukan aktivitas seperti hari biasanya. Dirinya mengaku tidak terpengaruh dengan munculnya pernyataan tentang pembekuan oleh Pakem, terkait aliran SukuDayak yang dinyatakan sesat.

Read the rest of this entry »

Posted in Fragmen Budaya di Media Massa, Politik Budaya | 1 Comment »

Myanmar: Antara Geopolitik Minyak China Dan Hegemoni AS

Posted by Mh. Nurul Huda on 7 November 2007

Source: Kompas, 5 Nopember 2007

Oleh: Maruli Tobing

Junta militer yang berkuasa di Myanmar kini lega. Badai ancaman terbesar sejak Jenderal Senior Than Shwe memimpin junta tahun 1992 berhasil dipadamkan. Tentara hanya membutuhkan waktu dua hari menggilas aksi unjuk rasa ribuan biksu dan mahasiswa, akhir September lalu. Sejak itu “aksi prodemokrasi” tamat. Amerika Serikat gagal mewujudkan Revolusi Kunyit para biksu menjadi sejenis Revolusi Bunga di Georgia dan Revolusi Orange di Ukraina.

Namun perang belum berakhir. Perjalanan masih panjang dan berliku. Pada pembukaan Sidang Umum PBB, akhir September lalu, Presiden AS George W Bush mengecam kebrutalan militer dan pelanggaran hak asasi manusia di Myanmar. Bush mengimbau agar masyarakat internasional meningkatkan tekanannya terhadap junta dan mendesak PBB “membebaskan rakyat Myanmar dari tirani dan kekerasan”.

Lantas, apa sesungguhnya yang terjadi di Myanmar? Minyak dan gas. Read the rest of this entry »

Posted in Ekonomi Politik, Fragmen Budaya di Media Massa, Politik Budaya | 1 Comment »

Dayak dalam Imajinasi Politik Elit

Posted by Mh. Nurul Huda on 19 October 2007

Seorang ilmuwan asing pernah bilang bahwa nasib orang Dayak adalah dijajah, bukan memerintah. Itu kata Van Linden, seorang antropolog kolonial kelahiran Belanda.

Catatan serupa juga dibuat oleh Magenda (1991), yang kurang lebih melukiskan betapa orang Dayak selama berabad-abad mengalami marjinalisasi dalam skala yang sangat luas baik oleh kekuatan politik lokal, nasional, maupun kolonial. Citra populernya sebagai kelompok yang “terbelakang”, “primitif” dan “liar” semakin memperparah marjinalisasi politik, ekonomi, dan budaya yang mereka derita. Read the rest of this entry »

Posted in Politik Budaya | 1 Comment »

Politik Pencitraan

Posted by Mh. Nurul Huda on 19 October 2007

Kolom Bisri Effendy:

Dayak, Daya, Daya’, atau Dyak, seperti disebut literatur terbaru, adalah nama-nama antropologis. Dan orang-orang Kayan, Kenyah, Bahau, Tunjung, Benua, Bentian, Iban, Klemantan, Ngaju, Maanyan, Lawangan, Murut, Punan, dan seterusnya hanya menerima secara pasif. Victor King (1993) menyebut beberapa kemungkinan asal kata Dayak, bisa dari kata daya (bahasa Kenyah) berarti hulu atau pedalaman, dari kata aja (bahasa Melayu) yang bermakna pribumi, atau dari istilah dalam bahasa Jawa (Tengah) yang berarti tindakan yang tidak sesuai. Read the rest of this entry »

Posted in Politik Budaya | 4 Comments »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.