Rumah Indonesia

Membaca Peristiwa dengan Sudut Pandang Beda

Archive for the ‘Tokoh’ Category

Dg Naba, Sang Maskot Gandrang Bulo

Posted by Mh. Nurul Huda on 6 July 2007

“Dg Naba, Dg Naba,” begitu teriak para penonton yang menyemut di sekitar panggung pertunjukan memanggil-manggil namanya. Pria dengan rambut memutih dan gigi yang mulai ompong itu memang tengah menjadi idola. Apalagi banyolan-banyolan yang menggelitik dan dialognya yang cekatan itu mampu menambah suasana semarak dan makin hidup. Meski kondisi fisiknya sering menjadi bahan olok-olokan rekan sepanggungnya, tapi justru itulah yang menjadi kelebihannya.

Sayyidina Ali Dg Naba, 80 tahun, yang kerap dipanggil Dg Naba kini memang menjadi maskot Gandrang Bulo di Makassar. Di kampungnya, Paropo namanya, ia bergabung dalam grup dengan sebutan Remaja Paropo. Di grup inilah ia memamerkan bakat dan keahliannya mulai dari menabuh gendang, melantunkan lirik-lirik lagu Makassar hingga kemampuannya melontar humor segar yang kadang menohok sasarannya. Suaranya pun tak kalah dengan pemain lain yang lebih muda ketimbang dirinya.

“Saya tidak punya kerjaan selain sebagai seniman Gandrang Bulo ini, Nak. Disinilah saya menggantungkan hidup,” ujar pria yang menjalani profesinya sebagai seniman sejak tahun 60-an ini kepada Desantara. Sepanjang perjalanan karirnya, beberapa grup Gandrang Bulo pernah ia singgahi sebelum nasib membawanya berlabuh di grup Remaja Paropo, tempat dirinya kini beraktifitas. Read the rest of this entry »

Posted in Tokoh | Leave a Comment »

Kadam, Seniman Ludruk Harus Kreatif

Posted by Mh. Nurul Huda on 15 May 2007

Perawakan tak terlalu tinggi. Rambutnya yang putih, menutupi sebagian kepala yang agak botak itu seolah memberi tanda sang seniman gaek asal Dusun Karangsuko, Kelurahan Tasikmadu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang ini memang sudah tak muda lagi. Hanya suaranya yang kecil, tinggi dan kuat itu yang tersisa membangkitkan kenangan di masa kejayaannya dimana setiap penonton dibuat terpukau oleh gregelnya yang khas.

Ya, Kadam (68 tahun) adalah pemilik gleger atau suara cengkok yang meliuk tinggi di ujung lirik kidung yang dinyanyikannya. Berkat kemampuan yang dahsyat itu dirinya dikenal sebagai tandhak ludruk yang kerap mengundang decak kagum dan tepuk meriah penonton. “Kata orang gregel saya itu masih murni, seperti emas, ya tidak dicampuri besi, apalagi kuningan,” ujar pria pemilik nama asli Radi ini.

Jangankan penonton biasa, Soekarno yang mantan presiden pertama RI saja dibuat terkagum-kagum oleh liukan kidung sang tandhak ini. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1960-an saat dirinya masih bergabung dalam group ludruk “Marhaen”, dan ludruk kala itu menjadi salah satu kesenian rakyat yang tak pernah sepi penonton. Read the rest of this entry »

Posted in Tokoh | Leave a Comment »

Slamet Menur, Sebuah Anomali dalam Industri Kesenian

Posted by Mh. Nurul Huda on 5 March 2007

Oleh: Paring Waluyo Utomo

Slamet Abdul Rajat, begitu nama lengkap seniman gaek asal Banyuwangi ini. Seolah tak mau hanyut oleh gegap gempita komersialisasi kesenian, pria berusia 65 tahun ini tetap memegang teguh prinsip realisme dalam berkesenian. Seni yang seyogyanya ambil bagian dalam penyadaran masyarakatnya.

Di kalangan para seniman Banyuwangi, Slamet Abdul Rajat populer dengan nama Slamet Menur. Menur adalah nama usaha percetakan dan jasa reklame yang dimilikinya. Walau telah memiliki sumber ekonomi sendiri, Slamet Menur seolah tak mau terlena. Darah seni yang digulatinya selama lebih dari empat puluh tahunan itu menyemangatinya untuk memberi warna di tengah industrialisasi kesenian di Banyuwangi belakangan ini. Ia pun mendirikan Layar Kumendhung, sebuah yayasan yang mewadahi artikulasi dan idealisme seninya. Read the rest of this entry »

Posted in Tokoh | Leave a Comment »

Budi: Punk sebagai jalan hidup

Posted by Mh. Nurul Huda on 28 February 2007

Oleh: Mh. Nurul Huda (co) dan Syamsurijal Adhan

 “Menjadi punker itu bukan gaya-gayaan atau sok-sokan, Mas. Ini jalan hidup, ada tantangannya, ya ada resikonya,” ujar seorang pria berambut ala mohawk bercat warna kuning ini.

Di ujung sepasang daun telinga pria ini melingkar empat anting-anting warna keperak-perakan. Tampak logam seukuran jempol tangan orang dewasa ini berkilauan indah memantulkan terpaan sang surya. Melengkapi deretan tiga tindik yang menembus ujung bawah bibir yang tampak memerah.

            Budi, demikian nama panggilan pria ini, adalah salah seorang anggota punk yang kini mulai tersebar di Makasar. Penampilannya yang “tak lazim” itu memang nampak aneh bagi sejumlah orang. Namun bagi Budi, menjadi punker memang bukan sekadar bergaya. Anting-anting, peniti, tampon dan rantai adalah bagian dari atribut perlawanan terhadap dunia fasyion. Lewat busana punk bicara dan memaklumatkan perlawanan. Demikian kata-kata indah penyemangat kaum punker yang dikutip dari Umberto Eco, seorang ahli semiotika dan novelis terkemuka berkebangsaan Italia ini. Read the rest of this entry »

Posted in Tokoh | 2 Comments »

Halima, Potret Seorang Perempuan Padendang

Posted by Mh. Nurul Huda on 31 January 2007

Oleh: Mh. Nurul Huda & Syamsurijal Adhan

Namanya, Halima. Ia dikenal oleh komunitas Pakalu dan sekitarnya sebagai padendang atau penari mappadendang. Seperti kebanyakan perempuan, wanita paruh baya ini sehari-hari melakoni pekerjaan rumah, seperti memasak, mencuci, dan sesekali waktu mengobrol bersama tetangga.

Namun, tidak seperti yang dibayangkan orang, kalangan akademisi dan terpelajar lainnya tentang cerita seorang perempuan yang tersisihkan dari arena publik dalam area domestik. Cerita tentang domestifikasi itu tidak berlaku bagi perempuan seni tradisi seperti Halima. Perempuan yang sehari-hari juga membantu suaminya bertani ini justru menempati posisi lain, kalaulah tidak dibilang “istimewa”, di tengah kehidupan komunitas Pakalu.

Halima justru menjadi aktor utama dalam tradisi mappadendang yang digelar tiap musim panen di komunitas Pakalu, kampung Kalabbirang, yang letaknya di pinggir jalan poros Makassar-Bone. Seperti halnya dalam ritual tradisi lain, Seblang di Banyuwangi, Lengger di Banyumas, atau Tayub di Cirebon, perempuan memainkan peran penting dalam panggung publik kesenian.

Read the rest of this entry »

Posted in Tokoh | 1 Comment »

Ahmad Isnen

Posted by Mh. Nurul Huda on 7 January 2007

Ahmad Isnen:

“Jalan di Depan Saya Rasanya Penuh Lumpur”

 

Namanya Ahmad Isnen. Terlahir 37 tahun lalu. Pemilik nama kearaban ini adalah dedengkot jaranan thik Turonggo Sakti. Sebuah kelompok kesenian yang hidup di wilayah Ponorogo saat ini, tepatnya Dusun Ngradi, Singgahan.

Sekalipun memimpin tradisi kesenian yang sering lekat dengan kaum abangan, pria berperawakan kecil ini bisa dibilang seorang santri. Barangkali dialah cerminan utuh santri tradisional Jawa yang taat menjalankan syariat, tapi tetap kental mempertahankan tradisi Jawa-nya. Selain bermain jaranan, ia aktif dalam jama’ah Yasinan di lingkungannya. Sebab, Yasinan baginya tidak semata-mata aktivitas ritual, tapi juga sarana memupuk persaudaraan dan kerukunan antarsesama warga desa.

Isnen, demikian ia akrab dipanggil, adalah tipikal orang Jawa yang sungguh-sungguh mencintai kesenian tradisinya. Baginya berkesenian adalah tuntutan jiwa dan panggilan hati yang harus dilakoni. “Berkesenian itu ya mencari kesenangan batin, bukan berpikir memperoleh materi atau tidak,” ujar mantan pembarong di komunitas reyog ini.

Read the rest of this entry »

Posted in Tokoh | 3 Comments »

La Condeng

Posted by Mh. Nurul Huda on 30 December 2006

La Condeng:

Potret Kemandirian Seniman Kecapi

Namanya Syarifuddin. Lebih dikenal banyak orang dengan sebutan La Condeng. Tak begitu sulit menemukan rumah seniman kecapi yang satu ini. Hampir semua tukang ojek yang menjual jasa transportasi penghubung jalan besar menuju kampung Tollupoccoe, tempat tinggal La Condeng di Sidrap, mengenalinya dengan baik. Profesinya sebagai seniman yang lihai memainkan kecapi secara apik dan menawan. Membuat namanya berkibar dan akrab di telinga para penikmat kecapi, terutama di beberapa wilayah seperti Sidrap, Pinrang dan juga Enrekang.

Bagaimana tidak. Lihat saja berbagai aktifitas manggungnya, meskipun tak sesering dulu. Selain memenuhi berbagai undangan keluarga, petikan kecapinya belakangan ini mampu membius para pendengarnya di radio swasta Bambapuang Pinrang. Ia juga kerap diundang di acara-acara resmi pemerintah, dalam upacara festival dan kampanye tertentu. Bahkan belakangan ini ia sukses melakukan rekaman kecapi tunggal miliknya.

la-condeng.JPG

La Condeng memang bukan hanya lihai memainkan kecapi. Sehingga dia termasuk beberapa kecil saja seniman di Sidrap yang masih bertahan hidup sampai sekarang. Ia juga kreatif. Cerdik. Pintar menarik perhatian penonton.

Read the rest of this entry »

Posted in Tokoh | Leave a Comment »

Nicolaus Driyarkara

Posted by Mh. Nurul Huda on 1 December 2006

Kompas, 1 Desember 2006

Sumbangsih untuk Bangsa Ini
Oleh: St. Sularto

Pendapat dan nama Driyarkara, lengkapnya Prof Dr Nicolaus Driyarkara SJ (1913-1967), sering dikutip. Pikiran dan gagasan Driyarkara membuat orang berdecak kagum. Sayang warisan itu umumnya hanya menjadi pemanis tulisan, pidato, dan ceramah. Sedikit saja yang mau membaca secara lengkap karya-karya Driyarkara.

Menurut F Danuwinata SJ, salah seorang murid setianya, Driyarkara memang tidak pernah menulis buku. Dia tidak meninggalkan satu pun karya utuh komprehensif tentang satu persoalan.

Kalau mau disebut sebagai “buku”, mungkin tulisan tentang filsafat Malebranche, disertasi untuk memperoleh gelar doktor ilmu filsafat dari Universitas Gregoriana, Roma, tahun 1952. Disertasi itu berupa manuskrip setebal 300 halaman ditulis dalam bahasa Latin klasik. Naskah asli disimpan di Roma, tetapi tahun 1954 terbit versi ringkasannya setebal 40 halaman.

Read the rest of this entry »

Posted in Tokoh | 2 Comments »

Rosnawati

Posted by Mh. Nurul Huda on 30 November 2006

”Biarkan Kesenian Tradisi Milik Rakyat”

Usianya masih tergolong muda, sekitar tiga puluh tahunan. Rosnawati, ibu dari dua anak ini begitu cinta menggeluti seni tradisinya. Ia pun sering tampil dalam pentas-pentas kesenian yang marak di Enrekang belakangan ini.

Di tengah banyak sanggar seni di Enrekang, wanita berparas ayu ini memilih bergabung di sanggar seni tradisi Lakarua, milik rekannya yang juga sesama guru sekolah. Katanya, Lakarua dianggap lebih independen dan bisa sejalan dengan prinsipnya dalam mengembangkan kesenian. Apa prinsipnya?

Saat ditemui Desantara beberapa minggu lalu, Rosnawati sempat memperlihatkan kekecewaannya terhadap sejumlah pentas kesenian tradisi belakangan ini. Memang tak salah, ujarnya, bila kesenian ditampilkan dalam pertunjukan-pertunjukan. Tapi dalam menampilkan kesenian itu para pemain seyogyanya banyak berdialog dengan tokoh-tokoh adat dan seniman-seniman kampung.

Read the rest of this entry »

Posted in Tokoh | Leave a Comment »

Pak Poyo (Seniman Jaranan)

Posted by Mh. Nurul Huda on 8 November 2006

Pak Poyo:

Seniman Jaranan Di Tengah Perubahan

Perawakannya agak kurus dengan postur lumayan tinggi. Nampak peluh masih belum kering membasahi sekujur tubuhnya.

Meski wajah terlihat lelah, Pak Poyo, begitu orang memanggilnya, tersenyum lebar saat Desantara menghampirinya. Pria berumur 70 tahunan itu adalah seniman jaranan yang sehari-hari bekerja mengayuh becak dan mengangkut sampah malam harinya. Siang itu, dia memang baru saja mengantar penumpang yang menjadi langganannya demi upah untuk menyambung hidup keluarganya.

Hidup Pak Poyo barangkali menjadi salah satu potret nasib seniman jaranan di Kediri belakangan ini. Karena berkesenian hidup pas-pasan, ia harus banting tulang mencari kerja sampingan. Memang benar Dinas Pariwisata sering memanggil mereka untuk tampil di taman wisata Selomangleng. Tapi perhatian pemerintah terhadap kesenian dan seniman sendiri rupanya masih minim. Di samping upah yang mereka terima amat kecil, mereka rupanya hanya dijadikan sarana meramaikan tempat-tempat wisata saja.

Read the rest of this entry »

Posted in Tokoh | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.