Home » Fragmen Budaya di Media Massa » Konferensi Perempuan Penulis Menentang Sensor

Konferensi Perempuan Penulis Menentang Sensor

Arsip

Koran Tempo, Selasa, 28 November 2006

JAKARTA – Konferensi Internasional Perempuan Penulis Drama sepakat menentang proses sensor terhadap karya sastra budaya. Ini merupakan satu dari tiga butir kesepakatan konferensi tiga tahunan ke-7 yang digelar di Jakarta, 19-24 November 2006. Dua butir lainnya adalah mengenai tradisi dan kebebasan berekspresi yang terkait dengan dunia teater. Kesepakatan itu kemudian ditindaklanjuti dalam bentuk rekomendasi yang dibahas di Bali, 25-26 November.

Masalah sensor memang mencuat dalam konferensi yang dihadiri 186 peserta dari 23 negara itu. Ini merupakan bentuk hubungan antara penguasa negara dan kehidupan berkesenian yang menindas dengan menggunakan alasan politik, pendanaan, dan pembatasan religius.

Menurut Debra Yatim, sensor terjadi di banyak negara dalam bentuk pemotongan naskah hingga larangan terbit, tayang, atau pentas. Di Malaysia dan Singapura, misalnya, kebebasan berbicara dikekang. Bahkan di negara besar, seperti Australia, seorang pembicara tidak berani membagikan makalahnya karena khawatir tidak akan mendapatkan bantuan pendanaan dari pemerintah.

Indonesia, Ratna Riantiarno menambahkan, juga termasuk negara yang belum bebas dari sensor. Padahal tidak ada aturan yang baku dan jelas mengenai itu. Alhasil, bentuk sensor berbeda-beda di tiap kota. “Yang berlaku adalah peraturan pemerintah daerah masing-masing. Jadi suka-suka mereka,” ujarnya.

Kegiatan sensor kini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tapi juga masyarakat. Ratna Sarumpaet mengatakan belakangan kelompok masyarakat tertentu yang tidak suka terhadap karya seni tertentu terlibat dalam aktivitas sensor. Menyikapi hal itu, dia mengusulkan semacam gerakan perlawanan terhadap sensor. Ini harus diawali dari diri sendiri (Indonesia). “Jadi sensor akan tetap mengikuti kita. Ini sesuatu yang harus dilawan,” kata dia.

Di sisi lain, Ratna juga melihat sensor sebagai sebuah tantangan yang tidak akan menghentikan aktivitas berkesenian. Prinsip ini akan ditularkan kepada seniman lain. Artinya, dalam kondisi tidak aman pun mereka tetap harus berkarya. “Saya sedih, sensor itu akan membuat kemapanan semakin merajalela, baik itu oleh penguasa maupun sekelompok orang yang merasa berhak melakukan itu,” paparnya. []


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

November 2006
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: