Home » Politik Budaya » Pajaga, Simbol dan Alat Negosiasi Kultural

Pajaga, Simbol dan Alat Negosiasi Kultural

Arsip

Oleh: Mh. Nurul Huda & Syamsurijal Adhan

Ada dua kesenian Massenrengpulu yang menonjol dan belakangan ini kerap tampil dalam pentas: Bambu Ma’bas dan tari Pajaga. Keduanya menjadi simbol kemandirian dan identitas Massenrengpulu yang membedakan diri dengan etnis lain, terutama Bugis.

Ma’bas adalah sejenis seruling yang suara melodinya dihasilkan dari tiupan bambu. Konon dulu, musik bambu ini berasal dari suling bara, lalu berkembang menjadi suling nosong, pesuk dan dilo gio yang nadanya masih belum menyerupai not pada alat musik modern. Baru setelah hadirnya dua seniman Tuang asa dan Tuang Tarore dari Sulawesi Utara, nada musik bambu menjadi sempurna. Musik inilah yang paling digandrungi komunitas Massenrengpulu saat ini. Kata mereka, kalau orang Makassar punya sinrilik dan kesok-kesok atau ada kacapi di daerah Bugis-Makassar, Massenrengpulu pun tak kalah. “Kami juga punya Ma’bas,” tutur mereka.

Di antara tradisi Massenrengpulu, tari pajaga nampaknya paling berperan sebagai medium menyampaikan pesan-pesan tertentu. Pajaga adalah sejenis tarian yang menggambarkan atraksi para pengawal yang siap melindungi raja. Para pengawal raja, disebut passere yang semuanya laki-laki dan biasanya para pemangku adat, dilengkapi tombak berjumbai bulu kuda menari-nari mengikuti irama tabuhan gendang. Sejurus kemudian muncul passajo atau pembawa pesan yang menyampai pesan-pesan To manurung. Biasanya salah satu pesan itu berbunyi: “Tallang buku-bukunna-menre lunra’na” (semoga kesuburan tanah bertambah, dan hasil melimpah dinikmati warga Massenrengpulu).

Menurut beberapa tokoh Massenrengpulu, jenis tarian yang tumbuh dari kampung Limbung, Maiwa, adalah khas milik masyarakat dan hanya berkembang di Masserengpulu. Karena itu, sebagaimana dituturkan Sahuda yang juga Kepala Seksi Kebudayaan Enrekang, pajaga kini sering disuguhkan untuk menyambut tamu-tamu resmi Kabupaten Enrekang. “Agar mereka menyaksikan kalau kita memiliki kesenian yang berbeda dengan Bugis,” ujarnya beralasan.

Selain itu, tari pajaga yang dilengkapi passajo kini juga berfungsi sebagai tempat menuturkan cerita Massenrengpulu sebagai tanah tertua di Sulawesi Selatan. Sebagaimana dibenarkan oleh budayawan Yunuswati A. Baso. Passajo sekaligus menjadi medium penceritaan guna melawan konstruksi kebugisan ataupun anggapan umum kalau Massenrengpulu berasal dari Luwu.

Salah satu cerita menarik yang kerap dituturkan passajo adalah asal usul Sawerigading. Sawerigading adalah sosok yang dianggap manusia atau raja pertama yang berkuasa di Sulawesi Selatan. Selama ini lazim dalam masyarakat Sawerigading digambarkan berasal dari tanah Luwu. Namun dalam cerita passajo, Sawerigading justeru dikisahkan lahir di Lantimojong, gunung tertinggi di Sulawesi Selatan yang berdiri kokoh di tanah Massenrengpulu. Baru di kemudian hari, Sawerigading dan anak buahnya mengembara dan datang ke Luwu.

Cerita ini sangat populer di Massenrengpulu, dan menjadi bahan perbincangan di kalangan tokoh masyarakat dan budayawan. Begitu juga ketika Desantara berbincang-bincang bersama Puang Pasanrangi di Maiwa beberapa waktu lalu. Cerita ini dikisahkan seolah-olah ingin menepis anggapan bahwa titik pusat tanah Sulawesi Selatan berada di Luwu. Lewat passajo dalam tari Pajaga, Massenrengpulu adalah titik pusat sejati tanah Sulawesi Selatan, yang berarti juga penegasan diri mereka bukan bagian dari Bugis atau Luwu.

Mungkin kisah ini dianggap mitos. Namun cerita yang dituturkan passajo ini tengah berkembang, menjadi pegangan, dan akhirnya sama-sama menjadi kenyataan penting yang berdampingan dengan cerita resmi (yang barangkali juga mitos) yang tertulis dalam Lontara Duri. Salah satu teks yang biasa jadi pegangan umum ini tidak menulis kisah Sawerigading, melainkan cerita To manurung pertama yang bernama Nene Matindo Dama yang mengawini seorang To manurung wanita bernama Cirinna Sumbolangi. Dari kedua pasangan ini lahirlah raja-raja pertama di Massenrengpulu yaitu Pakke Lalona, Pake II dan Pake III.

Barangkali sulit mencari kebenaran, seperti sulitnya mencari ketidakbenaran dari dua cerita ini. Yang jelas kesenian dan tradisi penceritaan tengah memperoleh respon luas dari masyarakat Massenrengpulu. Dukungan para seniman, budayawan, pemerintah maupun masyarakat pun kini mengalir dalam bentuk maraknya pertunjukan seni tradisi khas Massenrengpulu. Seperti dikemukan salah satu anggota DPRD Masserengpulu, M. Idris Sadik. “Perjuangan untuk menunjukkan identitas Massenrengpulu harus dilakukan, khususnya lewat kesenian daerah Massenrengpulu,” kata Idris yang juga menjabat ketua KNPI setempat saat berbicang bersama Desantara minggu lalu.

Cerita tentang Massenrengpulu jelas bukan sekadar menggali-gali identitas atau menghidup-hidupkan tradisi. Lebih dari itu, pesan passajo berikut ini nampak perlu juga kita ingat-ingat. “Tallang buku-bukunna-menre lunra’na”. Seyogyanya kesejahteraan dinikmati semua warga Massenrengpulu, bukan satu, dua, atau beberapa orang saja. [Liputan oleh Syamsurijal Adhan]

Dimuat i Harian Fajar Makasar, Nopember 2006


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

November 2006
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: