Home » Fragmen Budaya di Media Massa » Pasar Perlu Instrumen Sosial

Pasar Perlu Instrumen Sosial

Arsip

Kompas, Sabtu, 2 Desember 2006

 

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Jangan Dianggap Beban

 

Jakarta, Kompas – Hiruk-pikuk perekonomian tidak sebatas suku bunga, indeks harga saham, dan investasi. Untuk mencapai kesejahteraan bersama perlu ditanam instrumen sosial dalam kinerja pasar.

Hal itu yang antara lain terungkap dalam diskusi bertajuk “Membangun Ekonomi Pasar Sosial untuk Indonesia: Mungkinkah?” di Jakarta, Jumat (1/12). Diskusi digelar dalam rangka peluncuran buku Karya Lengkap Driyarkara: Esai-Esai Filsafat Pemikir yang Terlibat dalam Perjuangan Bangsanya.

Pendiri Kompas-Gramedia Jakob Oetama dalam sambutannya mengungkapkan, tema pembangunan ekonomi pasar sosial sangat relevan. Katanya, “Saat ini kita sedang mencari dan merumuskan kembali dengan menyesuaikan antara warisan sejarah dan perkembangan global.”

Peranan ekonomi pasar dalam sejarahnya memberikan kebebasan, tetapi juga sekaligus memunculkan monopoli dan oligopoli. Di sisi lain, ada peranan negara sebagai pengayom dengan jaminan hukum dan perundangan-undangan. Namun, masalahnya, seberapa besar pemerintah serta lembaga negara lainnya memahami peranan mereka?

Ekonomi pasar sosial mencakup tidak hanya aspek ekonomi, tetapi juga kebutuhan dan hak dasar seperti hak sosial, politik, sipil, dan budaya.

Karya-karya Driyarkara sendiri, menurut Jakob, saat ini menjadi sangat relevan. Driyarkara berpandangan manusia sebagai homo homini socius atau teman atau sesama bagi manusia lain. Dalam pembahasan tentang Pancasila, Driyarkara secara khusus menyoroti sila kedua, yakni kemanusiaan yang adil dan beradab. Sila itu yang kemudian dihubungkan dengan ekonomi, budaya, dan ilmu pengetahuan.

Pendapat senada diungkapkan Ketua Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara B Herry-Priyono. Dia memandang perlu menyuntikkan instrumen sosial sehingga tujuan bersama itu menjadi sesuatu yang sengaja dikejar. Ekonomi pasar pada dasarnya bukan sesuatu yang alami, tetapi diciptakan. Oleh karena itu, kontrak sosial sangat penting dalam ekonomi pasar sosial. Kinerja ekonomi pasar terus-menerus diubah agar sesuai dengan kontrak sosial. Tugas pemerintah menjaga tegangan antara kreativitas individual dan sosialitas tersebut.

Sudhamek AWS selaku CEO Garudafood mengakui pentingnya tanggung jawab sosial para pelaku usaha. Bagi dia, tanggung jawab sosial korporat bukanlah beban, tetapi hal yang menguntungkan kedua belah pihak, baik perusahaan maupun stakeholder- nya. Garudafood, misalnya, membina para petani kecil yang kemudian berdampak semakin baiknya kualitas hasil garapan petani.

Direktur Eksekutif Prasetya Mulya Djisman Simanjuntak berpendapat, tanggung jawab sosial korporat sendiri sifatnya masih bergantung pada kemauan manusia yang mengendalikan perusahaan. Agar diperoleh jaminan kepastian, tanggung jawab itu harus dikuatkan secara legal. (INE)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

December 2006
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: