Home » Tokoh » Ahmad Isnen

Ahmad Isnen

Arsip

Ahmad Isnen:

“Jalan di Depan Saya Rasanya Penuh Lumpur”

 

Namanya Ahmad Isnen. Terlahir 37 tahun lalu. Pemilik nama kearaban ini adalah dedengkot jaranan thik Turonggo Sakti. Sebuah kelompok kesenian yang hidup di wilayah Ponorogo saat ini, tepatnya Dusun Ngradi, Singgahan.

Sekalipun memimpin tradisi kesenian yang sering lekat dengan kaum abangan, pria berperawakan kecil ini bisa dibilang seorang santri. Barangkali dialah cerminan utuh santri tradisional Jawa yang taat menjalankan syariat, tapi tetap kental mempertahankan tradisi Jawa-nya. Selain bermain jaranan, ia aktif dalam jama’ah Yasinan di lingkungannya. Sebab, Yasinan baginya tidak semata-mata aktivitas ritual, tapi juga sarana memupuk persaudaraan dan kerukunan antarsesama warga desa.

Isnen, demikian ia akrab dipanggil, adalah tipikal orang Jawa yang sungguh-sungguh mencintai kesenian tradisinya. Baginya berkesenian adalah tuntutan jiwa dan panggilan hati yang harus dilakoni. “Berkesenian itu ya mencari kesenangan batin, bukan berpikir memperoleh materi atau tidak,” ujar mantan pembarong di komunitas reyog ini.

Namun bukan materi dan bukan pula kesenangan batin itu yang diterimanya sejak pertama Isnen menggeluti jaranan thik di kampungnya. Sejak awal berdirinya, 1998, komunitas reyog thik Turonggo Sakti memperoleh respon dan perlakukan yang kurang mengenakkan. Seperti diakui sendiri oleh Isnen. Ia jadi bahan olok-olokan orang-orang. “Dudu kesenian asli kok diuripi, ngurusi sentherewe (jaranan thik) keluargane opo arep dipakani rawe?” ujar beberapa warga.

Usut punya usut rupanya beberapa orang desa tidak menyukai kehadiran jaranan thik karena dianggap akan menyaingi reyog. Padahal menurut lelaki kelahiran tahun 1969 ini, jaranan thik adalah kesenian asli Ponorogo. Kesenian ini terkait dengan asal-usul munculnya telaga Ngebel. Namun sayangnya ia tidak berkembang di tanah kelahirannya sendiri, tapi justru berkembang di wilayah Trenggalek, Tulungagung, Kediri, Blitar, Malang dan beberapa daerah lain yang lalu dikenal di Ponorogo sebagai jaranan sentherewe. Begitu terang Ahmad Isnen tentang asal muasal reyog thik yang juga asli Ponorogo.

Selain menjadi bahan olokan warga lain, rupaya aparat dusun Ngradi juga terkesan tidak memberi apresiasi yang layak. Misalnya, bila ada dana pembinaan kesenian dari pemerintah desa, selalu saja dikucurkan ke reyog. Sementara kesenian non- reyog tidak pernah memperoleh apapun baik dari dusun maupun desa. Demikian pula jaranan thik belum pernah tampil bareng-bareng dengan reyog untuk acara desa yang didanai oleh desa. Inilah yang membuat Ahmad Isnen mencium kesan kalau pemerintah tidak berlaku adil pada jenis kesenian lain macam jaranan.

Bahkan dalam penuturan Isnen, ada satu kejadian pahit yang sampai saat ini tetap diingatnya. Pada suatu hari raya kelompok reyog thik Turonggo Sakti main keliling dusun. Saat itu, rombongan jaranan thik tidak berhenti di depan rumah Kepala Dusun. Hanya karena persoalan sepele itu, Isnen sempat dipanggil dan “disidang” di rumah Kepala Dusun. Sekalipun dia mengakui bahwa setelah peristiwa itu tidak terjadi apa-apa, namun hal itu menyadarkan dirinya akan tiadanya apresiasi dari pemerintahan dusun terhadap kreasi seni warganya, terutama kelompok jaranan thik Turonggo Sakti yang dipimpinnya.

Peristiwa lain yang lebih menyakitkan adalah ketika dia berinisiatif melakukan kerja bakti bersama-sama anggota Turonggo Sakti. Menurut Isnen, tidak ada motif apapun dibenaknya kecuali semata-mata untuk membersihkan lingkungan yang menurutnya telah lama tidak diperhatikan. Namun bukan pujian yang diperoleh, melainkan kecurigaan aparat pemerintahan Dusun Ngradi yang membuta. Ia pun dituduh menyepelekan kamituo (kepala dusun).

Berbagai peristiwa itu rupanya membuat Isnen sempat terombang-ambing. Kerap serba salah dalam melangkah. Ia pun berujar: “Kulo dewe niku ngrasakne bingung, ajeng mlaku mawon repot, dalan kulo niku pun jemek,” keluh Isnen dengan nada setengah putus asa. (Saya sendiri merasa kebingungan, mau berjalan terasa repot karena jalan di depan saya penuh lumpur).

Barangkali benar jalan yang dilalui komunitas jaranan thik memang becek, penuh lumpur. “Becek” karena pertunjukan reyog yang tak pernah henti. “Becek” karena reyog seolah-olah menjadi satu-satu kesenian yang boleh berkembang hidup sejak pemda memantapkannya sebagai ikon resmi budaya daerah. Lalu dipentaskan dengan fasilitas dan dana negara yang “becek” pula. Dan sejak itu pula praktis reyog menjadi dominan, lainnya marginal.

Mungkin tak tahan dengan pengalaman getir, Isnen tak bosan terus berharap. “Semoga pemerintah berlaku adil terhadap seluruh seniman. Jaranan thik seharusnya juga diapresiasi secara layak oleh aparat desa,” demikian seniman ayah dari empat orang ini berujar lirih. [Liputan oleh Ahmad Zainul Hamdi]


3 Comments

  1. dgpro says:

    lembaga IRCAS campnya dmna?/// sya ingin cari informasi kesenian2 ponnorogo…..ya khususnya jaranan thik,,,cari referensi nii….makkasih…

  2. Waalaikum salam..

    Saudari Hetik, anda bisa hubungi kawan-kawan saya di Lembaga IRCAS Ponorogo. Kawan2 saya ini sekarang sedang “menemani” komunitas Jaranan di sana. Silahkan kontak email berikut ini: inoeng2004@yahoo.com . Mudah2an kawan2 di sana bisa menemani Anda.

    salam,

  3. kepada: bapak ahmad z.h.
    assalamu alaikum wr.wb.
    saya adalah mahasiswa UNiversitas negeri malang. saya sangat tertarik dengan tema jaranan sentherewe dari tulungagung, karena saya njuga berasal dari tulungagung. jika bapak berkenaan tolong kirimi saya e-mail di:
    hetty_caem@yahoo.co.id
    tentang jaranan sentherewe. saya juga sangat tertarik untuk membuat lktm mengenai kesenian jaranan senterewe.bapak juga bisa hubungi saya di hp 085649039327.
    atas perhatian bapak, saya sampaikan terima kasih.
    wassalamu alaikum wr.wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

January 2007
M T W T F S S
« Dec   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: