Home » Politik Budaya » Dari Intensifikasi Pertanian ke Intensifikasi Pariwisata

Dari Intensifikasi Pertanian ke Intensifikasi Pariwisata

Arsip

Oleh: Mh. Nurul Huda & Syamsurijal Adhan

Barangkali memang tak ada yang membantah. Proyek modernisasi pertanian yang digelar sejak tahun 1970-an telah mengubah kosmologi hidup petani di Kallabirang dan umumnya di berbagai wilayah pedesaan. Berbagai tradisi ritual bercocok tanam kehilangan makna dan fungsinya, setelah hilang alasan adanya. Orang pun lalu menduga, ritual mappadendang tinggal dongeng yang hanya hidup dalam cerita..

Tapi, dugaan itu rupanya keliru. Mappadendang masih hadir dan dihadirkan hingga kini. Seperti tahun lalu, mappadendang digelar secara meriah. Di depan sebuah panggung yang wah. Lesung panjang diletakkan. Enam orang, dua perempuan dan empat laki-laki, muncul membawa alu. Mereka menari kecil sambil memainkan irama ketukan batang alu yang dipukulkan di bagian dalam lesung. Bunyinya terdengar rancak dan membentuk irama ketukan yang harmonis mengiringi lantunan lagu yang dinyanyikan seorang perempuan di antara mereka. Hentakan dan irama tumbukan semakin cepat. Dua orang laki-laki tiba-tiba melepas batang alu-nya lalu mulai bergerak lincah memperagakan Silat Manca Baruga. Sejenis seni bela diri yang memang khusus untuk pertunjukan. Tepuk tangan penonton pun meriah. Memecah suasana malam di sebuah ruangan hotel yang ditata indah dan gemerlap..

Jangan kaget. Mappadendang itu tidak digelar di sebuah kampung. Di tengah bahagia para petani yang menanti panen dan memetik padi yang sudah menguning. Melainkan di sebuah hotel berbintang lima, Hotel Clarion. Di sebuah panggung pertunjukan yang gemerlap. Di tonton para bule dan disambut tepukan para pejabat yang hadir. Jelas di situ tidak ada panen raya. Tidak ada padi ditumbuk. Di situ mappadendang menjadi salah satu pagelaran yang dipentaskan dalam Tourism Indonesia Mart and Expo, pertengahan September 2006 lalu.

festival-mappadendang.JPG

Menurut penuturan Abd Haris yang salah seorang staf Bidang seni dan budaya Kabupaten Maros, mappadendang semacam ini sering dipertunjukan beberapa kali di berbagai ajang festival. Selain di Sulsel pementasan juga sering digelar di berbagai daerah lain di Indonesia, bahkan dipentaskan di luar negeri.

Tentu saja mappadendang yang dipentaskan itu bukan kesenian rakyat yang mewakili penghayatan tradisional komunitas Pakalu dan petani lain di pedesaan Sulsel. Tradisi ini menjadi pertunjukan yang benar-benar profan. Sama sekali tak berhubungan dengan pare riolo, katto bakko, atau ritual bercocok tanam lainnya yang sudah lama tergusur oleh program intensifikasi dan modernisasi sistem pertanian. Para pemainnya pun bukan para petani kampung yang dekat dengan penghayatan kosmologi pedesaan. Melainkan orang-orang kota yang dilatih di sanggar-sanggar seni yang terus dihidupkan Dinas Pariwisata untuk mendukung agenda kepariwisataan daerah setempat.

“Kalau tidak diadakan pembinaan, mappadendang ini akan hilang, “ ujar Kepala seksi Seni dan Budaya Dinas Parawisata Maros. Untuk melestarikan tradisi, Ibu Suleha, demikian nama pejabat itu, kini membina 15 sanggar seni yang khusus mengajarkan tradisi itu kepada generasi muda. “Di sini kami lebih menonjolkan hiburannya yang paling diminati. Bukan ritualnya,” tambah perempuan berkerudung ini.

Pandangan Suleha ini juga diamini oleh para pegiat sanggar seni di Maros. Abd Haris, misalnya, yang anggota sanggar seni Ikatan Seni Makassar, cabang Maros. Menurut dia, padendang atau seniman mappadendang harus bisa pentas. Sebab, dari sanalah mereka eksis dan juga memperoleh penghasilan ekonomi. “Ini cara kita agar bisa survive, kalau tidak ada pertunjukkan dari mana mappadendang bisa dikenal? Kalau tidak dikenal lalu darimana seniman bisa mempertunjukan eksistensinya?” ujarnya beralasan.

Berbeda dengan Suleha dan para pegiat sanggar seni yang memanfaatkan fungsi ekonomis mappadendang dan menghidupkannya melalui sanggar-sanggar seni yang dibinanya. Komunitas Pakalu di Kallabirang rupanya tidak mengangap penting kebijakan pelestarian. “Tradisi itu masih menjadi rutinitas kami,” ujar Tajudin, salah seorang petani anggota komunitas Pakalu.

Bagi Tajudin, Halimah maupun Ali tidaklah penting apakah mappadendang menjadi seni pertunjukan atau sekedar permainan rakyat seperti sering dilontarkan para budayawan belakangan ini. Lantaran bagi mereka mappadendang tidak lebih sekadar bagian dari kehidupan mereka sebagai petani. Buktinya, ujar Tajudin, di Kalabbirang, Pakalu, Maros, setiap tahunnya mappadendang masih digelar. Bahkan secara besar-besaran dan berlangsung meriah. “Kadang sampai mengundang pejabat pula,” ujar Tajudin.

Begitulah. Mappadendang, seni ritual musim panen komunitas pedesaan di Kallabirang, Maros, ini masih tetap hidup dan dihidupi oleh komunitas tradisionalnya. Selain juga belakangan ini dikembangkan oleh kelompok pendukungnya yang baru, seperti Dinas Pariwisata, para seniman kota dan pegiat sanggar-sanggar seni. Oleh merekalah, ritual mappadendang yang telah kehilangan basis makna kosmologisnya sejak program modernisasi sistem pertanian tahun 1970-an silam, semakin mengalami intensifikasi dalam bentuk yang nyaris serupa. Sejenis program peningkatan produksi ekonomi kepariwisataan.

Lagi-lagi soalnya adalah bagaimana komunitas petani pedesaan ini bisa diuntungkan dalam proses produksi semacam ini? Inilah yang kita cari jawabnya! [Liputan oleh Syamsurijal Adhan]

Tulisan dimuat di Koran Fajar, Sulsel. Diterbitkan kerjasama LAPAR Makasar dan Desantara.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–>


 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>


1 Comment

  1. marumpa says:

    Mappadendeng memang harus dilestarikan. salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

January 2007
M T W T F S S
« Dec   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: