Home » Fragmen Budaya di Media Massa » Penyadaran Diri

Penyadaran Diri

Arsip

Koran Tempo, Senin, 05 Februari 2007

Rianto menggelar tari yang berisi kritik buat orang Jawa.

Dalam balutan kimono, pakaian khas Jepang, wanita itu menari. Musik yang mengiringi tarian itu juga instrumental Negeri Matahari Terbit. Tapi sosok Amaterasu Omikami–dalam bahasa Jepang berarti Dewi Matahari–malah meliuk-liuk mengikuti gerak tari Jawa.

 

Pentas tari bertajuk Pintu Amaterasu, yang digelar di Teater Utan Kayu, Jakarta, Rabu malam pekan lalu, itu memang memakai adonan budaya Jawa dan Jepang. Menurut Rianto, yang menciptakan koreografinya, Pintu Amaterasu merupakan jalan masuk hubungan kedua kultur itu.

Rianto mengatakan antara Jawa dan Jepang sebetulnya punya kesamaan tradisi, yaitu sama-sama memiliki kepercayaan terhadap adanya seorang dewi yang membawa kemakmuran. Orang Jawa mengenal Nyi Roro Kidul dan Dewi Sri, yang masing-masing mewakili unsur air dan tanah.

Tapi, “Kenapa justru ada perbedaan? Jawa, yang tanahnya lebih subur, justru kalah maju dari Jepang,” kata Rianto. Lewat koreografi yang diciptakannya, dia ingin menyampaikan kritik kepada orang Jawa yang tidak bisa seperti masyarakat Jepang, yang memegang teguh tradisi tapi maju.

Pentas ini, Rianto menjelaskan, bukanlah sebuah drama tari, melainkan lebih pada penyadaran diri. Dia membagi tiga babak pertunjukan tari itu selama hampir satu jam. Yang pertama, Rianto, yang “merekrut” empat penari, menampilkan sosok-sosok yang menjadi mitos di Jawa dan Jepang.

Babak kedua, jebolan Sekolah Tinggi Seni Indonesia itu mempertunjukkan wujud topeng dewa yang berhati iblis. “Ini sebuah pesan supaya kita tidak seperti mereka,” ujar Rianto. Yang terakhir atawa bagian penutup, yang dia beri nama serimpi, mengandung sebuah harapan.

“Dengan menghubungkan unsur air, tanah, dan matahari dalam karya ini, diharapkan bisa memberi berkah,” katanya. Berkah pencerahan di hati banyak orang terhadap kekuatan dan kelimpahan alam. Lewat sebuah suguhan yang bernuansa ritual serta rasa syukur untuk kemajuan bersama. SS KURNIAWAN


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

February 2007
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: