Home » Tokoh » Budi: Punk sebagai jalan hidup

Budi: Punk sebagai jalan hidup

Arsip

Oleh: Mh. Nurul Huda (co) dan Syamsurijal Adhan

 “Menjadi punker itu bukan gaya-gayaan atau sok-sokan, Mas. Ini jalan hidup, ada tantangannya, ya ada resikonya,” ujar seorang pria berambut ala mohawk bercat warna kuning ini.

Di ujung sepasang daun telinga pria ini melingkar empat anting-anting warna keperak-perakan. Tampak logam seukuran jempol tangan orang dewasa ini berkilauan indah memantulkan terpaan sang surya. Melengkapi deretan tiga tindik yang menembus ujung bawah bibir yang tampak memerah.

            Budi, demikian nama panggilan pria ini, adalah salah seorang anggota punk yang kini mulai tersebar di Makasar. Penampilannya yang “tak lazim” itu memang nampak aneh bagi sejumlah orang. Namun bagi Budi, menjadi punker memang bukan sekadar bergaya. Anting-anting, peniti, tampon dan rantai adalah bagian dari atribut perlawanan terhadap dunia fasyion. Lewat busana punk bicara dan memaklumatkan perlawanan. Demikian kata-kata indah penyemangat kaum punker yang dikutip dari Umberto Eco, seorang ahli semiotika dan novelis terkemuka berkebangsaan Italia ini.

            Bagi pria yang memasuki dunia punker sejak usia belasan tahun ini, punk bukan sekadar gaya hidup. Punk adalah sebuah jalan hidup lain yang berbeda dengan jalan-jalan hidup yang dipilih setiap orang. Sebagai jalan hidup, menurut putra Arman Tenriano (Alm.) dan ibunda Khu Kiao Giok ini, menjadi seorang punker tentu “ada tantangan dan resikonya”.

Tantangan pertama dilalui Budi ketika sang ibu menderita sok melihat kali pertama anaknya berdandanan ala punker. Teriakan kemarahan sering ia dengar, meski seiring dengan waktu sang ibu menerima pilihan hidup putranya tercinta ini.

“Mulanya saya sembunyikan identitas. Tapi akhirnya saya sadar kalau toh punk adalah jalan hidup, orang tua saya memang layak tahu,” ujar Budi yang kerap menghindari kemarahan ibunya usai pulang sekolah.

            Budi pun berniat menepis anggapan banyak orang kalau dunia punk tidak berpengharapan. Punk yang nyaris diidentikkan dengan hura-hura, bahkan biang kekacauan. Ia hendak memperlihatkan, punk menawarkan pilihan hidup alternatif yang layak dihargai dan diapresiasi. Tentu saja di luar gaya hidup yang penuh kepalsuan dan kungkungan industri kapitalisme.

Sebuah grup band bernama Dead Bastard beraliran punk akhirnya dibentuk. Ia pun mulai merilis album yang diproduksinya sendiri dan didistribusikan langsung dari tangan ke tangan antar komunitas punk.

“Kita tidak mau masuk dalam rengkuhan gurita kapital,” tandas alumni SMA Frater ini.

            Usianya yang memasuki 30 tahun, membuat Budi harus berpikir untuk segera menikah. Bertemulah ia dengan sosok cantik menawan yang dicintainya. Uga, anak seorang tokoh adat Bugis-Makasar. Meski pada awalnya ditolak oleh ayah Uga, toh tekadnya yang keras dan pantang menyerah itu mampu meluluhkan hati sang calon mertua.

“Saya bertekad ces… waktu itu, kalau memang saya suka kenapa harus menyerah di tengah jalan,” ujar Budi. Maka terjadilah perkawinan punk ala adat Bugis itu.

Kini, sehari-hari, Budi dan teman-temannya membuka usaha tatto dan piercing di Mall Diamod, Panakkukang. Ia bertekad menunjukkan, komunitas punker adalah anak jaman yang kreatif. Bukan biang hura-hura apalagi kekacauan! [Liputan: Syamsurijal Adhan]

Dimuat di Harian Fajar, Rabu, 28 Februari 2007

 


2 Comments

  1. yulmi, minat anda muungkin bisa diseriusi dg turun langsung ke komunitas-komunitas anti kemapanan semacam itu. Andai anda tinggal di Makassar, saya akan kenalkan anda dg teman saya di LAPAR Makassar. Meski begitu saya rasa, anda bs menemukan komunitas ini tersebar di berbagai kota dan tempat lain.

    Informasi yg kaya tentang kehidupan komunitas ini bisa anda dapatkan setelah anda berinteraksi langsung dg mereka. Tapi sebagai bekal anda ke lapangan, anda mungkin bs baca bukunya Dick Hebdige tentang “Subkultur”. Kalau tidak salah, buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bhs Indonesia oleh salah satu penerbit di Jogja.

    Mudah2an ini membantu. Trims atas kunjungan…:)

  2. Yulmi says:

    Saya agak tertarik untuk mengenal aliran2 yg menyebut dirinya sebagai aliran anti kemapanan. Seperti skinhead, punk,anarkhis,dll.
    Sekarang saya sedang membutuhkan informasi yg berkaitan dengan hal-hal di atas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

February 2007
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: