Home » Politik Budaya » Kasetisasi Kesenian, Siapa Diuntungkan?

Kasetisasi Kesenian, Siapa Diuntungkan?

Arsip

Oleh: Mh. Nurul Huda (co) dan Paring Waluyo

Seperti putaran roda sejarah yang tak mengenal jeda, industri bisnis kesenian juga tak mengenal batas laba. Persoalannya siapa untung dan siapakah yang buntung dalam bisnis ini?

Di Banyuwangi, sebuah daerah yang kaya dengan kesenian tradisional, bisnis industri rekaman kesenian belakangan ini semakin marak. Cobalah Anda berkeliling ke bedak-bedak (kios) kaset yang ada di sekitar pasar atau di alon-alon Kota Banyuwangi. Dengan mudah Anda dapatkan puluhan kaset atau compact-disk berisi rekaman berbagai jenis kesenian lokal. Mulai dari lagu-lagu ”pop Banyuwangi” hingga seni Gandrung, Kebo-keboan, Hadrah kuntulan, Barong dan bahkan Ludruk. Dilihat dari kemasan maupun kualitas produknya, nampak ada yang digarap secara profesional, ada pula yang terkesan amatiran.

Namun jangan lupa, di balik maraknya kepingan kaset dan compact-disk ada aktor penting di belakangnya. Mereka adalah para produser atau pemilik label rekaman. Jika Anda membeli kaset dan membuka kotak pembungkusnya, niscaya segera Anda temukan nama-nama orang yang terlibat dalam proses produksi berikut label studio rekamnya. Merekalah yang selama ini ”berjasa” memproduksi dan menggandakan kaset-kaset dan compact-disk dalam jumlah yang besar sehingga tersedia luas di pasaran. Melalui besar produksinya, kita kenal studio yang berkategori label besar dan profesional, dan home industri yang biasa digarap secara amatiran. Di antara studio berlabel ini bisa disebut misalnya nama-nama seperti: Sandi Record, Safari Record, Indra Record, Scorpio Record, Fista Jaya Record, dan Gemini Record.

Dari peredaran kaset dan compact-disk serta maraknya berbagai label rekaman, bisa kita bayangkan berapa ratus juta bahkan berapa milyar omset yang berputar dalam bisnis kesenian ini. Bahkan bisa kita hitung berapa keuntungan yang dikeruk para pemilik label, penyanyi, pemusik, pencipta lagu, hingga para pedagang yang terlibat dalam pemasaran.

Catur Arum, Yon DD, Miswan, Dian Ratih dan Adistya Mayasari adalah contoh para penyanyi papan atas Banyuwangi. Konon, mereka memasang harga tak kurang dari 25 juta setiap rilis albumnya.

Pembagian tak adil

Sayangnya, cerita tentang bisnis kesenian yang menggiurkan ini tak selamanya berisi kisah keuntungan.

Ketika rekaman lagu-lagu Banyuwangi ini pertama kali dilakukan, misalnya, seniman dan pencipta lagu tak memperoleh bayaran sepeserpun apalagi royalti. Sarianda Record dan Ria Record adalah pemain lama dalam industri rekaman ini.

“Seniman hanya senang saja karyanya direkam, dan selesailah urusan. Padahal kaset itu digandakan hingga ribuan,” ungkap Andang CY, pencipta lagu-lagu Banyuwangi bergenre realis ini. Pria yang lagu ciptaannya kerap menempati tangga teratas lagu-lagu favorit di Banyuwangi ini hanya menerima bayaran 250 ribu per lagu. Dengan kata lain, bila dalam satu keping Video Compact Disk (VCD) berisi sepuluh buah lagu ciptaannya, berarti ia hanya menerima pemasukan 2,5 juta rupiah saja dari berapapun jumlah kaset yang diproduksi. Padahal bisa dibayangkan berapa besar keuntungan produser rekaman bila VCD ini laku puluhan ribu copy di pasaran dengan harga per kepingnya 10.000 -12.500 rupiah. Alangkah jomplangnya perbandingan keuntungan yang diperoleh mereka!

Sekedar ilustrasi saja, album Kangen yang dinyanyikan Adistya Mayasari bersama Grup Rolas (Rogojampi Orkestra Lare Asli) laku di pasaran mencapai 100 ribu keping lebih, dengan harga jual per kepingnya 12 ribu rupiah. Dari hasil penjualan ini, Sandi Record, pemilih label rekaman, telah mengeruk keuntungan 1,2 milyar. Jumlah yang luar biasa bagi sang produser, lantaran tidak ada potongan royalti penyanyi atau pencipta lagu yang master lagunya telah dijual putus dalam perjanjian sebelumnya.

Di tengah ketakseimbangan nasib ini, sayang seribu sayang, Andang atau penari sekaligus penyanyi gandrung seperti Mbok Temu rupanya tak pernah tahu berapa ribu keping kaset yang digandakan di pasaran. Demikian juga sebagian seniman yang pasrah saja menerima tawaran rekaman.

”Saya hanya menggunakan prinsip rasa saja. Ketika produser mengajukan penawaran, saya minta mereka datang ke rumah, biar mereka lihat kondisi rumah saya.” Demikian pengakuan Basir, pencipta lagu yang sebagian besar karya ciptanya kerap direkam tanpa ijin ini. Biasanya Basir menerima rupiah setelah lagu-lagunya dianggap laku atau bahkan ludes di pasaran. Tanpa ikatan kontrak atau perjanjian apapun sebelumnya.

Jurus produser

Banyak akal memang untuk mengeruk laba. Begitulah pengalaman studio-studio rekaman di Banyuwangi. Mereka punya strategi jitu menjajaki pasar. Pertama-tama dirancanglah produksi kota (kaset pita), dan diputarlah beberapa lagu secara berulang-ulang di sejumlah radio. Dalam insting bisnis produser, bila banyak pendengar yang me-request lagu berarti tanda banyak pula minat khalayak pasar sehingga layak di-VCD-kan.

Biasanya, sang produser yang merangkap tugas pemasaran dan distribusi sekaligus ini memodali sekitar 3 ribu rupiah per keping untuk keperluan rekaman. Dari distributor, VCD berpindah ke sales dan perorangan. Biasanya para sales ini membeli produk dari distributor dengan harga rata-rata 8 ribu rupiah per keping, dan lalu memasoknya ke toko-toko atau bedak-bedak (kios) kaset di seluruh Banyuwangi. Di tangan para penjual eceran ini biasanya harga dipatok 10 ribu hingga 12 ribu rupiah per keping.

Modal bisnis yang kuat dan jejaring rapi yang dimiliki segelintir bos-bos inilah nampaknya yang membuat keuntungan bisnis kesenian semakin terpusat. Sementara seniman rakyat tetap tinggal hidup melarat! [Data Liputan oleh Paring Waluyo dan Hasan Basri].

*Dimuat di Harian Surya, 4 Maret 2007. Atas kerjasama Yayasan Desantara, Yayasan Tantular dan Harian Surya Surabaya. Bisa dibaca di situs Desantara: http://desantara.org

 

 

 

 


2 Comments

  1. madara uchiha says:

    klo saya baca artikel diatas, rasanya saya mo maeah aja ama produser rekaman kaset yg dengan seenaknya menjual karya seniman Banyuwangi tapi sang penciptanya gak dapat apa-apa, bahkan royaltipun gak dapat,….
    ini namanya “perampokan” karya seni.
    musti diakhiri hal seperti ini,…

  2. Kendiboy says:

    “Krosone kangen kari keseron sakat sing ono riko ring kene…….”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

March 2007
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: