Home » Fragmen Budaya di Media Massa » Saatnya Menemukan Kembali Arsitektur Tradisional

Saatnya Menemukan Kembali Arsitektur Tradisional

Arsip

Sumber: Kompas, Jumat, 16 Maret 2007

 

 

Atap bergonjong barangkali telah menjadi elemen arsitektur tradisional yang paling populer di seluruh Indonesia, selain joglo. Hampir di semua kota, kita bisa menemukan model atap rumah tradisional Minangkabau yang berbentuk runcing mirip tanduk kerbau ini.

 

Ketika elemen arsitektur lokal mulai pudar, maraknya penggunaan elemen atap bergonjong ini menarik untuk dicermati. Jika bangunan joglo—arsitektur tradisional Jawa—menjadi populer karena ada jawanisasi pada bangunan pemerintahan pada era Orde Baru, atap bergonjong populer melalui rumah makan padang yang dibawa oleh orang Minangkabau (Minang) perantauan.

 

Seperti yang ditulis oleh Hans-Dieter Evers dan Rudiger Korff dalam bukunya Urbanisme di Asia Tenggara (2002), atap rumah bergonjong ini dulu hanya digunakan pada rumah gadang di daerah dataran tinggi Minangkabau. Tidak pernah ditemukan di daerah pesisir, apalagi di kota-kota. Masyarakat Padang yang berada di pesisir memiliki tipe rumah tradisionalnya sendiri, yang terbuat dari kayu dengan beranda depan yang luas dan atapnya lurus (tidak bergonjong).

 

Namun sejak tahun 1980-an, gedung-gedung pemerintah di pusat pemerintahan Sumatera Barat itu dirancang menggunakan atap bergonjong. Para investor yang sering menjadi mitra pemerintah juga diminta memakai atap bergonjong pada bangunannya. Imbauan mengenai penggunaan atap bergonjong ini awalnya dilakukan oleh Gubernur Harun Zein pada era 1970-an hingga 1980-an, dengan semangat untuk melestarikan arsitektur tradisional.

 

 

 

Kini, hampir semua elemen bangunan urban di Padang, seperti kantor-kantor pemerintah, kantor pos, hotel-hotel, dan bank-bank pemerintah maupun swasta, berlomba menggunakan atap bergonjong, kecuali bangunan masjid yang hampir tak ada yang memakai model bergonjong.

 

Di luar Sumatera Barat, model atap bergonjong ini dipopulerkan oleh orang Minang yang merantau di berbagai kota Indonesia, terutama yang membuka warung makan. Bahkan, hingga ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura sekalipun, atap bergonjong menjadi ciri khas rumah makan padang—sebutan populer untuk Minang.

 

Hans-Dieter Evers dan Rudiger Korff mencatat, setiap bangunan yang didirikan manusia memiliki “makna” dan karena itu dia adalah simbol. Dalam hal ini, atap bergonjong telah menjadi simbol keberadaan atau identitas orang Minang. Misalnya, dengan sekilas melihat atap bergonjong di sebuah rumah makan, orang langsung bisa tahu bahwa itu rumah makan padang.

 

Namun, menjadi tanda tanya ketika bangunan joglo muncul pada bangunan-bangunan pemerintah di pelosok-pelosok luar Jawa. Adakah, joglo itu bisa menandakan keberadaan orang Jawa atau setidaknya yang mengerti mengenai makna joglo dalam tradisi kepemimpinan di Jawa?

Menjiplak atau menemukan?

Upaya membangun identitas Minangkabau hanya dari atap bergonjong saja sebenarnya juga terlalu menyederhanakan kekayaan arsitektur rumah gadang, karena ciri khas rumah gadang sebenarnya tak hanya pada atapnya.

 

Jacques Dumarçay dalam bukunya The House in South East Asia (1987) mengategorikan rumah Minangkabau atau rumah gadang (besar) sebagai bagian dari arsitektur Dong Son (Vietnam). Atap rumah ini biasanya terdiri dari lima lapis atau bergonjong limo, yang masing-masing saling bertautan. Dindingnya biasa penuh ukiran bermotif flora yang khas.

 

Lebih dari itu, sistem pembagian ruangnya juga khas dan menjadi representasi bagi sistem budaya Minangkabau yang matrilinial. Rumah gadang berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga besar dan pusat kegiatan orang yang sedarah dan seketurunan dari kerabat matrilinial (dari keluarga ibu atau mamak), baik untuk kegiatan ekonomi dan sosial maupun kegiatan budaya. Rumah gadang dikepalai seorang tungganai (mamak) dan sebagai syarat berdirinya suatu nagari di Minangkabau.

 

Walaupun mungkin berhasil menjadi identitas orang Minangkabau di perantauan, atap bergonjong yang dipakai di mana-mana itu sebenarnya hanya menduplikasi bentuk tradisional ke dalam bangunan modern. Duplikasi yang disebabkan mandeknya transformasi desain tradisional ke ranah modern.

 

Ranah arsitektur mengenal istilah hibridisasi, atau penggabungan berbagai elemen bentuk arsitektural—biasanya dari sejumlah unsur kebudayaan dan era yang berbeda. Henri Maclaine Pont merupakan arsitek Belanda—bekerja di Hindia Belanda (Indonesia sekarang) pada paruh pertama abad ke-20— yang paling terkenal dalam melakukan upaya hibridisasi bentuk dalam khazanah arsitektur Nusantara. Ia menggabungkan bentuk dan konstruksi arsitektur Jawa dan Bali dengan arsitektur kolonial.

 

Salah satu karya Pont adalah Aula Institut Teknologi Bandung (ITB) di Bandung yang sampai sekarang masih menjadi bagian paling menarik dari kampus ini. Dalam karyanya ini, Pont tak sekadar mereproduksi atap joglo Jawa atau bale Bali. Namun, dia berhasil menciptakan bangunan yang nyaman sesuai iklim tropis sekaligus membentuk citra baru arsitektur Indies.

 

Pont memulai proyeknya dengan mengkaji sistem konstruksi bangunan di Jawa, kemudian mengajukan pendapatnya sendiri tentang sistem konstruksi tersebut sesuai nilai-nilai teknologis modern. Berdasarkan telaah inilah Pont menjelajahi kemungkinan mengembangkan sistem konstruksi Jawa untuk mengakomodasikan fungsi-fungsi bangunan baru, skala aktivitas baru, dan metode produksi baru.

 

Pont memang tak lepas dari kritik. Salah satu kritik kepadanya adalah mengenai model pengkajiannya yang dinilai hanya bertumpu pada bentuk dan sistem konstruksi, sehingga mengabaikan nilai ruang itu sendiri.

 

Bagaimanapun, Pont telah memulai untuk menjadikan arsitektur tradisional sebagai teks yang terbuka untuk dikaji ulang dan diterjemahkan sesuai dengan tuntutan modern dan kondisi lingkungan. Tentunya, kita tak ingin hanya sekadar mencontek teks-teks yang telah ada bukan? [Ahmad Arif]

 


7 Comments

  1. Lomo says:

    untuk menerapkan gaya arsitektur tradisional pada bangunan-bangunan kita menurut saya hanya cocok untuk bangunan tertentu dengan fungsi/aktivitas tertentu pula. sebab arsitektur tradisional itu produk budaya pada jamannya dan tidak cocok dengan budaya kita sekarang.Gaya arsitektur bangunan kita skarang adalah produk logis dari perkembangan/kebutuhan/permasalahan/tuntutan/dll….budaya itu bersipat dinamis. Dan menurut saya aritektur tradisional itu hanya untuk kebutuhan identitas kedaerahan saja.Ada banyak hal yang patut dipertimbangkan (contohnya: bangunan dengan sosok/gaya joglo belum tentu dapat diterima di daerah yang bukan jawa demikian sebaliknya gaya arsitektur batak tdk akan cocok diterapkan pada gedung pemerintahan di Bali misalnya) jadi perlu studi yg mendalam untuk bisa merumuskan apa itu arsitektur tradisional yang meng indonesia.Indikasi negara maju tidak slalu ditunjukkan oleh dominasi arsitektur tradisionalnya. ok…udah ach…

  2. Eddy saputra says:

    Saya teruskan pembahasan soal Rumah gadang Minangkabau yang spesifik dan sangat langka ini.Kita harus tahu dan mengetahui bahwa yang sebenarnya Rumah gadang itu adalah tidak menggunakan material paku , sebagai fungsi perekat dalah hal ini disebut pasak, jadi hanya pasak dan ikat saja yang membuat rumah ini bisa mertahan ratusan tahun. Anda tentu paham bahwa alam Minangkabau , khususnya sumatra barat adalah sangat rawan dengan bencana yang berulang ulang, Gempa. Saya belum ada melihat Rumah gadang roboh diterpa gempa, walau rumah itu sudah tua dan condong seperti mau rubuh saja layaknya. Tetapi ketahuilah, inilah kehebatan arsitektur orang dahulu di ranah Minang untuk membangun Rumah gadang bagonjong. Kalau anda saksikan ada rumah bagonjong itu di padukan dengan arsitektur modern, tidaklah akan seindah aslinya , walaupun sudah menggunakan bahan bahan mutakhir. Keaslian sebuah Rumah gadang , kalau kita memasukinya akan ada rohnya, sulit dimengerti tetapi itulah adanya, beda . Mungkin itukah sebabnya kenapa rumah gadang yang jadi museum atau kita sebut juga Istana Pagaruyung di batusangkar itu terbakar hebat. Karena materialnya sudah tidak orisinil dan bisa jadi kurang persyaratan nya secara adat. Saya kurang pahamlah, tatapi begitulah kira kira. Anda ada di antara pembaca yang mau meneliti arsitertur rumah gadang ini , saya bersedia untuk diajak serta karena saya peduli untuk melestarikannya , cuman saja tangan tak sampai.

  3. Eddy saputra says:

    Bicara soal Rumah gadang ini memang menarik dan punya daya pikat tersendiri, terutama bagi para mecinta rumah tradisi , rumah lama, rumah yang bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi jauh lebih berarti dari itu.

  4. fhikal says:

    hallo…………salam knl dmn saya mau tanya….dimana kita mencari situs tentang satu negara

    saya penasaran sama negara singapura

  5. arri(cwe) says:

    asik donkkkkkk

  6. HARMOKO says:

    saya terkesan sekali membaca atikel ini. memang orang gadang banyak yang merantau ke seluruh indonesia, tapi mereka tidak pernah lupa akan cirikhasnya. coba kalau kita selaku bangsa INDONESIA mengikuti jejak orang gandang yang tidak pernah malu menampilkan khas mereka dimanapun berada, maka negara kita akan cepat maju dan tidak mudah terkontaminasi dengan budaya luar. apalagi sekarang pembangunan makin pesat, sehingga banyak orang yang mendirikan rumah mengadopsi gaya dari luar negeri. Mereka sangat bangga dengan hasil yang diperolahnya. padahal secara tidak sadar mereka menghancurkan gaya arsitektur yang ada pada daerah sendiri.

  7. mblink says:

    memang jiak ditilik dari sejarah, bangsa Indonesia belum memiliki ciri khas ruah yang mencirikan kepribadiannya. Meskipun telah ada rumah joglo namun itu hany asekedar kedaerahan sehingga belum melingkupi seluruh wilayah kita.

    rancang bangun yang bagus dan identik dengan bagsa kita harus dapat diciptkan seperti halnya negara-negra lain yang telah memiliki ciri khas tersendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

March 2007
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: