Home » Fragmen Lain » Surat Cinta Imajiner: Tentang Aku dan Kamu, Sayangku!

Surat Cinta Imajiner: Tentang Aku dan Kamu, Sayangku!

Arsip

Sayangku. Maafkan aku. Lama aku tak berkirim kabar. Tak terasa hampir tiga purnama. Sampai akhirnya pada suatu hari tiba-tiba kamu mengirimiku pesan pendek: lihatlah, malam ini bulan sedang gerhana!

Aku terkejut, kesadaranku tersentak. Apakah bulan benar-benar gerhana, ataukah ini sekadar metafora? Segera aku memandang langit, menengadah dan mataku mulai meraba. Malam itu langit terlalu pekat, mataku tak sanggup menembus awan hitam lekat. Sayang, tahukah kala itu aku mulai panik. Aku takut gerhana itu benar metafora. Kalau kalau kamu mulai rapuh dan cintamu terkikis ombak waktu.

Sayangku. Kamu pasti ingat. Obrolah di malam empat purnama lalu saat aku nyatakan kata-kata itu, tentang aku dan kamu, tentang kita, tentang cinta. ya tentang cinta…

Seringkali tatapan cinta tinggal hasrat, pesona ragawi, dan bahkan possessi. Itulah sebabnya mengapa cinta lalu menjadi begitu melukai dan menyakiti. Sayangku. Ini bisa terjadi pada siapapun, pada diri kita, juga pada diriku jika aku memandangmu sebagai objek, dan bukan sebagai subjek.

Sayangku, ingatkah perkataan Martin Buber, filsuf dan aktifis sosial yang kamu kagumi itu. Tentang relasi antar kita, aku dan kamu. Buber bilang titik terendah hubungan manusia adalah jika kita memperlakukan orang lain (the other) seperti kita memperlakukan alam bendawi (I-It relationship): ia berguna sejauh bisa melayani kepentingan kita, lalu ia kita rekayasa dan kita manipulasi. Itu bukan hakikat cinta kita, sayang. Percayalah.

Cinta yang kita tanam adalah cinta yang akan kita rawat dalam hubungan yang indah antara aku dan kamu: aku dengan segala keunikanku dan kamu dengan segala keunikan dan keindahanmu. Itulah hubungan I -Thou, sayang, hubungan yang penuh kejujuran, kesejajaran dan saling menghargai. Persepsiku tentangmu seperti adanya, dan bukan yang aku inginkan untuk penuhi hasrat dan kepentinganku, atau sebaliknya.

Sayangku, mungkin sekarang kamu sedang menatap bulan, atau memandang kilatan cahaya yang memantul dari gemiricik air kolam di taman rumah, sambil menyesali keberjarakan kita.

Tapi, bukankah hakikat keberjarakan itu merawat kesejatian cinta kita, Sayang. Dan sebaliknya kemenyatuan itu mengancam. Mengancam karena kita akan memperlakukan kamu sebagai aku, dan aku sebagai kamu, sehingga tak ada lagi identitas, tak ada lagi keunikan. Yang ada tinggal penjajahan: Kamu ada demi aku, untuk aku dan oleh aku. Bukankah Emmanuel Levinas juga pernah mengingatkan kita, Sayangku. Tentang suatu hubungan tidak menetralisir yang lain, melainkan menjaga otentisitas yang lain. Yang lain, sebagai sama sekali lain, bukan suatu objek yang menjadi milikku atau bercampur dengan aku.”

Sekali lagi jangan khawatir, sayangku. Antara aku dan kamu, dalam keberjarakan kita, ada tali penghubung yang halus, ada jembatan spiritual yang dalam. Luce Irigaray, tokoh feminis perempuan yang bukunya kamu pinjamkan kepadaku itu, pernah bilang, saat perbedaan itu dipahami dan dipersepsi sampai ke bilik terdalam jiwa, kita sebenarnya bisa saling memperkaya dan memupuk kepenuhan diri kita.

“I can be a bridge for you, as you can be one for me… in order to assist you in your becoming”. Inilah hakikat hubungan aku dan kamu, sayang. Hubungan yang selama ini kita inginkan dan kita upayakan agar saling memperkaya interioritas dan ruang terdalam jiwa kita. Insya Allah hubungan ini tidak akan menciderai, merapuhkan dan bahkan tak akan mengikis cinta kita.

Sayangku, aku sudahi suratku ini. Malam sudah menjelang pagi. Semoga adzan Subuh mampu membangunkanku dari alam mimpi.

Salam,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

March 2007
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: