Home » Politik Budaya » Amiruddin Aminullah:“Puritanisasi Islam lewat jalur kesenian”

Amiruddin Aminullah:“Puritanisasi Islam lewat jalur kesenian”

Arsip

Pertumbuhan seni Nasyid sering dinilai sebagai ekspresi Arabisasi gerakan Islam. Berikut ini komentar Amiruddin Aiminullah, M.Ag., Pengurus Wilayah NU Sul-sel, dan Muhammadiyah Yunus, Manajer group Nasyid Kelana di Makassar, seputar perkembangan group-group Nasyid Islam yang amat marak belakangan ini di Sulawesi Selatan.

Amiruddin Aminullah:
“Puritanisasi Islam lewat jalur keseniani”

Desantara : Bagaimana anda melihat perkembangan Islam di Sul-sel akhir-akhir ini?

Amiruddin : Saya kira gerakan puritanisasi Islam di Sul-sel ini berkembang cukup pesat. Terbukti dengan munculnya berbagai lembaga pendidikan yang menegaskan pemurnian Islam. Saat ini bukan lagi dikembangkan oleh Muhammadiyah, tapi lembaga Islam lain yang menurut saya jauh lebih eksklusif.

Desantara : Bukankah ada suara lembaga pesantren yang lebih toleran dan moderat?

Amiruddin : Ya, tapi apa yang dilakukan pesantren semacam ini kurang terekspos. Gerakan Islam di Sul-sel justru seakan-akan tidak diperankan oleh lembaga-lembaga pesantren. Bahkan dalam konteks tertentu pesantren-pesantren ini malah dijalari oleh gerakan puritanisasi Islam.

Desantara : Maksudnya?

Amiruddin : Saat ini misalnya pesantren diajak ikut serta memperjuangkan Islam lewat gerakan formalisasi Islam, misalnya dengan mendukung perda-perda syariat Islam. Mereka juga memperkenalkan puritanisasi Islam lewat jalur kebudayaan dan kesenian. Bila yang pertama kadang pesantren masih bisa bersikap kritis bahkan menolak, tapi yang kedua mereka terima dengan senang hati karena seakan-akan menjadi bagian dari kebiasaan pesantren itu sendiri.

Desantara : Bisa Anda beri contoh konkrit?

Amiruddin : Misalnya Nasyid. Lagu-lagu Nasyid ini merambah kalangan pesantren. Padahal Nasyid ini berbeda dari lagu-lagu yang biasa dikembangkan pesantren seperti shalawatan atau lagu-lagu yang berisi petuah orang tua kita dulu yang mengajarkan kebaikan. Nasyid tidak bisa mengakomodasi lagu-lagu lokal tersebut karena asalnya memang dari Timur Tengah dan dimaksudkan sebagai lagu-lagu untuk memperjuangkan kemurnian Islam. Selain itu Nasyid ini memang menjadi kesenian para aktivis-aktivias Islam yang puritan, bahkan lagu-lagu ”mars”-nya kalau kita perhatikan mirip dengan nasyid.

Desantara : Lantas bagaimana dengan dengan pesantren?

Amiruddin : Pesantren tidak memahami itu. Nasyid dianggapnya sebagai lagu Islami karena itu patut dikembangkan di pesantren. Padahal warnanya jelas amat berbeda dengan garis perjuangan Islam kultural yang dikembangkan pesantren. Karena itu menurut saya, gerakan puritansiasi Islam lewat jalur kesenian justru harus lebih diwaspadai. Karena ini bisa mempengaruhi kita tanpa sadar, sementara kita hanya seakan-akan saja mengambil bagian dari pengembangan ajaran Islam. []

Desantara : Bila demikian, gerakan macam apa yang mestinya dikembangkan kalangan pesantren?

Amiruddin : Apa yang dilakukan oleh para Anre Gurutta dulu semacam AGH Ambo dalle ataupun AGH As’ad itulah yang kita lanjutkan. Mereka mengembangkan Islam lewat pendidikan dan tanpa menghabisi kultur lokal yang ada dalam masyarakat. Bahkan dalam soal kesenian, kalau tak salah AGH Ambo dalle membuat lagu lokal sendiri yang berbahasa Bugis namun sarat dengan nilai-nilai Islam. Hal-hal semacam itulah yang mestinya dilakukan oleh pesantren. Jadi ada kemampuan kita mengkreasi dialog antara ajaran Islam denga lokalitas kita.

Muhammadiyah Yunus:
”Nasyid mestinya mengakomodir musik dan kesenian lokal”

Desantara : Boleh saya tahu, kenapa Anda tertarik menggeluti kesenian Nasyid ini?

Yunus : Selain berkesenian, dengan Nasyid kita juga berdakwah. Dakwah dengan jalan seni bisa lebih luwes. Disinilah kelebihannya kalau kita bisa menyampaikan syiar Islam lewat kesenian.

Desantara : Ada yang menilai pertumbuhan Nasyid adalah ekspresi puritanisasi Islam. Menurut Anda?

Yunus : Mungkin persepsi itu benar. Tapi bagi kami group Nasyid Kelana ini justru lain. Nasyid itu maknanya nyanyian, sebagai nyanyian ia tidak harus kaku mengikuti bentuknya yang dari Arab. Kita di Indonesia mesti bisa berimprovisasi agar Nasyid ini tidak sekedar media dakwah Islam tapi juga bisa menjadi simbol kebudayaan lokal kita.

Desantara : Kongkritnya?
Yunus : Sekarang ini, misalnya, kami tengah mengembangkan Nasyid dalam bahasa Bugis dan Makassar, jadi bukan lagi melulu berbahasa Arab. Bahkan kami membayangkan nantinya Nasyid ini modelnya tidak hanya akapella saja, tapi juga menggunakan musik yang digabungkan antara musik modern semacam perkusi dengan musik lokal seperti kecapi atau sinrilik.

Desantara : Kalau begitu apa nanti masih disebut Nasyid?
Yunus : Sekali lagi saya katakan makna Nasyid adalah syair lagu dengan nuansa Islami. Jadi kombinasi tadi juga bisa disebut Nasyid, yang penting isi dan lirik lagunya membawa pesan dan nilai yang Islami. []


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

April 2007
M T W T F S S
« Mar   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: