Home » Politik Budaya » Nasyid, Arabisasi dan Identitas Puritan Islam

Nasyid, Arabisasi dan Identitas Puritan Islam

Arsip

Nasyid bukanlah sekadar hiburan. Nasyid tidak hanya sebagai pengisi waktu luang belaka. Nasyid Islami akan membangkitkan hamasah, semangat perjuangan, bukan sekadar lagu-lagu cinta cengeng dan picisan.

Begitu bunyi kalimat yang tertulis dalam pengantar sebuah buku Nasyid Qita, Senandung Para Mujahid yang dikeluarkan oleh sebuah penerbit di Jakarta. Buku ini memuat koleksi lirik-lirik dari berbagai group Nasyid yang barangkali tidak hanya sudah dihafal oleh para mahasiswa dan aktifis kampus di perkotaan, tapi juga oleh para santri di desa-desa yang dulu hanya mengenal musik qasidahah atau musik hadrah. Group seperti Izzatul Islam, Hijaz, Suara Persaudaraan, The Zikr, Snada, Fuzna, Kanvas dan Raihan barangkali sudah tak asing di telinga mereka.

Perkembangan Nasyid yang begitu pesat dalam satu atau dua dekade belakangan ini sebenarnya fenomena yang belum terlalu lama, meski sebenarnya bukan baru pula. Dini al-Fazilah, seorang pengamat Nasyid dari UI Jakarta, misalnya, mengatakan jenis musik ini sudah terdengar di telinga masyarakat sejak sekitar tahun 60-an. Namun musik Nasyid ini baru booming pada awal tahun 80-an bersamaan dengan momentum keberhasilan Revolusi Islam Iran 1979 yang sedikit banyak telah menginspirasikan sejumlah gerakan aktifis Islam di berbagai penjuru dunia.

Pelan namun pasti Nasyid terus memperoleh pasar konsumen tersendiri di tengah masyarakat. Bahkan sesudah reformasi gaungnya mulai ikut mewarnai blantika musik Indonesia. Group Snada, misalnya, berhasil menjual sekitar 500 ribu copy albumnya yang berjudul Neo Salawat. Sebuah jumlah yang tak bisa dibilang kecil mengingat rata-rata produksi album group Nasyid mencapai 15 album pertahun. Padahal menurut Diny, sudah ada ratusan bahkan mungkin ribuan group Nasyid yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air.

Di Sulawesi Selatan, khususnya di Makassar, group-group Nasyid belakangan ini berkembang pesat. Menurut Ustadz Muhammadiyah, yang biasa dipanggil Ustadz Mamad, manajer group Nasyid Kelana di Makassar, jumlah group Nasyid sekarang ini mencapai lebih dari 30 group. Selain Kelana, ada pula sejumlah group lain seperti Launun, Al-Ridho, Kareba, Tenar, Karang, PIKIH, Al-Birr Voice Nasyid. Ini belum termasuk sebuah group yang dikelola oleh Sanggar Seni Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, dan di pesantren IMMIM yang setiap angkatan hampir memiliki group Nasyid sendiri.

Bukan sekadar eksis, sejumlah group ini rupanya juga berhasil menelorkan album dan terus berupaya menggaet peluang pasar. Apalagi seorang penjual CD di Pasar Central Makassar mengaku bahwa CD atau kaset-kaset Nasyid ternyata lumayan laku. “Pembelinya biasanya berjilbab besar dan pria berpakaian gamis,“ demikian akunya..

Puritanisasi

Dari sisi bisnis perkembangan musik Nasyid tersebut mungkin akan menjadi peluang ekonomi yang menguntungkan. Tapi di sisi lain, adakah fenomena ini memperlihatkan perkembangan lain dalam dinamika sosial kultural masyarakat kita belakangan ini?

Sebagian kalangan menilai pesatnya perkembangan Nasyid menunjukkan suksesnya syiar Islam. Dengan kata lain, agama Islam sudah membudaya dalam kehidupan masyarakat Sul-sel bahkan lewat jalur musik.

Namun begitu pandangan berbeda justeru dikemukakan oleh Amiruddin Aminullah. Menurut salah seorang pengurus wilayah Nahdlatul Ulama (NU) ini perkembangan Nasyid menandai perkembangan puritanisasi gerakan Islam di Sul-sel. Betapa tidak, menurut Amiruddin perkembangan Nasyid yang sampai merambah ke pesantren-pesantren ini telah mengubah kecenderungan kesenian yang selama ini lazim dinikmati masyarakat santri. Seperti salawatan, gambus dan nyanyian-nyanyian yang berasal dari pesan-pesan orang tua dulu.

“Kesenian dan musik di pesantren dulu lebih bisa menghargai kesenian lokal dan mengapresiasi tradisi, sedangkan Nasyid ini memang betul-betul mengimpor dari Timur Tengah. Kadang-kadang malah syairnya harus Arab,” ujar dosen Fakultas Syariah UIN Alauddin ini.

Hal senada juga disampaikan dosen UIN lain yang ikut membina kesenian bernuansa Islam di kampus. Abdul Muis, nama dosen ini, mengaku meski di UIN terdapat group Nasyid PIKIH yang dibinanya namun sesungguhnya dirinya merasa kurang sreg atas keberadaan Nasyid dalam konteks Sul-sel.

“Nasyid itu nuansanya terlalu kota, nggak cocok dibawa ke desa,” ujarnya. Karenanya ia mengaku berusaha mengkreasi nasyid yang dibinanya di antaranya dengan mengangkat lagu-lagu daerah dan mengiringinya dengan alat musik kecapi.

Sementara itu komentar lain datang dari Mukhlis, salah seorang pengurus sanggar seni di kampus UIN. Menurutnya, musik Nasyid mengandung muatan ideologi Islam puritan yang kental. Biasanya ia berkembang dan dikelola oleh lembaga-lembaga dakwah kampus ketimbang sanggar seni yang mengutamakan ekspresi yang lebih bebas.

Beberapa komentar di atas memang tak berlebihan. Dalam kata pengantar sebuah buku yang dikutip sebagian di atas, Nasyid adalah sarana membangkitkan hamasah, semangat jihad, dan juga solidaritas aktifis Islam. Selain itu Nasyid juga dianggap mewakili musik Islami yang murni, yang membedakan diri dengan musik lain yang dianggap ”cengeng”, ”picisan” dan ”jahiliyah”.

Maka menjadi sangat relevan bila kita jumpai di awal kemunculan Nasyid Islami ini didominasi oleh lagu-lagu berbahasa Arab. Sebagian lazim disebut Nasyid Harokah, yakni Nasyid yang berfungsi sebagai penyemangat para mujahidin dalam memperjuangkan agama Allah. Al Yauma Yaumul Ma’rakah (Hari ini hari Pertempuran), Min Hashodi Beirut (Dari Kerikil-Kerikil Beirut), Fityatul Haq (Pemuda Kebenaran) adalah beberapa contoh saja nasyid Harokah ini. Group-group macam Arruhul Jadid, Shoutul Harokah, dan Izzatul Islam adalah beberapa kelompok saja yang mengembangkan Nasyid macam ini. Genre musik macam ini pula yang lalu menjadi semacam identitas kolektif para aktifis Islam kampus perkotaan sejak beberapa dekade belakangan ini.

Ustadz Ali Bakri, seorang pengurus Al-Birr Universitas Muhammadiyah Makassar, mengakui bahwa lagu-lagu mars milik kelompok aktifis muslim kampus ini hampir serupa. Kelompok-kelompok lembaga dakwah di berbagai kampus seperti UNHAS, UIN, dan UMM juga mengidentifikasikan diri mereka dengan Nasyid. Bahkan KPPSI yang selama ini getol memperjuangkan formalisasi syariat Islam di Sul-sel menghendaki Nasyid sebagai musik atau kesenian yang perlu dikembangkan karena bernuansakan syiar Islam.

Maraknya seni Nasyid bersamaan dengan gencarnya puritanisasi Islam di sejumlah wilayah di Tanah Air, terutama di Sulawesi Selatan nampaknya bisa dinilai sebagai kecenderungan lain dalam dinamika sosial kultural masyarakat kita.

Kecenderungan yang pantas disebut Arabisasi ini bukan hanya manifes dalam bentuk perda-perda Islam belakangan ini yang makin marak, melainkan juga pembentukan semacam identitas kultural bersifat kolektif dalam bentuk kesenian, yang diantaranya berupa Nasyid Islami. [DESANTARA]

*Dimuat di Harian Fajar Makassar, 30 April 2007. Kerjasama Yayasan DESANTARA dan Harian FAJAR


2 Comments

  1. silahkan, mbak fadzilah… silahkan

  2. Nor Fadzilah says:

    boleh tak paparkan maklumat tentang nasyid yang terkini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

April 2007
M T W T F S S
« Mar   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: