Home » Politik Budaya » Ludruk pun Menyentuh Lumpur Lapindo

Ludruk pun Menyentuh Lumpur Lapindo

Arsip

Ludruk bukan sekadar hiburan. Secara historis, kesenian tradisional rakyat Jawa Timur ini menjadi medium mengangkat masalah kehidupan rakyat bawah di atas panggung. Masihkah jatidiri ludruk macam ini bertahan?

Malam itu, 14 April 2007, grup ludruk “Karya Budaya” asal Mojokerto kembali manggung. Irama kendang terdengar apik dan rancak mengiringi, gong, saron, bonang, dipadu rebab, seakan saling memacu semangat penari remo di atas panggung. Dengan mimik ekspresif, gerak gemulai, mereka membawakan sebuah tari yang biasa menjadi pembuka setiap pertunjukan ludruk.

Tak lama berselang, gending jula-juli yang dikidungkan Cak Slamet pun menambah gairah para penonton yang memadati area panggung di daerah Gedangan, Kabupaten Sidoarjo ini.

Aku nek delok berita nok TV, bencana alam akeh wong sing podho wedi. Sak marine Aceh kenek tsunami, terus beruntun gak mari-mari. Akeh kebanjiran ugo gempa bumi, tanah longsor yo topan badai.

Kidungan Cak Slamet yang dikenal sebagai pemain ludruk yang cerdas ini terus mengalun di antara bunyi gamelan. Krisis dan berbagai bencana di tanah air yang melahirkan penderitaan rakyat menjadi tema-tema kidungannya. Bencana Tsunami dan tanah longsor hanya awal kidungan, terbukti tragedi Lumpur Lapindo di Sidoarjo yang telah menghancurkan rumah-rumah dan memaksa penduduk sekitar memanggul penderitaan, akhirnya keluar dari bibirnya.

Lumpur lapindo tambah gegirisi, gak gelem mampet sampek saiki. Tekone gak kondo-kondo, lumpur panas sing gawe rekoso. Ludes ambles pirang-pirang deso, Reno Kenongo, Siring, Jatirejo…

Ludruk dan kritik sosial, seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan. Bahkan ludruk, melalui para pemainnya yang selalu tampil cemerlang itu mampu merekam dinamika sosial dalam masyarakat. Inilah mengapa ludruk amat berkembang baik dan selalu bersemayam di hati masyarakat Jawa Timur.

Bagi mereka yang mengalami dan generasi baru yang membaca sejarah ludruk, kesenian rakyat ini kerap kali berfungsi sebagai hiburan sekaligus alat penerangan kepada rakyat dan kritik sosial. Kita ingat di jaman kemerdekaan, ludruk digunakan untuk menyampaikan pesan persiapan Kemerdekaan. Puncaknya kidungan Jula Juli yang menjadi legenda di seluruh grup Ludruk di Indonesia yaitu :” Bekupon Omahe Doro, Melok Nipon Soyo Sengsoro”, membuat Cak Durasim dan kawan kawan ditangkap dan dipenjara oleh Jepang.

Apakah jatidiri ludruk ini masih bertahan di tengah tuntutan pasar yang menghendaki ludruk semata-mata tampil sebagai tontonan hiburan?

Kidungan Cak Slamet di atas rupanya semakin menegaskan bahwa jatidiri ludruk belum habis. Melalui kreatifitas para pemainnya, ludruk menjadi representasi suara rakyat yang paling hakiki. Dalam penuturannya, kidungan itu sebenarnya untuk lebih mendekatkan panggung ludruk dengan kejadian yang dialami warga Sidoarjo. Cara ini ia tempuh untuk menyentuh emosi warga, lantaran cerita ludruk yang dibawakan malam itu sendiri sebenarnya tidak bertema bencana.

Strategi macam ini pula yang dikemukakan oleh Chattam AR, mantan pemimpin “Ludruk Persada”, Malang. Menurutnya, pemain ludruk harus bisa mengenal adat dan kebiasaan dari kelompok masyarakat yang menanggap atau menontonnya. “Pemain ludruk itu harus tahu logat, tata busana, bahkan kebiasaan dari orang-orang yang akan menontonnya,” kata Chattam.

“Dengan mengenal kebisaan sehari-hari penonton, maka pemain ludruk dapat membuat cerita, lawakan, maupun kidungan yang bertalian erat dengan nilai-nilai yang dipahami oleh para penonton dan kejadian yang dekat dengan ingatan penonton,” lanjutnya. Melalui pemahaman terhadap peristiwa sehari-hari inilah tak jarang para seniman ludruk menyelipkan kidungan atau lawakan yang bernuansa kritik sosial.

“Kritiknya seniman ludruk itu sekilas tampak kasar, tetapi orang yang dikritik itu tak merasa sakit hati,” aku Soewito, pelawak ludruk yang kerap tampil bersama Kartolo di Surabaya.

Selain kritik yang tepat, seniman ludruk biasanya tahu bagaimana mengemasnya dengan humor. Humor adalah sarana membungkus kritis, kata Supali yang berperan sebagai pelawak di Ludruk Karya Budaya ini. “Dengan beban hidup yang berat, penonton butuh hiburan. Kalau hanya berisi kritik tho’, ludruk yang menjadi garing alias kurang penonton,” ujar Supali membeberkan pengalamannya.

Begitulah, meskipun jaman berubah kesenian arus bawah ini masih memperoleh tempat di hati para penontonnya. Ludruk sebagai hiburan dan penyambung nurani rakyat yang menjadi basis sosial kulturalnya. Semoga. (Paring Waluyo dan Happy Budhi/TIM DESANTARA).

*Dimuat di HARIAN SURYA Surabaya, Minggu 6 Mei 2007. Kerjasama YAYASAN DESANTARA, TANTULAR dan HARIAN SURYA. Bisa di akses langsung ke : http://desantara.org


1 Comment

  1. Laili Hanum says:

    Ludruk hrs dilestarikn. so, jgn kemakan kemoderan skg. ank muda, bgn kesenian tradisional kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

May 2007
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: