Home » Politik Budaya » Pelajaran Kesenian di Mata Pendidik

Pelajaran Kesenian di Mata Pendidik

Arsip

Oleh: Andi Marliah

Seni salah satu aset budaya bangsa. Hilangnya budaya bangsa bagai cahaya di ambang mata, namun sulit tergapai

Fenomena ini menjadi problem bagi masyarakat pengemban seni budaya sehingga mereka tergerak untuk membangkitkan seni budaya dengan berbagai upaya. Yah, paling tidak, mereka mampu bertahan menjaga dan melestarikan seni budaya tersebut dari kepunahan. Sementara, sebagian masyarakat yang paham dan mengerti akan

nilai seni budaya bangsa rindu ingin menyaksikan seni tersebut dalam setiap acara perayaan ataupun pagelaran, khususnya seni tari, lantaran seni tarilah yang jarang ditampilkan dalam setiap acara khusus dibandingkan seni musik dengan berbagai corak iramanya.

Upaya pengemban seni kita untuk mengangkat seni daerah sebagai budaya bangsa cukup mendapat respon dari pihak pemerintah. Namun, pancaran seni budaya tidak secerah di jaman masyarakat yang belum mengenal megahnya jaman modern. Kesibukan dan kepentingan pribadi turut menghalau perhatian, sehingga kiat mereka dalam menampilkan seni budaya hanya sebagai tontonan belaka, tanpa perduli arti nilai seni budaya. Masyarakat sekarang ini hanya tersorot kepada budaya asing, yang dianggap lebih mengangkat prestise diri di jaman modern ini.

Untuk mempertahankan eksistensi seni sebagai budaya bangsa, salah satu ruang yang lapang dan landasan pengenalan seni adalah pendidikan sebagai wadah utama. Dalam lingkup ini, guru pendidikan seni sebagai dinamisator menanamkan seni budaya daerah dalam jiwa anak-anak bangsa. Meski kita ketahui, guru seni memiliki suatu keterbatasan kompetensi dalam mengajarkan pendidikan seni di sekolah. Apalagi pelajaran seni sendiri mencakup empat cabang yang meliputi seni tari, seni musik, seni rupa; seni yang harus diajarkan dalam satu semester di tingkat Sekolah Dasar dan Menengah.

Keempat jenis kesenian ini tidak mungkin diajarkan oleh seorang guru seni saja. Tetapi diajarkan oleh guru-guru yang sesuai kompetensinya masing masing. Hal ini dapat terpenuhi apabila sekolah mampu mengadakannya, termasuk menyediakan fasilitas yang dibutuhkan. Apatah lagi dalam mengajarkan seni tari, yang butuh sarana alat musik daerah yang harganya cukup lumayan. Sementara dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang disiapkan belum tersalur dalam pelajaran seni tersebut.

Tantangan ini membutuhkan suatu kerja keras bagi guru-guru pendidikan seni. Gagasan dan kreatifitas guru pendidikan seni adalah modal utama, untuk meyakinkan pihak-pihak yang bersangkutan agar mereka tergugah memperhatikan lebih dalam nasib guru-guru pendidikan seni yang mengajar di sekolah-sekolah terpuruk dan belum mapan.

Mengajarkan pendidikan seni selain pemahaman konsep materi, penanaman kesadaran akan potensi yang dimiliki setiap siswa merupakan hal yang utama. Di samping itu pula siswa harus dapat menampilkan kreatifitas karya-karya seni melalui pameran dan pagelaran yang dilaksanakan di sekolah masing-masing.

Kegiatan pameran ataupun pagelaran harus terlaksana sebagai akhir tercapainya tujuan pembelajaran pendidikan seni. Dan sebagai penentu tercapainya aspek kompetensi yang terpatri dalam tubuh pendidikan seni adalah aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Oleh karena itu, tidak salah jika pelajaran ini dikategorikan sebagai mata pelajaran yang bersifat dinamis karena dalam kurikulum apapun yang berlaku, kateri kesenian tetap fleksibel dalam menerapkan metode dan strategi pembelajarannya. Terutama penerapan Kurikulum Berbasis Kompotensi (KBK) yang selanjutnya menuju Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Dari ilustrasi di atas dapat kita pahami bahwa pendidikan seni memiliki kekhasan tersendiri yang tak dimiliki mata pelajaran lain. Namun toh pelajaran ini masih dianggap tidak urgen. Guru pendidikan seni dianggap biasa-biasa saja karena pelajaran ini dianggap ringan, tidak membutuhkan pengolahan intelektual untuk mencapai hasil pembelajaran.

Pandangan ini sudah mendarah daging dalam dunia pendidikan. Mereka kurang menyadari bahwa dalam mempelajari seni, pengolahan intelektual amat berperan, baik dalam penanaman konsep maupun penerapannya melalui demonstrasi. Dalam seni tari, misalnya, pemahaman gerak dan kemampuan melakukan gerak tari secara ekspresif serta penyesuaian ritme irama, tak akan mungkin tercapai apabila seorang penari tidak memiliki kompetensi dan kecerdasan yang tinggi saat melakukan gerakan-gerakan tersebut.

Begitu pula dalam menikmati suatu karya seni. Dibutuhkan kemampuan apresiasi yang tinggi untuk memahami lebih dalam nilai-nilai karya seni, yang tentunya dapat tercapai apabila penikmat seni itu memiliki tingkat kecerdasan dan kemampuan menanggapi makna-makna yang terkandung dalam karya seni tersebut. [TIM DESANTARA]

*Dimuat di Harian FAJAR Makassar, 31 Mei 2007. Kerjasama Yayasan DESANTARA dan Harian FAJAR Makassar.

 

 


9 Comments

  1. syauqi says:

    berkarya seni adalah hal yang sangat menyenangkan

  2. Rakha says:

    Ayo… jadikan pendidikan estetika sebagai mata pelajaran yang mendapat alokasi waktu yang lebih. SD-SMP Islam Assyukro, Sekolahmu bagus. Sayang kalau tidak bisa mendapatkan guru seni yang berkompeten.

  3. Mayang says:

    Saya pernah melihat beberapa orang anak usia 7-8 tahun belajar melukis di teras rumahnya. Dibimbing oleh seorang guru private, mereka asyik menggambar lukisan relief air terjun dengan media kanvas dan cat. Tekniknya sangat sederhana hingga mereka mampu membuatnya. Padahal kalau lihat hasilnya, saya tak akan pernah menyangka kalau itu dibuat oleh anak kecil. Kagum saya pada gurunya yang sangat inovatif dalam mencari kreasi baru hingga anak-anak tertarik.

  4. Barrakha says:

    Beri kebebasan sekolah untuk mengembangkan pendidikan seni.Perbanyak methode praktek untuk melatih skill. Jadikan teori yang ada selama ini sebagai pengembangan wawasan penunjang praktek. Berikan fasilitas yang memadai. Untuk SD-SMP Islam Assyukro, dengan fasilitas yang telah anda miliki, sangat disayangkan apabila pendidikan seni tidak diajarkan oleh guru yang berkompeten. Kegiatan ekstrakurikuler seni kalau bisa diajarkan oleh guru yang bisa mengajar dari level TK s/d Dewasa. Khusus pendidikan Seni, test sejauh mana skill guru tsb.

  5. Mayang says:

    Saya pernah melihat beberapa orang anak usia 6-7 th belajar melukis di teras depan rumahnya.awalnya, melihat karyanya saya ragu. Lukisan relief batu saya yakin orang dewasapun sulit. Tetapi setelah saya ikuti proses pembuatannya, ternyata sangat sederhana dan mudah dikerjakan oleh anak kecil. Rupanya skill dan kemampuan guru sangat berperan dan juga sangat inovatif mencari teknik dan karya baru. Anak diajak berkarya lewat beragam media. Tidak terpaku pada crayon yang sebenarnya bersifat instant.

  6. Junior says:

    Sekarang ini banyak sekali kursus melukis dan private. Guru lukispun banyak yang menjadi guru perdatang pada sekolah-sekolah. Tapi tidak semua memiliki kompetensi yang baik. Bahkan banyak guru lukis tetapi tidak bisa melukis. Hanya bisa mengajak anak-anak mewarnai gambar-gambar kopian. Padahal untuk mengembangkan kreatifitas anak bukan cuma itu. Dibutuhkan cara-cara menggambar bentuk yang baik agar anak dapat bebas mengekspresikan imajinasinya. Juga perlu kiat-kiat agar motorik halus anak terlatih dengan baik.

  7. Barrakha says:

    Terkadang pelajaran seni di sekolah tidak memfokuskan pada pengembangan skill dan kemampuan siswa. Materi banyak berkutat pada teori-teori dan pengetahuan yang sebenarnya merupakan penunjang materi praktek. Padahal jika dikembangkan secara khusus lewat program pengayaan/ekstrakurikuler, pendidikan seni seperti seni musik, seni tari, seni lukis dan lainnya, akan menghasilkan prestasi yang cukup membanggakan. Sangat sulit pendidikan seni dipegang oleh satu guru.Dibutuhkan satu tenaga khusus untuk mengajar satu bidang seni. Apalagi seperti di SD-SMP Islam Asyukro yang memiliki kelengkapan fasilitas, jika tidak dipegang oleh guru yang berkompeten, akan sangat disayangkan.

  8. rohman says:

    yang namanya seni tu memang penting, karena seni dunia ini menjadi indah, maka kesenian harus benar-benar ditanamkan pada anak didik. karena saat ini banyak masyarakat yang melepaskan seni (estetika) dalam kehidupannya

  9. lalan says:

    saya membutuhkan segera guru seni dan budaya untuk mengajar di SD-SMP Islam al-Syukro Yayasan Yada’i Jl. Otista Gg. H. Maung Ciputat elp. 021 7443322/08580618071

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

May 2007
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: