Home » Politik Budaya » Pendidikan Seni, Untuk Apa?

Pendidikan Seni, Untuk Apa?

Arsip

Kolom Bisri Effendi

            Seni atau kesenian tampaknya harus mengalami kenyataan paling sial dalam dunia pendidikan. Ia pernah ‘dimanjakan’ pada era 50-60an, tetapi lalu ‘dianak-tirikan’ di sepanjang masa Orde Baru. Bahkan dalam beberapa tahap Pembangunan Lima Tahun (pelita), pendidikan seni nyaris musnah atau, di sejumlah sekolah, diposisikan sebagai ekstra-kurikuler. Menjelang orde politik terpanjang itu berakhir, muncul upaya di banyak tempat untuk memasukkan kembali seni ke dalam intra-kurikuler, tetapi itupun ternyata harus dipaket ke dalam apa yang kemudian dikenal sebagai muatan lokal (mulok). Suatu paket pendidikan yang terkesan sebagai basa-basi politik.

            Tetapi, marjinalisasi (penganak-tirian) seni dalam sekolah formal itupun juga sering dituduh atas kemauan politik. Rezim Orde Baru yang memprioritaskan sektor ekonomi dan industri di satu sisi dan cenderung memosisikan kebudayaan terutama kebudayaan daerah sebagai ‘ancaman’(baca: GBHN 1973-1993) di sisi lain sangat berpengaruh pada perencanaan pendidikan kita. Orientasi pada penguasaan ilmu alam, teknologi, dan matematika dalam kurikulum jauh lebih menonjol ketimbang pada ilmu sosial, bahasa, apalagi kesenian. Akibatnya, bidang-bidang pengetahuan dan ketrampilan tersebut mendapat prioritas berlebih.

            Seni atau kebudayaan pada umumnya, kala itu dan mungkin hingga sekarang, menghadapi situasi dan berada dalam posisi yang dilematis. Ketika dipandang sebagai ungkapan keindahan tertentu atau persoalan estetika, ia diposisikan tak lebih dari sebuah klangenan, tontonan, dan pelipur lara. Sementara manakala dipandang sebagai ekspresi pandangan dan sikap tertentu atau lebih luas sebagai ungkapan aspirasi, maka iapun lalu dianggap sebagai ‘ancaman’ terhadap integrasi nasional yang dirumuskan secara politik dan militer. Sebagai persoalan estetika maupun ‘ancaman’ politik, seni dan kebudayaan lalu menjadi tak penting bagi kepentingan industri, ekonomi, dan politik. Oleh sebab itu, para petinggi Orde Baru menganggap tak perlu memberikan ruang belajar baginya dalam pendidikan formal.

            Pandangan bahwa seni adalah sekedar klangenan atau pelipur lara memang bukan monopoli elite politik Orde Baru. Para budayawan secara umum dan akademisi kampus di bidang kebudayaan masa itu, dan sepertinya hingga sekarang, juga tak jauh berbeda. Seni lebih dilihat sebagai hanya untuk keperluan eksternal seniman yang bersangkutan, bukan untuk memenuhi kebutuhan diri sang seniman dan kelompoknya. Mungkin ini sangat berkaitan dengan ‘ideologi’ pendiri dan pendukung manifest kebudayaan yang selalu berkampanye “seni untuk seni”, tetapi implikasinya adalah seni menjadi berjarak dengan diri dan komunitas, apalagi dengan problem-problem sosial yang menghimpit warga masyarakat lebih luas.  

            Lebih jauh lagi, seperti yang dilihat para penentu pendidikan, seni hanyalah  semacam ketrampilan menggerakkan tangan-kaki-tubuh, bersuara, menghafal, bertutur, menggores benda keras, menyaput, mengguratkan pena, dan seterusnya. Oleh karenanya, pendidikan seni di sekolah hanya dimaksudkan untuk melahirkan anak-didik yang trampil berkarya seni, atau seperti yang sering diajukan sejumlah pengamat seni, generasi pekerja seni.

            Mengembalikan makna subtansial seni sebagai bagian terpenting dari diri seseorang dan komunitas menjadi teramat penting dan tak mungkin ditunda. Karena hanya dengan makna seperti itu, pendidikan seni akan melahirkan generasi yang berkebudayaan, manusia yang berperan dalam kemanusiaan.

*Dimuat di Harian FAJAR Makassar, 31 Mei 2007. Kerjasama YAYASAN DESANTARA dan Harian FAJAR Makassar

 

 


7 Comments

  1. araska says:

    seni adalah untuk kehidupan

  2. arif setyawan says:

    apa yang menjadi kendala dalam pengembangan pendidikan seni, untuk dunia pendidikan saat ini. khususnya pendidikan seni di SD, karena kami ini pengajar di Sekolah dasar

  3. Salam Seni

    Lama saya bergaul dengan pendidikan seni; tetapi pasang surut arti pendidikan seni semakin disurutkan oleh kepentingan praktis. Pendidikan seni di sekolah UMUM (SD-SMA)sebenarnya bukan mencetak menjadi seniman melainkan seni sebagai media pendidikan. jika pendidikan adalah memanusiakan manusia, maka pensisikan seni adalah juga demikian “memanusiakan manusia”. Dalam arti manusia menurut hakikat prikologi adalah keberadaan Cipta-Rasa dan Karsa. pendidikan seni mengembangkan cipta melalui kreativitas dan didahului dengan pemahaman bentuk (kognisi), dan yang menjadi insiprasi adalah: alam, dan karya seni serta penghuni alam yaitu manusia. Rasa dibangun melalui apresiasi seni sehingga tumbuh toleransi seni dan sosialnya. seni sebagai karya tidak akan lepas dari penciptanya maka apresiasi seni sekaligus memahami pencipta baik perorangan dan masyarakat pendukungnya. disinilah letak pendidikan multikultural dalam pendidikan seni. Karsa manusia dibangun dengan berkarya dua dan tiga dimensi yang akan memberikan dampak peningkatan intelegensi visual (rupa dan tari) serta intelegensi auditorial – lihat de porter. dampak positif berkarya adalah kemampuan inderawi menangkap obyek sebagai bagian dari pendidikan visual (mata dolanjut dengan pengembangan imajinasi).
    Akan tetapi,
    Semua yang pernah saya pelajari di Austral;ia ini tidak ada dalam KTSP yang sekarang berganti nama mata pelajaran seni budaya. jika dilihat dari hakiat pendidikan seni, mata pelajaran ini berbasis pendekatan eksistensialisme yang hanya akan bergulat pada karya: karya diapresiasi maupun mencipta karya. lalu dimana akan memperhatikan alam Indonesia sebagai inspirasinya berkarya. jadi semakin dangkal pemahaman psikologi dan filosofinya. esensi pendidikan seni adalah pendidikan keindahan (atau Estetika) yang telah dimulai dari Plato dan socrates (lihat dialognya) bahwa seni yang dibuat akan memberikan pembelokan arti keindahan yang sesungguhnya karena interpretasi senimannya sudah terlampau jauh. kemudian diinterpretasi lagi oleh anak didik, lalu mungkinterdapat kesalahan, dan akhirnya makna alam dalam hidup ini hilang. itul;ah yang terjadi dalam dunis pendidikan seni yang telah dikemas menjadi SENI dan BUDAYA.
    semoga melalui tulisan singkat ini dapat berbagi pengalaman yang jelas akan menemukan kembali makna seni sebagai media pendidikan.
    Hajar Pamadhi
    Dosen Pendidikan Seni Rupa -Universitas Negeri Yogyakarta

  4. samsiah says:

    pendidikan seni adalah salah satu pentransferan ilmu yang sangat menyenangkan bagi anak2 khususnya karena dengan seni, salah satunya yaitu seni musik itu benar2 mempermudah anak dapat mengingat. apalagi seni selalu bersifat bebas dan riang. dengan pendidikan seni yang terintegrasi membuat pembelajaran di sekolah lebih menyenangkan. thx

  5. mistararam says:

    pendidikan seni dapat diselenggarakan secara formal dan informal, serta bersifat terintegrasi. Saya pernah mengamati pembelajaran seni di tingkat SD yang dilaksanakan oleh guru SD Tompokersan 3 Lumajang, sewaktu anak berbaris mau masuk di kelas telah dimulai untuk pendidikan seni. Siswa disiapkan dengan berbaris, membaca Basmalaah, menghormat pada bu Guru, dan oleh ibu Guru tersebut disambut salam hormatnya. Setelah itu anak-anak diajak untuk menyanyi, dan menari ala kadarnya. Dengan riang ria ia berjoget sambil bernyanyi. kegiatan ini dilaksanakan setiap pagi sebelum masuk kelas. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap kesiapan anak untuk menerima pelajaran pada saat mereka telah masuk di kelas. Anak-anak dengan hati yang riang ria, dan siap untuk menerima pelajaran yang lain dengan hati lapang. Artinya bahwa pendidikan seni dapat diselenggarakan dalam kondisi tertentu, dan dapat membantu anak dalam menyiapkan diri secara psikologis untuk melakukan kegiatan berikutnya yang terintegrasi.

  6. saya dimas slah satu mahasiswa jurusan seni musik tingkat 2 di Universitas Pendidikan Indonesia,menurut saya pembelajaran pendidikan seni di kalangan sekolah formal itu penting untuk memperkenalkan budaya indonesia walaupun tidak hanya seni musik saja yang diajarkan, tetapi telah disatukan menjadi Kestrad atau Kertakes di sekolh formal, ini mempunyai fungsi khusus untuk pelajar beberpa tahun kemudian, walaupun menurut anda pendidikan seni di pandang sebelah mata, tetapi kita lihat sekarang, karena keteledoran masyarakt, da beberapa kesenian tradisional negara kita telah di curi negara lain, semua masyarkat tahu tentang berit ini, dan setelah dicuri baru pemerintah menanggapinya. jadi pembelajaran si dikalangan sekolah kita ajarkan betapa pentingnya kebudayaan di negara kita supaya untuk genersi berikutnya tidak “kecolongan’ lagi tentang berita ini, saya saalah satu warga indonesia yang peduli akan budaya indonesia yang begitu penuh akan keindahan dan tak ternilai harganya, yang saya inginkan mulai sekarang warga indonesia tidak memandang sebelah mata tentang kebudayaan seni, khususnya seni musik.
    Terima Kasih.

  7. desyandri says:

    Saya, adalah Desyandri, salah satu dosen seni musik Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakulktas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang. Membaca dari tulisan saudara, memang pendidikan seni musik yang ada di sekolah-sekolah dasar tidak berdiri sendiri lagi. Kesenian dipadukan dengan mata pelajaran Kertakes. Pada hal kalau di lihat dari seni yang mengandung nilai keindahan, rasa dan imajinasi yang dilahirkan dari keadaan sosial akan penting sekali dalam membantu peserta didik dalam menjalani ataupun mengerti tentang ilmu-ilmu lain. Misalnya dalam menyimak atau menginterpretasikan lirik lagu-lagu saja mereka dapat mengetahui dan mengerti berbagai hal mengenai mata pelajaran lain. Contoh, dalam lirik lagu satu di tambah satu mereka bisa mengenal konsep dasar matematika, dalam lirik lagu pelangi-pelangi, balonku ada lima, dan banyak lagi lagu anak-anak indonesia yang bisa dimanfaatkan untuk mengenalkan siswa berbagai kehidupan, moral, agama, ekonomi, kebudayaan dan lain-lain. Jadi berdasarkan hal di atas, maka sudah seharusnya mata pelajaran kesenian itu mendapat tempat di mata pendidik dan perumus kebijakan pendidikan khususnya pendidikan seni musik, perlu memperhatikan kegunaan dan manfaat anak-anak mempelajari seni khususnya seni musik. Jadi kita bisa memanfaatkan seni itu bukan hanya sebagai pelipur lara saja, akan tetapi dimanfaatkan untuk hal yang lebih besar lagi. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

May 2007
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: