Home » Politik Budaya » Hutan Hilang, Agama Melayang

Hutan Hilang, Agama Melayang

Arsip

Kolom Bisri Effendy:         

            Keseimbangan makrokosmos-mikrokosmos menjadi amat penting dalam tradisi komunitas adat kita. Gonjang-ganjing Yogyakarta beberapa waktu lalu dipahami, oleh sebagian besar warga daerah itu, sebagai kemarahan ‘gunung merapi’ dan ‘ratu selatan’. Maka slametan pun lalu digelar secara kolektif maupun individu, termasuk mbah Marijan sendiri harus bersemedi manjatkan mantra sambil menghunus keris. Mereka meminta agar kemarahan itu berganti ‘kemesraan’. Dalam tradisi masa lalu, keseimbangan itu selalu ‘ditebus’ dengan berbagai ritual yang diselenggarakan secara rutin khusus untuk itu. Bersih desa, sedekah bumi, dan petik laut adalah beberapa ritual membangun keseimbangan yang berlaku di pulau Jawa, dan di tempat lain hal serupa juga terselenggara dengan nama yang berbeda.

            Tanah, laut, kuburan, pohon, gunung, goa, burung, sungai, dan kekayaan flora-fauna lain tampaknya menjadi penting bagi warga komunitas kita. Hasil-hasil riset antropologis dari pedalaman Kalimantan, Kanekes, Kajang, dan Tengger mengabarkan bahwa komunitas adat dan lingkungannya berupa hutan adalah satu kesatuan integratif. Hutan bagi mereka adalah gantungan hidup (staff of life). Dari, di dalam, dan kepada hutan mereka merajut tatanan kehidupan dan menyusun survival strategic (strategi kelangsungan) hidup.

            Lebih dari itu, tanah, pohon, gunung, goa, burung, dan sungai bagi komunitas seperti Dayak, Kajang, dan Kanekes adalah bagian tak terpisahkan dari agama (bukan dalam arti negara) mereka. Agama ketiga komunitas tersebut adalah paket kesatuan dalam hidup dan kehidupan. Tidak ada perbedaan antara aktivitas religius dengan yang non-religius. Aktivitas-aktivitas itu hidup dalam sebuah kesatuan sistem kebudayaan yang  mengintegrasikan  usaha nafkah hidup dan kegiatan spiritual. Berbeda dengan pandangan modernis dan puritan yang melihat agama dan adat sebagai kategori terpisah, orang Dayak, seperti halnya komunitas-komunitas lokal di daerah lain, tidak mengenal suatu pemisahan antara adat dan agama karena mereka tidak memerlukan pembedaan tersebut.

            Oleh sebab itu, kaum modernis dan puritan menyebut mereka sebagai penyembah kayu, batu, air, dan benda-benda lain yang dihakimi sama dengan penyembah berhala. Kepercayaan mereka disebut animisme yang meyakini bahwa benda-benda dan gejala-gejala itu mempunyai kekuatan hidup dan menghidupkan. Sebuah kesimpulan yang amat berbeda dengan kenyataan yang sesungguhnya, karena bagi orang Dayak, misalnya, benda atau gejala tertentu tidak mempunyai daya hidup maupun kekuatan penghidup. Gejala alam itu hanya dilihatnya sebagai hierofani, artinya bahwa roh-roh telah menampakkan diri dalam gejala alam tertentu, dan tempat penampakannya adalah tempat keramat.

            Sebagai bagian integratif dari agama, hutan (tanah, gunung, goa, pohon, sungai, dan burung) adalah sesuatu yang amat penting keberadaannya. Menjaga, merawat, dan melestarikan semua itu adalah keniscayaan yang tak mungkin diingkari, karena tanpa hutan, keber-ada-an dan eksistensi agama itu menjadi suatu yang mustahil. Meski bukan satu-satunya sebab karena modernisasi pendidikan dan agama juga ikut berperan penting, pembabatan hutan seperti di Kalimantan Timur ini mengantarkan agama Dayak sirna nyaris tak berbekas. Kaharingan atau Bungan Malam, juga Tamai Tangai, kini melayang dari ingatan individu maupun kolektif orang Dayak, bersama lenyapnya gunung, goa, pohon, dan burung. []

*Dimuat di Harian Kaltim Pos, 17 Juni 2007. KerjasamaYayasan Desantara, Naladwipa Institute dan Harian KaltimPos. Bisa diakses di http://desantara.org


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,459 hits

Kalender

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: