Home » Politik Budaya » Gandrang Bulo 1942

Gandrang Bulo 1942

Arsip

Tahun 1942 Na Mandara I Tuan Nippon caddi mata
Na Passadia Bokong Latama ri Camba
Kasirati memang tongi I Balanda Bunrang mata
Nippon mandara Na gudang na tunu pepe

(Tahun 1942 mendarat Tuan Nippon si mata sipit
menyiapkan bekal masuk ke daerah Camba
Memang kurang ajar Si Belanda bermata kabur
Nippon yang mendarat kok gudang-gudang yang dibakar)


Kutipan itu adalah bagian dari lakon dalam Gandrang Bulo yang lazim disebut Gandrang Bulo 1942. Corak Gandrang Bulo macam ini, seperti diutarakan Dg Naba, dikreasi secara spontan oleh para seniman pejuang di jaman kemerdekaan. Lebih lanjut dalam penuturannya, Gandrang Bulo 1942 bisa dibilang karya awal dari perubahan bentuk pertunjukan Gandrang Bulo seperti yang terlihat sekarang ini. Gandrang Bulo yang semula hanya berupa tarian dengan permainan musik gendang dan biola dari bambu, ketika itu mulai diselipi dengan dialog-dialog spontan disertai gerak gestur tubuh yang kocak.

Gandrang Bulo macam ini muncul pada masa pendudukan Jepang. Menurut Dg Naba, munculnya kreasi baru ini adalah salah satu cara para seniman melawan penjajah, baik Belanda maupun Jepang. Mereka tidak hanya melakukan perlawanan fisik dan kontak senjata, melainkan juga lewat ekpresi kesenian di atas panggung.

Saat masa istirahat kerja paksa, demikian tuturnya, Gandrang Bulo biasanya dimainkan oleh para pekerja. Beberapa orang seniman tampil di depan teman lainnya diiringi musik Gandrang Bulo. Lalu mereka mulai meniru-niru dan mencemooh gerak gerik, gesture dan prilaku tentara Jepang. Karena diiringi musik ditambah gerakan-gerakan yang kocak, maka wajar bila permainan ini menarik ditonton dan diminati banyak orang. Lambat laun bentuk baru Gandrang Bulo ini dikenal sebagai Gandrang Bulo 1942.

Komposisi Gandrang Bulo 1942 jauh berbeda dengan Gandrang Bulo versi awal. Bentuk awal kesenian ini, menurut Dg Naba yang katanya sudah ada sejak jaman raja-raja Gowa, hanyalah tarian bambu hasil kombinasi alat musik bambu, gendang dan biola. Gandrang Bulo ini lazim disebut dengan Gandrang Bulo Ilolo gading, yang dinisbatkan pada salah satu perlengkapan musiknya yang terbuat dari bambu lolo gading (sejenis bambu tertentu).

Gandrung Bulo versi Gandrang Bulo 1942 yang tersebar di beberapa daerah sebagai kesenian rakyat seperti Paropo, di Makassar, di Maros dan juga di pinggiran daerah Gowa, juga berbeda dengan kreasi ulang yang dilakukan oleh Dg Nyangka sekitar tahun 1960-an. Karena, versi yang belakangan ini justeru menempatkan Gandrang Bulo sekadar tarian penjemput tamu dan pejabat negara.

Sebagai kesenian rakyat Gandrang Bulo 1942 memang memiliki kekhasan. Ia tidak mewakili panggung negara, tidak juga panggung partai politik yang kerap dimainkan di gedung-gedung besar dan hotel-hotel yang wah. Pentas Gandrang Bulo 1942 adalah rekaman sosial kehidupan masyarakat pinggiran. [TIM DESANTARA]

*Dimuat di Harian Fajar, sabtu, 30 Juni 2007. Kerjasama Yayasan Desantara dan Harian Fajar Makassar.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,459 hits

Kalender

July 2007
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: