Home » Politik Budaya » “Belanda merampas Tanah Makam, Lapindo merampas Tanah dan Tempat Tinggal”

“Belanda merampas Tanah Makam, Lapindo merampas Tanah dan Tempat Tinggal”

Arsip

Tepuk tangan meriah bukan hanya mewarnai pembacaan naskah “Proklamati” dalam upacara pembukaan Aksi Bersama Korban Lapindo, Gebrak Lapindo, pagi kemarin, Senin, 20 Agustus 2007. Pidato sambutan inspektur upacara yang dibacakan Ahmad Zainul Hamdi yang akrab dipanggil Inung juga tak kalah riuhnya memperoleh sambutan tepuk tangan warga.

Inung yang juga koordinator Bahsul Masta’il dan Doa Bersama Lintas Iman, Gebrak Lapindo, dalam pidatonya menganalogikan kejahatan Lapindo dengan kejahatan penjajah Belanda. Menurut Inung, bila Diponegoro, pahlawan nasional kita, melawan Belanda karena penjajah itu telah merampas tanah makam leluhurnya, maka Perusahaan Lapindo Brantas, Inc. yang dikendalikan oleh keluarga Bakrie telah merampas tanah dan tempat tinggal warga Porong Sidoarjo.

“Maka sebenarnya Lapindo itu lebih kejam, dan karena itu harus terus kita lawan,” teriak Inung.

Kontan saja pidato orasi ini disambut tepuk tangan warga, dan sebagian menyela dan berteriak “betul, betul..!!”. Warga korban lumpur Lapindo yang kini mengungsi di Pasar Baru Porong dan belum memperoleh kejelasan nasibnya ini terus bersemangat menyuarakan tuntutannya kepada Lapindo dan pemerintah, yakni ganti rugi “cash and carry”.

Upacara ini juga diisi dengan pengibaran bendera merah putih setengah tiang dan menyanyikan Indonesia Raya.

            Gebrak Lapindo (Gerakan Bersama Rakyat Untuk Korban Lapindo) adalah sebuah koalisi antara masyarakat korban Lapindo di Pasar Baru Porong, beberapa pondok pesantren, LSM, tokoh-tokoh lintas agama dan perguruan tinggi yang secara bersama-sama memberi dukungan bagi perjuangan masyarakat korban. Lembaga-lembaga yang terlibat di dalamnya adalah Paguyuban Rakyat Renokenongo Menolak Kontrak (Pagar Rekontrak), Balai Rakyat Korban Lumpur Lapindo (Bara Kalap), Yayasan Desantara (Depok), Wahid Institute (Jakarta), Paras Indonesia, Up Link Simpul Korban Lapindo Sidoarjo (Kolaps), P3M (Jakarta), Eureka Foundation, IRCAS Ponorogo, RIAK (Jember), PUSPeK Averroes (Malang), POLMA (Paguyuban Organisasi Ludruk Malang Raya), C-Mars (Surabaya), Dewan Kesenian Surabaya, Hamim (Jember), Songgolangit (Kediri), Yayasan Tantular (Malang), Pesantren Salafiyah (Jember), Pesantren Roudlatul Ulum (Jember), Biro Pengabdian Masyarakat PP Anuqoyah (Sumenep), Paguyuban Warga Stren Kali Surabaya, Serikat Dosen Progresif Unair (Surabaya), Yayasan Sejahtera Bina Bangsa (Makasar), Lafadl Inisiative (Yogjakarta), Komite Perjuangan Rakyat Miskin (Makasar), Komunitas Azan (Pesantren Cipasung, Tasikmalaya), Lapar Makasar, dan P3M STAIN Ponorogo. [Tim Gebrak Lapindo]

 


2 Comments

  1. hadi sobari says:

    kaga beda dulu dan sekarang, dulu zaman kolonial Belanda dan pendudukan Jepang SDA kita dieksploitasi habis habisan, sekarang para konglomerat indonesia sendiri yang rakus mengeksploitasi SDA. liat alam mulai marah….sampai kapan kita mau menyaksikan bencana Lapindo, nanti freeport dan lain lainnya akan menyusul,,

  2. pkab says:

    http://pkab.wordpress.com/2008/05/29/mari-pecahkan-10-misteri-lumpur-lapindo/

    Ada yang bisa bantu untuk menghubungi Bapak KomJen Makbul Padmanagara untuk mengetahui lebih detil 10 Misteri apa yang masih tersisa itu…. Supaya peta konsep Lumpur Lapindo bisa dikembangkan lebih lanjut.

    Mari bersama kita bisa!

    salam perjuangan,
    sur
    pemeta konsep

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

August 2007
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: