Home » Politik Budaya » Hari Kedua: Jaranan, Band Indie dan Ludruk Beri Semangat Korban Lapindo

Hari Kedua: Jaranan, Band Indie dan Ludruk Beri Semangat Korban Lapindo

Arsip

Warga korban lumpur Lapindo yang selama ini terus menuntut hak-haknya tak berjuang sendirian. Mereka yang sebagian besar mengungsi di Pasar Baru Porong Sidoarjo ini juga memperoleh dukungan dari kalangan seniman. Dukungan itu disampaikan lewat pentas sejumlah kesenian seperti komunitas jaranan, band indie asal Surabaya dan pagelaran ludruk.

Kemarin siang, Selasa 21 Agustus, sekitar pukul 10.00 WIB, Paguyuban Seni Jaran Kepang Condro Budoyo asal Malang menghibur warga korban di sekitar Porong. Tak henti-hentinya mereka menampilkan atraksi memikat yang mengundang decak kagum penonton.

Selain kesenian tradisonal Jaranan, kaum muda yang tergabung dalam band indie Surabaya Plat L dan Shaga ikut tampil menghibur dan menyemangati warga korban lapindo Porong. Selain menyanyikan lagu-lagu popular seperti lagu gebyar-gebyar milik almarhum Gombloh, mereka juga membawakan lirik-lirik lagu bernuansa kritik sosial. Tak jarang di tengah-tengah jeda para vokalis band indie ini meneriakkan dukungannya kepada warga korban Lapindo agar tetap bersemangat dan tak pantang menyerah.

Kami putra-putri warga korban lumpur Lapindo bersumpah, berbahasa satu bahasa anti penindasan,” teriak vokalis Red Line Band lantang dan diikuti serentak oleh muda-mudi warga korban. Penampilan band indie berakhir pukul 19.00 WIB menjelang tampilnya Grup Ludruk Polma Malang.

Tepat pukul 20.00 WIB pertunjukan ludruk ini dimulai. Kelompok kesenian yang datang dari Malang Raya ini membawakan lakon “Warisan”.

Cerita “Warisan” berkisah tentang konspirasi jahat antara lurah dengan pengusaha tanah bernama Bakir. Demi menguasai tanah desa, Bakir bekerjasama dengan lurah merebut tanah dari warga dengan cara-cara curang dan penuh kebohongan. Bila ada warga yang melawan, langsung diancam dan dipukuli para premannya hingga babak belur. Bukan hanya itu, bila kejahatan mereka diketahui orang maka orang itu dibuat gila, tujuannya agar dia tidak membuka borok para pejabat desa itu kepada warga yang lain. Namun borok itu akhirnya diketahui warga, dan warga akhirnya menghukum mereka.

Penampilan ludruk ini nampaknya cukup mewakili kegundahan hati warga korban Lapindo. Sebagian terlihat asyik menikmati cerita hingga usai. []

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

August 2007
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: