Home » Fragmen Budaya di Media Massa » Bila Budayawan Mengunjungi dan Menginap Bersama Pengungsi Korban Lumpur

Bila Budayawan Mengunjungi dan Menginap Bersama Pengungsi Korban Lumpur

Arsip

Jumat, 24 Agt 2007

Pengungsi Diteror SMS, Zawawi Imron pun Menangis
Kondisi pengungsi korban lumpur di Pasar Porong Baru (PPB) mengundang simpati dan empati para budayawan. Mereka prihatin. Selain jadi korban banjir lumpur, pengungsi juga jadi alat untuk mencari keuntungan.

THORIQ S. KARIM, Sidoarjo

Para budayawan tersebut datang ke pengungsian PPB kemarin (23/8). Mereka, antara lain, penyair berjuluk Celurit Emas D. Zawawi Imron, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), dan Acep Zam Zam Noer, pengasuh Ponpes Cipayung, Tasikmalaya, Jawa Barat. “Saya tidak tega melihat semua ini. Mereka harus menanggung penderitaan karena sifat serakah beberapa orang,” ujar Acep.

Dia menilai, penyebab bencana lumpur adalah perilaku serakah. Bahkan, perilaku serakah itu pun dilakukan orang-orang yang mengambil keuntungan di atas bencana dan penderitaan para korban tersebut. “Banyak yang menjadikan ini sebagai ajang mengumpulkan harta. Itu fenomena yang terjadi,” ungkap Acep.

Sayang, kata dia, para penyebab bencana tersebut masih berlindung di balik kekuasaan karena takut luar biasa. Mereka sulit disalahkan dan tidak mau mundur. Sebab, mereka takut jika kasusnya akan dibawa ke pengadilan.

Acep menyempatkan diri tinggal di Pasar Porong Baru sejak Senin (20/8). Selama itu dia mencoba merasakan derita pengungsi dan berdialog tentang apa yang mereka inginkan. “Saya rasakan semua kepedihan di sini. Namun, kita harus bangkit dari persoalan ini,” katanya.

Korban lumpur yang mengikuti acara merasa senang dan haru ketika dua budayawan tersebut berbicara. Seorang warga bernama Maryati mengaku sempat kehilangan ketenangan batin. Tidak hanya penderitaan akibat lumpur. Dia juga sempat dapat SMS yang menuding dirinya sebagai warga yang mbalela.

Kepada Zawawi Imron, warga juga menceritakan bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan. Keprihatinan seperti itu tidak patut dirasakan dalam waktu lama. Tapi, kenyataannya waktu sudah berjalan setahun lebih. “Meski tidak tinggal di sini, saya bisa merasakan penderitaan ini. Hidup dengan keterbatasan air, listrik, dan kehidupan yang tidak layak,” ucap dia.

Meskipun bagitu, Penyair Clurit Emas itu tetap mengharapkan kepada warga untuk tetap mencintai Indonesia selaku bangsa yang ditempati. Cinta yang dimaksud Zawawi adalah rasa nasionalisme yang tinggi sehingga tumbuh semangat untuk bersatu dalam menyelesaikan persoalan. “Kita minum, makan, dan hidup di bumi Indonesia, untuk itu kita harus mencintai Indonesia sepenuhnya,” lanjutnya.

Mendengar keluhan-keluhan pengungsi, Zawawi Imron pun menitikkan air mata. Seniman asal Sumenep, Madura, itu menyatakan, dirinya adalah bagian dari penderitaan masyarakat. “Izinkan saya menjadi bagian dari duka kalian. Izinkan saya menjadi air mata kalian. Sebab, aku mencintai kalian semua,” katanya. Zawawi sempat melantunkan puisi berjudul Dzikir. (*)


1 Comment

  1. TERIMAKASIH TAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,459 hits

Kalender

August 2007
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: