Home » Fragmen Budaya di Media Massa » Perlawanan Budaya dari Pasar Baru Porong

Perlawanan Budaya dari Pasar Baru Porong

Arsip

Source: Kompas, Jumat, 24 Agustus 2007

Oleh Antonius Ponco Anggoro

Kugali hatiku dengan linggis alif-Mu Hingga lahirnya mata air Jadi sumur, jadi sungai, jadi laut, jadi samudra dengan gelombang, mengerang menyebut alif-Mu Hompimpa…hompimpa…hompimpa Hidupku, matiku, nasibku

Puisi berjudul Zikir karya budayawan Zawawi Imron yang dibuat tahun 1981 itu dibacakan Zawawi dengan penuh penghayatan hati di hadapan korban lumpur Lapindo yang masih mengungsi di Pasar Baru Porong, Sidoarjo, Kamis (23/8). Suatu puisi yang singkat, padat, tetapi penuh makna.

Dengan puisi itu Zawawi menggambarkan kesedihan dan kebahagiaan yang selalu dialami oleh setiap manusia. Kedatangannya selalu silih berganti seperti permainan hompimpa yang dilakukan oleh anak-anak kecil, kadang-kadang menang, kadang-kadang kalah.

Situasi kebahagiaan dan kesedihan itu harus diterima manusia dengan tetap membuka hati kepada Tuhan. “Dalam kondisi sesulit apa pun, manusia harus kembali kepada-Nya,” ucap Zawawi.

Tidak ada masalah sesulit apa pun yang tidak bisa diselesaikan. Semua permasalahan yang menimbulkan kesedihan bisa diselesaikan manusia dengan dasar cinta dan persaudaraan. Jika kedua hal itu sudah dijalani, kebahagiaan akan datang menggantikan kesedihan dan kesulitan.

Zawawi ingin mencoba mengetuk hati nurani dan mencerahkan rohani semua pihak dengan puisi tersebut. Tidak hanya pengungsi, tetapi juga pemerintah dan Lapindo Brantas Inc. “Permasalahan yang dihadapi pengungsi akan tuntas kalau semua pihak mendasarkan tindakannya pada cinta dan persaudaraan,” kata Zawawi.

Zawawi hanyalah satu dari banyak pelaku seni dan budaya yang memeragakan kemampuannya dalam acara bertajuk “Gerakan Bersama Rakyat Korban Lapindo” selama empat hari, Senin (20/8) sampai Kamis (23/8), di posko pengungsian di Pasar Baru Porong.

Tidak hanya dalam bentuk puisi, tetapi juga dalam bentuk seni ketoprak, rebana, ludruk, tarian reog Ponorogo, dan kuda lumping. Kesenian-kesenian daerah itu sengaja dipilih karena memiliki “nasib” yang hampir serupa dengan yang dialami pengungsi, dipinggirkan bahkan hampir dilupakan.

Hati nurani

Melalui media karya seni dan budaya itulah korban lumpur yang masih bertahan di pengungsian berjuang dan mencoba mengetuk hati nurani pemerintah dan Lapindo. Suatu cara perjuangan lain yang mereka pilih karena langkah-langkah perjuangan konvensional yang mereka lakukan selama ini, seperti unjuk rasa dan mogok makan, tidak terlihat keberhasilannya.

Salah seorang penyair muda yang tergabung di Majelis Sastra Asia Tenggara yang juga membacakan puisi di Pasar Baru Porong, Acep Zamzam Noer, menilai cara perlawanan secara budaya yang dilakukan di pengungsian merupakan salah satu cara mengetuk dan menggugah pemerintah dan Lapindo agar segera menyelesaikan permasalahan pengungsi.

Perjuangan dengan media budaya itu bukan dilakukan oleh korban lumpur Lapindo di pengungsian saja. Saat rakyat Indonesia berjuang memperoleh kemerdekaan dan menjatuhkan rezim Orde Baru, media budaya juga dipakai sebagai salah satu cara perlawanan terhadap rezim yang berkuasa.

Sebut saja beberapa pelaku seni yang karya seninya sering bernada protes dan perubahan sosial, seperti WS Rendra, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Setiawan Djody, dan Iwan Fals.

Perjuangan dengan media seni dan budaya itu pada akhirnya mencapai keberhasilan, seperti Indonesia merdeka dan rezim Orde Baru tumbang. Namun, tentu saja perjuangan seni dan budaya itu dibarengi dengan perjuangan dalam bentuk lain, seperti unjuk rasa.

Cara-cara perjuangan itulah yang sekarang sedang dilakoni oleh 766 keluarga korban lumpur dari Desa Renokenongo, Porong, di Pasar Baru Porong yang meminta agar tuntutan mereka dikabulkan oleh pemerintah dan Lapindo.

Seperti diketahui, mereka menuntut skema ganti rugi berupa uang muka sebesar 50 persen dari total ganti rugi dan sisanya dibayar secara bertahap selama tiga bulan kemudian. Skema itu berbeda dengan skema dalam Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007 yang memutuskan skema ganti rugi berupa uang muka sebesar 20 persen dari total ganti rugi dan sisanya dibayar satu bulan sebelum masa kontrakan selama dua tahun berakhir.

Akankah perjuangan yang dilakoni para pengungsi itu berhasil sama seperti saat perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia atau menjatuhkan rezim Orde Baru? Tidak ada yang mengetahuinya secara pasti. Yang pasti adalah korban lumpur akan tetap berjuang dan bertahan di pengungsian sampai tuntutan mereka dipenuhi Lapindo Brantas Inc dan pemerintah. []


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

August 2007
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: