Home » Politik Budaya » Saat Kesenian sebagai “Ritual” Masyarakat Korban

Saat Kesenian sebagai “Ritual” Masyarakat Korban

Arsip

Siang itu langit berawan. Puluhan sepanduk bernada protes yang terpasang di bibir atap tenda itu melambai-lambai. Sesekali beberapa patung menyerupai manusia berbahan jerami yang menggantung di sekeliling lapangan seluas dua kali lapangan bolavoli itu ikut bergoyang diterpa angin kencang.

Di ujung sana sebuah panggung lumayan besar berdiri kokoh. Dibelakangnya terbentang sebuah “backdrop” berupa spanduk selebar 3×5 meter bertulis tinta merah: “Gebrak Lapindo: Gerakan Bersama Korban Lapindo”, berdiri menantang.

Persis di depan panggung, masih di area lapangan, kelompok kesenian barongsai mulai menampilkan atraksi yang mengundang decak kagum. Sosok barongsai besar melompat-lompat tangkas di atas tumpukan meja setinggi 2 meteran lebih. Mereka menari, melompat, melenting, memperlihatkan gerakan atraktif yang lincah dan tak terduga.

 Di tengah-tengah permainan itu datanglah beberapa sosok patung kepala berwarna merah. Sedetik kemudian kepala barongsai itu segera memburu patung yang digambarkan sebagai para pengusaha dan pejabat yang jahat. Setelah menerkam, barongsai inipun menghancurkan kepala patung-patung itu di permukaan tanah.

 Itulah penampilan group barongsai Dragon, pimpinan Pendeta Nugroho asal Sidoarjo, mengawali aksi bersama korban Lapindo di Pasar Baru Porong, dua pekan lalu.

 Siang itu, kesenian barongsai bukan hanya memamerkan aksinya di Pasar Baru Porong. Mereka bahkan menggelar atraksi di sepanjang tanggul lumpur Lapindo yang konon itu ditujukan untuk menolak bala.

 

 Dalam kepercayaan tradisional, bala atau kejahatan biasanya diyakini bersumber dari kekuatan gaib, sesuatu yang adi kodrati. Yang jahat itu bisa disimbolkan oleh roh, nafsu, makhluk gaib yang selalu membisiki manusia agar bertindak jumawa atau bersikap adigang-adigung. Kesenian tradisional seperti jaran kepang atau kuda lumping dan reyog Ponorogo, misalnya, tak lepas dari unsur mistik semacam itu. Sehingga permainannya yang selalu diiringi oleh ritual mistik (doa-doa dan membakar kemenyan) dalam konteks kehidupan riil memiliki makna spiritual yang dalam dan lebih dari sekadar hiburan.

 

 Berbeda halnya dalam kehidupan profan. Kejahatan selalu dimaknai berasal dari ulah tangan dan rekayasa manusia. Sehingga kreasi simbolik seperti tampak dalam patung-patung kepala di arena atraksi barongsai di atas secara langsung diasosiasikan dengan pengusaha jahat atau birokrat yang tak bertanggung jawab.

 

 Karena itulah kesenian-kesenian “sekuler”—kata James L. Peacock– seperti ludruk, ketoprak, wayang, band indie, grup musik dangdut atau seniman patung nampak terlibat secara leluasa dan vulgar menyatakan gelombang solidaritas menggugat aktor-aktor wadag yang menyebabkan bencana dan penderitaan para korban lumpur.

 

 Lakon Kontekstual

 

 “Ndang bayaren seratus persen, sopo ngongkon ngetokno lumpur.” Begitu ujar salah seorang pengungsi dalam babak dagelan di panggung ketoprak yang menggelar lakon “Sayembara Jaka Baru Klinthing”.

 

 Lakon ini diambil dari cerita tradisional rakyat yang mengambil setting sosial-politik Kerajaan Pengging. Alkisah, Kerajaan Pengging tertimpa bencana banjir bandang yang menenggelamkan seluruh isi kampung. Bencana ini disebabkan ulah para penguasa dan antek-anteknya yang korup dan menindas. Tak satu yang bisa menyelamatkan dan menghentikan banjir bandang itu, kecuali Jaka Baru Klinting yang hidupnya sering dikuyo-kuyo dan disepelekan, namun yang memiliki sifat jujur, sederhana dan pembela kebenaran sejati.

 

 Malam itu, pertunjukan grup ketoprak Ganesa Tiwikrama asal Kediri ini nyaris berubah pakem. Di tengah babak dagelan –salah satu babak dalam ketoprak yang banyolan-banyolan selalu dinantikan penonton—tiga orang pengungsi bergabung dengan para dagelan. Mereka bukan sekadar menyuguhkan humor-humor segar di panggung pertunjukan, namun juga menceritakan nasib mereka di pentas kehidupan sehari-hari.

 

 Sesaat pakem ketoprak berubah mirip panggung ludruk. Percakapan dalam bahasa Jawa “halus” yang lazim di panggung ketoprak berpadu dengan dialog khas Suroboyoan yang berhamburan protes sosial.

 

 Demikianlah. Hampir semua kesenian yang tampil dalam gelar seni di Pasar Baru Porong malam-malam itu telah “keluar” dari pakemnya. Ukuran-ukuran estetika, bentuk, maupun isinya yang semula dianggap mapan dan tabu ditinggalkan, tiba-tiba hadir dengan warna berbeda.

 

 Grup ludruk Polma asal Malang, misalnya. Mereka tidak membawakan lakon-lakon klasik seperti “Sawunggaling”, “Sarip Tambakoso”, atau “Sakerah” yang selalu dianggap lebih afdhol dimainkan.

 

 Mereka berani menampilkan lakon baru, “Warisan”, yang bercerita mengenai kelicikan dan keculasan Bakir –inipun sebuah pilihan nama yang cerdik–, seorang tuan tanah yang merampas lahan-lahan warga. Lakon ini jelas terasa lebih dekat dengan kondisi aktual masyarakat Porong sekarang ini ketimbang beberapa lakon di atas yang berkisah dalam konteks penjajahan kolonial.

 

 Ya, jaman terus berubah. Begitu pula dinamika, konteks dan problem sosial yang menyertainya. Dan penampilan kaum seniman di atas panggung bersama warga korban lumpur Lapindo di Pasar Baru Porong, dua pekan lalu, memperlihatkan dinamika sosial itu.[]

*Dimuat di Harian Surya, Minggu, 2 September 2007


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

September 2007
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: