Home » Fragmen Budaya di Media Massa » Wahidiyah Tasikmalaya Akan Dilarang Beraktivitas

Wahidiyah Tasikmalaya Akan Dilarang Beraktivitas

Arsip

Source: Koran Tempo
Selasa, 02 Oktober 2007

BANDUNG — Kepala Kepolisian Resor Kota Tasikmalaya Ajun Komisaris Besar Suntana mengungkapkan pemerintah kota tengah mengerjakan surat keputusan bersama (SKB) yang menyatakan kelompok Wahidiyah tidak diperbolehkan melakukan kegiatan di luar ataupun di dalam. “Tidak boleh menyebarkan ajaran mereka,” ujar Suntana saat dihubungi kemarin.

Hal tersebut, menurut Suntana, disepakati dalam pertemuan antara para ulama dan unsur musyawarah pimpinan daerah Kota Tasikmalaya pekan lalu. Tindakan ini, menurut dia, merupakan kelanjutan dari fatwa Majelis Ulama Indonesia Kota Tasikmalaya yang menyatakan bahwa ajaran Wahidiyah adalah ajaran yang menyimpang.

Pertengahan September lalu, rumah penganut Wahidiyah, yang berada di Kampung Kereteg, Mangkubumi, Tasikmalaya, menjadi korban kekerasan massa. Rumah dan pabrik mereka dirusak dan dibakar. Menurut Suntana, kini polisi masih berjaga-jaga di rumah-rumah mereka. “Takut kalau ada apa-apa,” ujarnya.

Kepolisian pun, kata Suntana, juga terus masih melakukan penyelidikan atas penyerbuan tersebut.

Suntana mengungkapkan telah adanya kesepakatan antara warga dan pengurus Wahidiyah di Kereteg sebelum penyerbuan. Intinya agar penganut Wahidiyah tidak melakukan dakwah ke luar. Namun, pada awal September lalu, para pengurus Wahidiyah Kereteg ternyata menjadi panitia pertemuan penganut Wahidiyah di Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. “Masyarakat resah,” katanya.

Ia pun mendesak agar para penganut Wahidiyah menjalankan kesepakatan dengan warga. Di sisi lain, ia mendesak masyarakat agar tidak bertindak anarkistis.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Tasikmalaya telah mengeluarkan SKB untuk Ahmadiyah. SKB yang keluar beberapa bulan lalu itu lebih untuk menegaskan SKB 2005 soal larangan Ahmadiyah melakukan dakwah.

Wakil Ketua Wahidiyah Jawa Barat Ikhwan mengecam niat Pemerintah Kota Tasikmalaya. “Itu tindakan melawan hukum,” dia menegaskan.

Hingga kini warga Wahidiyah yang menjadi korban kekerasan di Kereteg masih mengungsi. “Kasihan mereka,” ujarnya. “Anak-anaknya sampai tidak lagi sekolah.”

Ia menegaskan sebenarnya tak ada kesepakatan antara warga Wahidiyah dan masyarakat. Menurut dia, kaum Wahidiyah dipaksa menandatangani surat kesepakatan tersebut. PURWANI DIYAH PRABANDARI


2 Comments

  1. Maaf mbak/mas, Wahidiyah itu ajaran yang benar dan paling tepat untuk akhir zaman ini. Orang tidak akan pernah tahu kebenaran ajaran ini kalau tidak di coba dulu. So just try it …

  2. afif says:

    Ass Wr Wb
    saya ingin tahu kebenaran fatwa Gus Dur yang tertulis pada ljnk di bawah ini :
    http://ahmadiyah.info/index.php?option=com_content&task=view&id=113&Itemid=1
    mohon di balas secepatnya.
    terima kasih
    Wassalam……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,459 hits

Kalender

October 2007
M T W T F S S
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: