Home » Keputusan/Regulasi Budaya » Menagih Jaminan Kebebasan Berkeyakinan: Respon atas Fatwa MUI terhadap Aliran Al-Qiyadah

Menagih Jaminan Kebebasan Berkeyakinan: Respon atas Fatwa MUI terhadap Aliran Al-Qiyadah

Arsip

PERNYATAAN SIKAP
PUSAT STUDI ANTAR KOMUNITAS (PUSAKA) PADANG
TENTANG
MENAGIH JAMINAN KEBEBASAN BERKEYAKINAN
(Catatan atas Dugaan pelanggaran HAM dipicu oleh fatwa MUI Sumbar
terhadap Aliran Al Qiyadah)

Setiap orang berhak atas kemerdekaan berfikir, berkeyakinan
dan beragama, hak ini mencakup kebebasan untuk berganti agama
atau kepercayaan, dan kebebasan untuk menjalankan agama atau
kepercayaan dalam kegiatan pegajaran, peribadatan, pemujaan
dan ketaatan, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain
di muka umum maupun secara pribadi
(DUHAM pasal 18)

Setiap orang berhak atas kebebasan berfikir, berkeyakinan
dan beragama. Hak ini mencakup kebebasan untuk menganut
atau menerima suatu agama atau kepercayaan atas pilihannya sendir,
dan kebebasan, baik secara individu maupun bersama-sama
dengan orang lain, dan baik di tempat umum maupun tertutup,
untuk menjalankan agama atau kepercayaannya dalam kegiatan ibadah,
ketaatan, pengalaman dan pengajaran
(Kovenan Sipil Politik pasal 18)

“ Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan
pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak,
hak diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak
dutuntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia
yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun(UUD 1945 281 ayat 1)

Kembali Majelis Ulama Indonesia (MUI) wilayah Sumatera Barat melakukan tindakan yang patut diduga telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) khusunya pasal kebebasan berkeyakinan sebagaimana dijamin oleh konstitusi negara. Kali ini yang menjadi korban adalah Aliran Al-Qiyadah dengan cara pengrebekan, setelah sebelumnya lewat fatwanya, ”menyesatkan” “Jam’iyyatul Islamiyah”. Dan Jama’ah Ahmadiyah (JAI), termasuk terhadap beberapa kelompok di luar pemahamannya.

Sehubungan dengan fatwa sesat oleh MUI Sumbar, sekerumunan masa yang merasa paling “Islam” sendiri, menggerebek tempat perkumpulan kelompok Al-Qiyadah setelah sebelumnya juga menyegel masjid Baitul Izza dengan alasan SK kepala Kejaksaan Tinggi Sumbar Nomor KEP-B-.0J.3.3/11/1981. Tentang aliran Jami’yyatul Islamiyah, dan kalau memang benar SK itu ada, maka SK tersebut telah melanggar konstitusi Negara yang paling tinggi “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk menganut agama dan kepercayaan dan beribdah menurut agama dan kepercayaannya itu” (Pasal 29 ayat 2 UUD 1945).

Rangkaian tindakan MUI Sumbar dan kelompok milisianya menjadi sangat memprihatinkan, karena kekerasan dan pengekangan itu telah mengusik ranah utama tata kehidupan bersama dalam satu masyarakat yang majemuk. Dengan kata lain saat ini persoalan toleransi yang menjadi sendi dasar kehidupan bersama sedang tergugat oleh proses-proses dan praktek-praktek yang semakin mengkhawatirkan. Padahal sepertinya telah sama-sama dimaklumi tanpa sikap toleransi dan sikap moderasi yang didasarkan pada semangat keberagaman, mengelola kemajemukan menjadi mustahil untuk dilakukan. Apalagi jika kontestasi yang sedang berlangsung menyentuh bagian yang paling asasi yaitu pemahaman dan penghayatan keimanan seseorang atau sekelompok orang yang tidak dapat digangu gugat oleh siapapun.

Pada sisi lain negara dalam hal ini aparat negara yang seharusnya netral justru cenderung melakukan pelanggaran HAM by commision yakni ”pelanggaran disebabkan karena negara aktif yang seharusnya pasif”. Terutama menyangkut pilihan baik secara pribadi maupun kelompok untuk menganut agama dan kepercayaannya itu. Lagi-lagi negara menggunakan KUHP ”penodaan agama” atas aliran diluar ”mainstreem” padahal KUHP seharusnya tidak boleh melangkahi konstitusi yang dengan tegas menyatakan

(1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah Negara dan meninggalkannya serta berhak kembali

(2) Setiap warga Negara berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan hati nuraninya.

Atas dasar itu, Pusat Studi Antar Komunitas (PUSAKA) Padang menyatakan sekap sebagai berikut:

Pertama, menyesalkan mencoloknya “politik pembiaran” oleh Negara maupun alat negaranya seperti aparat keamanan, pengalaman membuktikan ketika terjadi kekerasan atas Aliran Al-Qiyadah. Negara yang seharusnya berada pada posisi netral, justru tidak memiliki sikap yang tegas dalam persoalan jaminan hukum kebebasan berkeyakinan tersebut.

Kedua, menyesalkan tindakan kepolisian dengan menggunaka Police Line menyegel tempat sarana kegiatan kelompok al-Qiyadah yang seharusnya justru mengamankan kelompok milisia yang dengan main hakim sendiri menyerbu kelompok lain.

Ketiga, di tengah masyarakat, terlihat beberapa kecenderungan yang sangat mengkhawatirka akhir-akhir ini. Yakni adanya kecenderungan radikalisasi paham keagamaan sekelompok masyarakat. Kelompok-kelompok milisia sipil inilah dengan mengklaim diri sebagai “Representasi umat Islam” yang memainkan peran penting baik dalam penyerbuan Al-Qiyadah merujuk pada fatwa MUI. Seharusnya aparat keamanan bertindak tegas terhadap kelompok milisia itu.

Persoalan tuduhan sesat atas kelompok al-Qiyadah harus diselesaikan dengan jalan dialog.
Demikianlah pernyataan sikap ini dibuat dengan sebenarnya, harapan agar masyarakat menahan diri dan polisi selaku aparat keamanan bersikap netral dan bijaksana.

Padang, 4 Oktober 2007
Atas Nama Pengurus PUSAKA

Sudarto


18 Comments

  1. Ulfa says:

    Wah dialognya kok seru gitu! Jd pngen ikut. Sbenarnya saya jg org awam yg g’jago2 bgt, tp saya dididik oleh keluarga yg taat bgt bragama. Jd ajarn2 agama sdh bgt mlekat didiri he he, tp meskipun udah mndarah daging sya brusaha open mind. Krn stahu saya alqiyadah it sesat, jd sya jg ikut kbnyakn org yg jg nilai it sesat. Walah ndalah lah kok saya ktemu org yg bukakan ksadaran saya akn kbenaran. Prtama kali dia g’prnah ngasih tau alirany, smpai kbenaran yg dsampaikny dah melekat n bkin sya pnasaran trus. Oalah trnyta dia angotany qiyadah. Ya udah wong saya dah tau kbenarany jd dg ikhlas dg snang hati saya ngikutiny tnp trbebani alirn sesat /yg lainy. Wong it emang benar n bs nunjukin hal yg bs dtrima oleh akal.
    Makany talah nduk, jgn trlebih dulu mgklaim suatu it sesat, klau antum semua blm tahu bahkan dengar yg dsampaikany aja ndak. Pokokny org yg bsany ngklaim2 gjelas gini ak rasa g’ada dasarny, alias ikut-ikutan. Ya.. Ikut- ikutlah aja kna adzab Nya

  2. blind says:

    berpura-pura bisa “membaca” kitab suci adalah suatu penodaan ajaran SAMAWI

  3. Abu Salma says:

    Pusaka,
    Kalau Al Qiyadah dan aliran yg lain tidak menggunakan nama Islam, maka tentu (dijamin) tidak akan ada pelanggaran HAM. Ibarat produk, Islam sudah dipatenkan. Tidak diperbolehkan siapapun mengubah Islam. Kalau kalian menganggap bahwa Islam yang sekarang sudah melenceng dan salah jalan atau tidak relevan lagi, maka buatlah agama baru yang menurut kalian paling benar dan dengan NAMA BARU juga. Lha wong membajak produk orang lain saja bisa dihukum, apalagi masalah agama.
    Tujuan kalian menggunakan nama Islam karena penganut Islam memang banyak, dengan harapan pengikut kalian dari umat Islam juga akan banyak.
    Coba renungkan, kebebasan berkeyakinan itu adalah kebebasan memeluk agama. Mau pindah agama 1000X sekalipun silakan. Tapi begitu kita memeluk 1 agama, maka kita harus patuh dengan aturan agama itu, bukan lantas seenaknya kita mengotak-atik ajarannya. Kalau nggak cocok, silakan pindah lagi. Kalau nggak ada yg cocok, silakan buat agama baru.
    Sama halnya dengan memilih kewarganegaraan. Anda boleh memilih mau jadi warga negara manapun, mau pindah ke manapun. Tapi begitu anda menjadi salah satu warga negara tertentu, anda harus tunduk patuh terhadap aturan negara tersebut.
    Coba kalian menjadi warga negara Amrik, trus tidak mengakui Bush sebagai presiden, trus menobatkan diri sebagai presiden yg sah di amrik, lalu sebarkan ke khalayak umum. Lakukan itu kalau memang kalian merasa yang kalian bela dan yg kalian lakukan adalah benar…
    Wallahu A’lam

  4. Halomoan Simanjuntak says:

    PUSAKA, anda jangan berlindung dibalik HAM, tp lihat dulu konteksnya. Boleh2 aja mereka (Al Qiyadah) berbeda keyakinan dg umat Islam kebanyakan, tp jangan mengait2kan ajarannya dg Islam,mereka ngakunya agamanya Islam, mereka cuma mengutak-atik ajaran Islam, jadi itu namanya PENODAAN terhadap Islam.Nah..itu yg buat umat Islam keberatan dan geram.

    Penyimpangannya sangat jelas bertentangan dg aqidah Islam, salah satu contoh, masa’ hanya krn bertapa 40 hari 40 malam dan mimpi enam malam berturut2 diangkat jadi rasul langsung menyatakan diri sbg rasul??? takutnya nanti anda mimpi berturut2 beberapa malam diangkat jadi Presiden, langsung pula anda menyatakan diri ke publik anda seorang Presiden.

    Saya malah curiga ada apa dan siapa dibalik pembelaan Pusaka???

  5. benashir says:

    Salam

    Menyikapi ini, kita mesti berdasarkan pada ilmu dan sumber-sumber yang ada. sebenarnya Agama tidak sama dengan Dien. Agama diadopsi dari Bahasa Sangsekerta yaitu, A = Tidak dan Gamoes = Kacau. Jadi coba saudara-saudara cermati dulu, jangan asal menghujat suatu aliran. sedangkan Dien kalau diterjemahkan menurut bahasanya yaitu Sistem, aturan, UUD yang berasal dari Allah melalui KITAB-KITAB Nya. Berbicara Dien bukan berbicara ritual-ritual saja, melainkan Hukum, Poltik, SosBud, Ekonomi, dan lain-lain. Jadi kalau dilihat pada hari ini apakah itu sudah teraplikasi dalam kehidupan kita hari ini. oke. katakanlah kalau bukan Rosul yang memperjuangkan dien!!
    Lalu siapa? apakah seorang ustad atau kyai. sudah berapa lama kita seperti ini, semakin banyak Pengajian yang didirikan oleh ustad-ustad atau kyai semakin banyak pula kejahatan dan prostitusi dimana-mana. Mereka hanya menghimbau dibawah dan mereka hanya berkata tidak bisa merubah keadaan. Kenapa tidak dari sumbernya. tentu bukan dengan cara Anarkis dan Kekerasan, melainkan dengan dasar ilmu yang datangnya dari AllAh.
    Sumber Mata Air jika kotor maka akan mengalirkan air yang kotor.
    Sistem yang kotor maka kebawahnya juga akan kotor pula.
    ana istigfar kepada Allah. ini realita.

    Salam

    Benashir

  6. Cinta Islam says:

    Assalamu’alaikum

    PUSAKA???
    Anda siapa? Apa anda tidak merasa mereka juga mengganggu HAM orang lain????
    Seenaknya saja mencapur adukkan agama, menodai agama Islam…..
    Jangan-2 anda adalah bagian dari mereka, bukan begitu????
    Kalau semua dikatakan melanggar HAM spt yang anda utarakan, ntar banyak yang mengatakan HAMnya dilanggar…
    Orang bisa dong menggunakan narkoba sembarangan, bisa dong berzina sembarangan, dll…
    Apakah otak anda tidak sampai kesitu pemikirannya????
    Kalau anda bilang mengganggu orang sekitarnya, ya sama aja dengan aliran baru ini, karena dia jug meresahkan orang2 disekitarnya…

    Thanks

  7. no label says:

    bunga mulia al islamiah Says:
    October 30th, 2007 at 11:56 pm
    ini bukan tentang HAM juga bukan tentang membela orang mabuk, pelacur atau sebagainya melainkan ini tentang bagaimana umat islam semestinya mengembangan fikirnya, membuka diri menerima kebenaran.. agar muslim cerdas, saatnya membuka diri dan berfikir cerdas untuk mengatakan bahwa MUI bukanlah pemegang kebenaran hakiki melainkan ALLOH. kau atau siapapun boleh bilang ini sesat tapi cobalah renungkan dalam pikir kalian yang katanya ciptaan paling sempurna apakah islam hanya tentang masa lalu kalau memang demikian maka quran tidak aplikable… dan apakah hanya MUI yang boleh mentafsirkan dan mentakwilkan qurán???? kenapa kita begitu tunduk pada MUI bukankah departemen agama kita memalukan karena korupsinya tertinggi?? apakah orang2 seperti itu lebih baik dari pada mereka yang sedang mencoba berjuang mengembalikan kebesaran islam dimuka bumi ini???

    renungkanlah

    nolabel’s comment:
    berarti yang patut disalahkan bukan ajarannya, tapi orang2nya bukan?? terus kenapa kalian tetep aja ngobrak abrik ajarannya? gak usah muluk2 deh mau bikin kerajaan Allah dan sebagainya dengan mengaplikasikan Quran (dengan cara kalian sendiri), coba dari yang kecil dulu, dari diri kita sendiri dulu. udah bener belum cara kita mengaplikasikan agama? jangan ajarannya yang disalahin dong..

    saya balikin : renungkanlah..🙂

  8. Sabdopalon says:

    Tetap pakai akhlakul karimah. Anda setuju atau tidak janganlupakan itu. Debat boleh tetapi tetap wajadil billati hiya ahsan. Jangan langsung amuk, bakar dan hancurkan. Coba ajak dialog, meskipun lama dan lamban tetapi itulah sebagian makna dari kesabaran. Yang merasa sebagai pengawal Islam sejati, murni dan asli; ayo tunjukkan bahwa diri kalian adalah rahmatan lil ‘alamin. Tetapi mengapa untuk urusan seperti ini kita kadang lupa sehingga menjadi preman. Syangkan ?

  9. bunga mulia al islamiah says:

    ini bukan tentang HAM juga bukan tentang membela orang mabuk, pelacur atau sebagainya melainkan ini tentang bagaimana umat islam semestinya mengembangan fikirnya, membuka diri menerima kebenaran.. agar muslim cerdas, saatnya membuka diri dan berfikir cerdas untuk mengatakan bahwa MUI bukanlah pemegang kebenaran hakiki melainkan ALLOH. kau atau siapapun boleh bilang ini sesat tapi cobalah renungkan dalam pikir kalian yang katanya ciptaan paling sempurna apakah islam hanya tentang masa lalu kalau memang demikian maka quran tidak aplikable… dan apakah hanya MUI yang boleh mentafsirkan dan mentakwilkan qurán???? kenapa kita begitu tunduk pada MUI bukankah departemen agama kita memalukan karena korupsinya tertinggi?? apakah orang2 seperti itu lebih baik dari pada mereka yang sedang mencoba berjuang mengembalikan kebesaran islam dimuka bumi ini???

    renungkanlah

  10. bajul ijo says:

    masalhnya ormas/atau aliran islam yang ada diindonesia tidak ada yang bisa mengaplikasikan/mengejawantahkan/melaksanahkan isi Quran secara keseluruan sebagaimana yang telah diterapkan oleh rosululloh Muhammad, padahal menurut Qs 5/44,45,47,50 orang itu disebut Alloh kafir ,Fasik jadi seluruh ormas islam kena ayat Ini. sekarang ada Aliran yang ingin menerapkan ini diributkan Biarlah dia berjalan Dulu baru kita lihat hasilnya. apa dia berbuat onar spt pelaku bom bali atau akhlaknya spt muhammad.kalau tentang kerasulan baru tandanya muhammad disebutkan di Alquran bahwa akan muncul seoarang nabi bernama Ahmad Oke. tapi Harusnya tandanya harus muncul dinjil krn Qurannya pada waktu muhammad lahir belum ada orang qurais lihat nya dari mana. kalu Masihal Mawud bisa buktihkan tanda kerasulannya Di Alquran saya akan dukung dia. Dan rosul baru ini Siap Berdialog dengan siapa saja termasuk MUI dan ormas islam untuk menjelaskan kerasulannya.Kalau musa bawa Taurat Isa bawa tauran yang diturunkan kembali Bernama Injil Cek perjanjian lama adalah isi dari kitab taurat, kalu masi almawud bawa Quran yang dturunkan kembali karena aturannya yang sudah tidak dipakai lagi jadi pas /jadi dapat disimpulkan bahwa yang dibawa masihal adalah Injil/Alquran yang diturunkan kembali.seluruh kitab Alloh adalah Sempurna cek Qs 3/184 Zabur sudah turun semua kenapa hrs turun Taurat bukanya Zabur sudah sempurana tolong pikir. krn tidak dapat mengambil palajaran kecuali orang yg berakal Qs 14/52

  11. ip3nk says:

    MANUSIA CERDAS AKAN MENGUNAKAN RETORIKA HUKUM SESUAI KONTEKSNYA APA LAGI MELETAKKAN HUKUM HAM DALAM MASALAH INI….

  12. no label says:

    isu yang menarik tentang al qiyadah al islamiyah ini..
    PUSAKA berpegang pada isu HAM yang menjamin kebebasan setiap orang untuk beribadah sesuai dengan keyakinannya. Namun saya ingin menanyakan yang dimaksud dengan kebebasan itu, kebebasan seperti apa? Tetap harus ada batasnya, bukan? Memang sikap MUI dan oknum yang mengatasnamakan islam patut disesalkan karena cara kekerasan bagaimanapun juga tidak dibenarkan, tapi ajaran al qiyadah telah meresahkan umat muslim karena tidak sesuai dengan ajaran yang selama ini diyakini oleh umat muslim. Siapa Ahmad Mushaddeq itu sehingga ia bisa dengan seenaknya menafsirkan Al-Quran?

  13. amir says:

    seorang boleh berbuat apa saja asal jangan mengganggu orang, tapi kalau udah mengganggu orang namanya pelanggaran, nah aliran-aliran yang disebut sesat jelas mengganggu orang, perasaan keimanan islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. AQIDAH ISLAM ternodai bukankah disitu letak persoalannya, hai teman-teman tidak ada kebebasan mutlak ya kan? jujurlah. kembangin pikiran sedikit jangan ngomong pada landasan undang undang tapi tidak pake nalar. kalau mau bikin agama baru bikinlah sendiri jangan merobek agama yang ada. baru itu kebebasan, kalau saudara mampu. agama Islam telah menayatakan Muhammad SAW adalah nabi terahir. tidak ada nabi setelahnya lho kok ada yang ngaku Islam dengan nabi yang baru? jangan ngaku Islam kalau begitu, jangan Pake Al Quran kalau begitu bikin seumpamanya. bukankah telah banyak nabi-nabi palsu sesudah Nabi Muhammad ? dan memang palsukan ? termasuk paham-paham yang kamu bela sekarang ini juga. ini baru jawaban pake nalar doang (orang awam). belum lagi jawaban orang yang mendalam keimanan Islamya.

    jangan membela kelompok tapi bela kebenaran.

  14. abah zacky says:

    Anda bicara HAM, Tetapi saya jadi heran mengapa pembela ham ini tidak ada yang membela para pemabok… kan mestinya selama mabok dan tidak menggangu orang lain boleh. Bela mereka, lawan undang-undang anti NARKOBA.

    Demikian juga judi, selama tidak menelantarkan anaknya, korupsi dan yang merugikan orang lain untuk berjudi, kan boleh. Lawan juga undang-undang yang melarang judi.

    Kenapa juga tidak membela para pelacur… mereka kan berjasa menyediakan pemuas bagi orang yang membutuhkan. Lho kok dilarang, itu kan pelanggaran HAM. Kenapa diam? Apakah belum pernah mencoba mencicipi jajan di pelacur?

    Artinya, Anda masih tanggung, setengah-setengah dalam berjuang membela HAM. Karena memang konsep HAM itu sendiri absurd.

  15. penegak tauhid says:

    Assalamu’alaikum kpd kaum muslimin,

    Jujur saya baru tahu ada aliran baru lg yg bernama al-qiyadah, apakah ini merupakan agama baru lagi, ataukah pembaharu syari’at Islam yg sudah sempurna? Disebut agama baru, pendirinya mengaku masih menggunakan Al-Qur’an dgn takwilnya, tp kenapa takwilnya menyalahi isi Al-Qur’an tsb ya? Disebut pembaharu jg tidak bisa krn syari’at sdh lgkp tdk bs ditambah lg. Ingatlah saat Nabi Muhammad Rasulullah saw akan wafat, lalu turun ayat yg menjelaskan bahwa telah telah disempurnakan oleh Allah swt agama ini yakni Islam sbg pegangan. Sehingga dengan wafatnya Muhammad Rasulullah saw maka pintu wahyu telah tertutup karena syari’at yg diturunkan Allah swt melalui Nabi Muhammad telah sempurna, dan barangsiapa yg menyatakan bahwa Muhammad Rasulullah saw belum menyampaikan sebagian risalahnya (blm sempurna) maka orang tsb mengingkari kerasulan nabi Muhammad dan hal itu jelas berarti orang tsb menjadi kafir. Kata “kafir” berasal dr kata “ka fa ra” yg berarti ingkar, yaitu mengingkari thd sesuatu hal yg telah ditetapkan oleh Allah swt. Ingatlah bahwa Nabi Muhammad Rasulullah saw adalah khatimul Anbiya, seseorang tdk bs serta merta mengaku mjd rasul hanya dgn mentakwilkan Al-qur’an, krn dirinya sendiri sudah bertentangan dgn Al-qur’an dan Hadits. Logika boleh digunakan, tp tanpa dasar dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, hanya akan menjadi kebebasan berpikir yg kebablasan tanpa arah. Klo aliran anda tdk melanggar HAM, kenapa perlu mencari pengikut dr umat yg sudah beragama (Islam), cari saja pengikut dari orang yg tidak beragama. Siapapun yg menyelisihi isi Al-Qur’an dan Hadits yaitu spt tdk wajib shalat 5 waktu,tidak mengakui Nabi Muhammad saw sbg rasul terakhir, maka ia sudah ingkar. Saran saya segeralah bertaubat, kaji kembali Islam secara utuh, jgn hanya separuh-separuh. Semoga Allah swt masih membuka pintu hidayah bagi saudara2ku yg terlupa tsb.

  16. benashir says:

    Kita akan melihat siapa yang sesat di antara kita. Hamdala. Batam

  17. Jethro says:

    Jadi jelas disini bahwa MUI lah yang melenceng dari Ajaran Islam

    Jethro

  18. Mesiyyakh says:

    Salam,

    Tindakan anarkis oleh sekelompok masa yang diilhami oleh fatwa MUI kepada rumah pribadi jamaah Al-qiyadah Al-Islamiyah di padang merupakan bukti bahwa mereka telah memvonis manusia lain secara sepihak tanpa ada konfirmasi atau dialog. Ini merupakan tindakan yang melanggar hukum pidana dan hukum HAM.

    Apakah tindakan seperti itu yang diajarkan oleh ulama mereka? Apakah tindakan menendang pintu rumah orang lain dan memaksa masuk tanpa izin adalah tindakan yang di contohkan oleh Muhammad rasul? Dan apakah mereka berhak memaksa orang untuk mengikuti Arus Utama yang mereka anut? Jika demikian, maka berarti negara ini sudah terjebak pada kesombongan sektarian, terperangkap pada Islamisme yang diklaim sebagai milik oleh sekelompok tertentu?

    Bukankah negara ini adalah negara yang diatur dengan hukum non-Islam? Bukankah negara ini memberikan kebebasan untuk berserikat dan berkumpul? Bukankah negara ini menjamin keapda tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya dan menjalankan ibadat menurut agama dan kepercaannya itu? (UUD45 Psl 29 ayat 2)

    Jika ada orang yang mengklaim kelompok orang lain sesat, berarti dia sedang menginjak-injak Undang-undang yang menjadi dasar bagi negara untuk mengatur warganya. Berarti mereka sedang menghina negara ini.

    Kami telah dihubungi oleh LPPI untuk bertemu dan mengadakan dialog antara MUI dengan Jamaah Al-Qiyadah Al-Islamiah, membahas tentang isu yang negatif tentang Al-Qiyadah Al-Islamiah. Tetapi rapat MUI memutuskan bahwa tidak perlu untuk berdialog lagi dan langsung memberikan stigma sebagai aliran sesat. Apakah ini yang namanya makhluk berfikir? Apakah orang yang seperti itu yang dijadikan tempat bertanya (ulama)? Jelas ini merupakan tindakan Pembunuhan Karakter, bukan tindakan manusia yang menjunjung tinggi Hak asasi manusia dalam negara yang menjaga perbedaan demi keutuhan dan keharmonisan publik.
    MUI sedang menginjak-injak HAM, menginjak-injak UUD45, Perjanjian Sipil Politik, serta norma-norma yang menjunjung kebebasan manusia sebagai makhluk yang merdeka.

    Jika mereka memvonis bahwa Al-Qiyadah Al-Islamiah telah melanggar KUHP pasal 156a (penodaan agama), dalam kacamata hukum – itu tidak dapat dijadikan sebagai dasar untuk mengadili orang yang berbeda keyakinan, karena ada Undang-undang yang lebih tinggi lagi yaitu UUD’45 yang justru kami jadikan sebagai rambu bagi aktifitas kami. Tidak bisa aturan yang lebih tinggi dibatalkan oleh aturan di bawahnya.

    Kami tegaskan bahwa kami tidak akan mundur walau hanya sejengkal karena yang Menciptakan kami melarang itu. Dan kini dunia sudah melihat bagaimana mereka menindas orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka, dizolimi, dikekang, dan terjadi pemaksaan kehendak sektarian yang coba menyusup kepada konstitusi negara Indonesia ini.

    Wassalam,
    Mesiyyakh
    Al-Qiyadah Al-Islamiah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

October 2007
M T W T F S S
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: