Home » Fragmen Budaya di Media Massa » Tegang, Ratusan Suku Dayak Luruk Kantor Kejaksaan

Tegang, Ratusan Suku Dayak Luruk Kantor Kejaksaan

Arsip

Takmad-Kapolres Saling Dorong

Source: Radar Cirebon, 21/11/2007


INDRAMAYU – Sebagai bentuk penolakan terhadap keputusan Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) Kabupaten Indramayu, ratusan pengikut aliran Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Losarang meluruk Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Indramayu, Selasa (20/11) sekitar pukul 10.00. Mereka memprotes keras sekaligus menolak hasil telaah anggota Pakem yang menyatakan bahwa aliran Suku Dayak sesat dan harus dibubarkan.

Pantauan Radar, ratusan pengikut aliran Suku Dayak Losarang pimpinan Pangeran Takmad Diningrat Gusti Alam diangkut menggunakan truk mendatangi kantor Kejari. Ikut mengawal rombongan Suku Dayak di antaranya Ahmad Baso (Komnas HAM), Wakiran dan Sarma, angota perwakilan Suku Baduy, Ketua Patrio Sunda Pajajaran, Kamaludin dan Ketua Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika, Elen.

Kedatangan mereka ditemui Ketua Pakem Indramayu Udjijono SH didampingi sejumlah anggota yakni Kapolres AKBP Syamsudin Djanieb, Ketua MUI KH Ahmad Jamali, serta Dndim 0616 yang diwakili Pasi Intel Kapten (Inf) Andar.

Sekitar pukul 11.00, perwakilan Komnas HAM Ahmad Baso dan Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika, Elen mengadakan pertemuan secara tertutup dengan anggota Pakem. Sementara yang lainnya terpaksa menunggu di luar sambil menunggu hasil keputusan. Situasi berubah memanas, menyusul perang mulut antara ketua dan anggota Suku Dayak Losarang, Pangeran Takmad Diningrat Gusti Alam dan Tarka dengan Kapolres AKBP Syamsudin Djanieb.

Takmad dan Tarka sepertinya tidak terima pernyataan Kapolres Djanieb yang memberikan batas waktu selama enam bulan agar Suku Dayak segera menghentikan aktivitasnya. Bahkan, mereka sempat saling dorong dengan Kapolres Djanieb. Karena situasinya terus memanas, Djanieb berusaha menahan emosi dan langsung masuk ke mobil dinasnya.

Ahmab Baso, perwakilan Komnas HAM menjelaskan, saat ini pihaknya tetap akan melakukan kajian terhadap keputusan anggota Pakem yang menyatakan bahwa aliran Suku Dayak Sesat. Dijelaskannya, Komnas HAM sebatas melakukan kajian, memantau, melakukan mediasi dan penyuluhan terhadap persoalan tersebut. ”Jadi, tidak serta merta anggota Pakem bisa langsung begitu saja membubarkan, akan tetapi perlu dikaji ulang sejauhmana keputusan tersebut,” tandasnya, seraya meminta kepada semua pihak agar arif dalam membuat keputusan, sehingga tidak menimbulkan gejolak.

Sementara Kapolres AKBP Syamsudin Djanieb bersama anggota Pakem lainnya tetap konsisten dengan hasil telaah yang menyatakan bahwa Suku Dayak Losarang sesat dan harus dibekukan. Dijelaskan Djanieb, pihaknya memberikan batas waktu selama enam bulan sejak Pakem menyatakan aliran tersebut sesat. ”Kami tinggal menunggu hasil akhir keputusan dari bupati Indramayu. Setelah itu baru kami akan melakukan tindakan tegas,” tegasnya.

Siap Pertahankan Keyakinan

Ketua Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Losarang, Pangeran Takmad Diningrat Gusti Alam secara tegas menolak hasil telaah dari anggota Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) yang menyatakan suku yang dipimpinnya sesat. Bahkan, Takmad cs mengancam akan melakukan perlawanan dengan siapa pun yang menghalang-halangi kepercayaannya.

Hal itu disampaikan Takmad usai menggelar pertemuan dengan anggota Pakem. Dia menjelaskan, para pengikut Suku Dayak Losarang telah sepakat untuk mempertahankan kepercayaan yang selama ini diyakininya. “Selama ini apa yang kami lakukan dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah merugikan orang lain, apalagi membuat resah masyarakat,” kata pria kelahiran Desa Malang Semirang ini.

Menurut Takmad, keyakinan yang digelutinya bersama ribuan pengikut yang tersebar di pelosok desa itu didirikan sejak tahun 1972. Sedangkan komunitas yang mendewakan istri dan anak itu berpusat di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu.

“Suku Dayak bukan agama, melainkan adat atau budaya yang selama ini diyakini oleh komunitas yang jauh dari makanan yang bernyawa. Pemerintah juga harus adil dalam bertindak, dan jangan seenaknya sendiri. Kami bersama ribuan pengikut Suku Dayak tidak akan membubarkan diri, meski Pakem telah menyatakan sesat,” tegas mantan guru silat ini. (dun)


7 Comments

  1. tunabdulrazak says:

    New religion perhaps: fusion of Hinduism, Budhism dan Islam.

  2. erensdh says:

    Mental bangsa kita ini sudah benar-benar amburadul, orang-orangnya banyak menjelma menjadi tuhan

  3. anthony nyahu says:

    Itulah lucunya, dan ‘hanya di Indonesia’, urusan kepercayaan dan keyakinan harus diatur oleh Negara. Akan lebih baik menurut saya negara tidak perlu mengurus tentang agama dan keyakinan seseorang. Apa yang terjadi dengan Suku Dayak Indramayu tersebut merupakan refleksi dari harapan utopis mereka untuk mendapatkan ruang (space) hidup dan berkembang di NKRI. Hal ini mengingatkan saya seperti di Kalimantan Tengah, kepercayaan asli suku Dayak di sana dikenal dengan Kaharingan, juga tidak mendapat tempat/space, akhirnya kebijakan yang sangat krusial dibuat dengan menggabungkannya dengan Hindu Bali. Cccck….ironis sekali di alam demokrasi sekarang ini. Urusan agama/keyakinan adalah urusan individu dengan Tuhannya, berikut surga dan neraka, manusia lain tidak punya kuasa untuk melakukan ‘punishment’ bahwa kalau keyakinan begini bisa begitu dsb.Anyway, salam kenal buat Anda. Saya salut!

  4. Menanggapi persoalan sesat atau tidak bukanlah manusia yang menyatakan demikian. Yang katanya tidak sesatpun banyak melakukan kesesatan. Menurut saya soal kepercayaan jangan diganggu sebab negara ini sebelum masuknya agama telah melakukan aliran kepercayaan. Soal benar atau tidak sekali lagi bukan kita yang tahu. Masuk surga atau tidak bukan urusan agama masing-masing tetapi urusan pribadi kita dengan TUhan sang pencipta.
    Tidak ada ajaran yang benar selama kita tidak melakukannya dengan benar dan memberi contoh yang benar. Jadi menurut saya pembubaran aliran Suku Dayak Losarang tersebut tidak tepat karena mereka yakin akan keselamatan yang ada dalam ajarannya dan tidak pernah mengganggu siapapun apalagi membunuh.
    Ajaran agama yang ada saat ini lah yang ternyata telah membunuh banyak orang melalui ajaran-ajarannya kenapa tidak dianggap sesat? Membunuh secara langsung maupun tidak langsung yang merasakannya masyarakat dan kita juga. Jadi biarlah agama asli hidup ditengah masyarakat kita karena dialah agama produk asli dari Indoneia bukan agama import seperti islam, kristen, budha dan hindu.
    Islam import dari timur tengah, kristen juga dari timur tengah yang diformat ulang oleh eropa, budha dari China dan Hindu dari India. semua produk agama itu import bukan asli buatan Indonesia, nah kenapa ada yang asli Indonesia malah dianggap sesat bukankah penyembahan ala indonesia sudah ribuan tahun adanya setelah berasimilasi dengan hindu? Tonie Montass

  5. gung chandra says:

    Saya bingung…saya seorang penganut Hindu , dari beritanya memang sepertinya mereka mengambil sedikit ajaran Hindu namun saat perkawinan menggunakan cara Islam,….dan cara mereka bersembahyang atau memujua Tuhan sama sekali bukan cara cara Hindu …. dan Hindu tidak pernah ngotot akan pemimpinnya ,..yg saya dengar di berita malah pemimpin suku ini==Bapak Takmad== bahkan tidak mengakui NKRI…

    mengenai keputusan ajaran ini sesat saya tidak terlalu mengerti,..namun memang sebaiknya di panggil tokoh HIndu dan Budha karena nama ajaran mereka menyinggung dua agama yg diakui di Indonesia…sehingga bila memang terbukti 3 agama ini merasa di lecehkan,…keputusan sesat adalah sangat tepat…

    terima kasih

  6. Yuni says:

    Apa yang terjadi dengan kelompok Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu sangat membuat saya prihatin. Teman saya beberapa bulan yang lalu sempat berkunjung ke sana, dan ternyata masyarakat disana menjalankan keyakinan Hindu, bahkan Bapak Takmad meminta agar dibikinkan Padmasana (Pura Kecil) untuk mereka tapi melihat KTPnya Islam maka teman saya tdk segera memenuhi permintaan masyarakat disana karena takut menimbulkan masalah. KAmi sangat menyayangkan tindakan MUI dan aparat yang tidak melibat Tokoh Hindu dan Budha dalam menangani masalah tersebut padahal jelas2 nama kelompok tersebut adalah “Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu”

  7. boby jatibarang says:

    mass.. mass.. mbak.. mbak.. lan kang yayu sedulur kabeh wong dermayu..
    kenapa sich belakangan ini kita rajin mengungkit2 kepercayaan orang?
    setau saya dayak losarang sudah lama ada kenapa kok baru sekarang diributkan..??
    apa memang watak birokrat di indramayu yang suka latah & nyeleneh dalam mengambil keputusan..
    kalau ada yang bilang komunitas ini mengganggu, mengganggu apanya…????!!!
    setau saya mereka orangnya baik2 ngak pernah berbuat jahat..
    tolong buat bapak2 birokrat yang terhormat jangan latah ikut2an ngatain orang lain sesat..
    sedangkan kita sendiri blm tentu bener. jangan demi kepentingan “pribadi”
    ngorbanin rakyat kecil….. HIdup Dayak LOsarang…!!! aja getap aja gemeter.. reang dukung sing kadoan..!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,489 hits

Kalender

November 2007
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: