Home » Fragmen Lain » Catatan Ringan usai menonton film “Merantau”

Catatan Ringan usai menonton film “Merantau”

Arsip

“Gila!…Luar biasa filmnya, saya benar-benar nggak rugi,” kata teman saya berdecak puas usai menonton film Merantau di Depok Town Square. Saya pun tak mengelak. Sore itu lebih separoh kursi dalam studio 2 bioskop 21 nampak penuh, dan terlihat wajah-wajah penonton yang kebanyakan muda mudi di sebelah kiri dan kanan saya berbinar sambil sedikit menahan haru meninggalkan ruangan.

FIlm olahan sutradara asal Inggris Gareth Evans ini, menurut saya, paling bermutu di antara film laga nasional yang pernah ada. Merantau menampilkan seni beladiri silat harimau asal Minang, Sumatera Barat yang digarap secara ciamik nan memukau. Judul ‘Merantau” sendiri diambil dari tradisi merantau anak muda Minang yang pergi ke tanah seberang untuk mencari jatidirinya. Konon, Merantau telah diputar sebagai film penutup di ajang Puchon International Fantasy Film Festival (Pifan) 2009 di Bucheon, Korea Selatan, dan memperoleh applause dari masyarakat di sana.

Sepenuhnya saya setuju pendapat banyak orang bahwa bila semakin banyak film bermutu semacam ini diproduksi, pasti dengan sendirinya film-film dengan selera rendahan seperti “Paku Kuntilanak” yang dirilis dalam waktu hampir bersamaan akan segera masuk liang kuburnya dan tak pernah bangkit lagi, kecuali ada “dukun” sinting yang sukanya cari sensasi.

Menonton “Merantau” bukan hanya membuat kita menemukan kenikmatan estetik lewat adegan silat Harimau yang ciamik (tak kalah dengan Jacky Chan) atau scene pemandangan di bukit tinggi yang aduhai. Film ini menawarkan kekayaan filosofi hidup yang tinggi, menggungah hati dan penuh inspirasi. Film ini, setidaknya menurut saya, adalah suatu hidup dalam pencarian terhadap “the truth” yang berasal dari tradisi Merantau anak muda keluarga Minangkabau zaman dulu. Meminjam ungkapan antropolog Victor Turner, tradisi merantau adalah ritual peralihan (rite of passage) yang harus dilalui untuk tumbuh menjadi dewasa dan memikul tanggung jawab keluarga. Lewat merantau, anak muda yang beranjak dewasa bukan hanya sekadar pergi dari kampung halamannya menuju ke tanah sebrang yang asing nun jauh di sana, tetapi yang lebih penting adalah menemukan “the truth” atau “kebenaran” dalam perjalanan hidupnya, atau “kesejatian” di dalam dirinya (pesan yang dinarasikan si Emak, yang diperankan Christine Hakim).

“Kebenaran” itu tidak cukup ditemukan di dalam kitab suci, apalagi dalam ayat-ayat yang dipahami secara tekstualistik. “Kebenaran” justeru ditemukan di dalam suatu “moment of truth” saat seseorang menghadapi pilihan-pilihan dalam dunia kehidupan konkrit. Dalam momen-momen yang menantang dan eksistensial itulah dia menemukan “the truth”, sebagaimana Yuda, tokoh utama yang diperankan oleh Iko Uwais, yang dalam perantauannya mendapati Astri (penari erotis yang diperankan Sisca Jessica) diperlakukan sebagai makhluk sub-human yang hendak diperdagangkan oleh sindikat perdagangan perempuan.

“Moment of truth” ini juga dihadapi oleh Eric, rekan Yuda asal Minangkabau, yang lama merantau di Jakarta dan menentukan pilihan bekerja menjadi preman kota. Namun jalan Eric berliku, “the truth” ia temukan di akhir hidupnya saat ia diberondong oleh ratusan tembakan mematikan dalam sebuah lift sambil teguh menyelamatkan Yuda yang diketahui masih memanggul misi pembebasan manusia, “the truth” itu sendiri.

“The truth”, “kesejatian” adalah suatu yang prinsipil dalam hidup orang muda dalam tradisi Minangkabau. Ternyata ia tidak muncul dari suatu egoisme, macam egoisme politik, intelektualistik atau bisnis. “The truth” justeru ditemukan dalam kesetiakawanan, persahabatan, dan pengorbanan demi suatu misi pembebasan. Baru setelah menemukan “the truth” itu ia dapat diberi tanggung jawab sosial yang lebih besar dalam kehidupan. “The truth” ditemukan oleh orang yang terlibat dalam kehidupan konkrit ketimbang mereka yang menggenggam ayat sambil mengasingkan diri, atau atas nama sebuah ayat menciptakan malapetaka bagi orang lain. Dalam pengertian sekarang, barangkali “the truth” ditemukan oleh para kiai organik, intelektual organik, pebisnis organik, kaum muda organik yang terlibat dalam penderitaan yang lain.

Di akhir lakon, barangkali para pecinta film holliwood di sini akan dibuat kecewa. Tidak seperti tokoh superhero Superman atau Batman sang penyelamat dunia yang tetap hidup sepanjang masa. Yuda, sang superhero dalam lakon ini, keburu meninggal sebelum memperoleh tanggung jawab itu. Yuda pergi saat memburu “the truth” dan berusaha mempertahankannya. Tubuhnya bersimbah darah, sebatang besi tua menancap di dadanya.

Kematian yang tidak diharapkan, dan terasa menyakitkan. Di sebelah kursi saya, pasangan muda-mudi menangis sesenggukan. Yang lain memilih bertahan di kursinya sambl sibuk mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca menahan haru. Ya, benar, sang sutradara membunuh si tokoh utama, Yuda sang superhero. Mungkin ia tahu itulah memori sejarah orang Indonesia, si tokoh harus dimatikan (seperti Soekarno). Tapi mungkin juga ia tahu strategi bikin film di Indonesia: buatlah penonton menangis tersedu-sedu, niscaya film anda akan laku..[]


5 Comments

  1. Febri says:

    Selamat tahun baru (bagi yang merayakan)! Terimakasih sudah membaca pesan ini.

    Di tahun yang baru ini beberapa anggota Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Salatiga bertekad menerbitkan majalah dwiwulanan bernama Ontic, yang dirancang untuk menjadi kanal pemikiran umum dan terbit perdana Februari mendatang dengan tema “Iman Dalam Pergulatan”.

    Kami mengundang Anda semua, siapapun, untuk mengirimkan tulisan yang relevan dengan tema tersebut. Undangan ini tidak terbatas untuk kalangan Kristen, melainkan berlaku pula untuk kalangan Islam, Buddhis, Kejawen, Kaharingan, deis, agnostik, bahkan ateis.

    Anda bisa manfaatkan kesempatan ini untuk menjalani ziarah batin Anda sendiri, meninjau ulang seluruh bangunan iman Anda selama ini, lantas kembali untuk berbagi pengalaman dengan orang lain. Dengan begitu, Anda mungkin bisa menginspirasi dan membantu orang lain menemukan iman dan dirinya sendiri. Kami percaya bahwa panggilan profetik orang adalah menjadi dirinya sendiri apa adanya.

    Andia, sudut pandang tulisan bisa dan boleh beragam, tergantung latarbelakang penulis masing-masing. Yang kami harapkan adalah tulisan berisi kesaksian pribadi Anda dalam menjalani kehidupan iman di tengah-tengah realitas sosial yang terus berubah. Yang kami maksud “iman” di sini bukan hanya kepercayaan tentang Tuhan, tetapi juga kepercayaan tentang manusia, kehidupan, atau tentang kepercayaan itu sendiri.

    Fokus tulisan tidak selalu harus mempertanyakan Tuhan (atau menuhankan pertanyaan). Kalau Anda orang beriman, Anda boleh menulis jatuh-bangun Anda mempertahankan iman di tengah pertanyaan-pertanyaan yang (dianggap) merusak iman. Kalau Anda bukan orang beriman, Anda bisa menulis tentang beriman pada ketiadaan dan apa yang membuat Anda demikian.

    Anda juga bisa menulis pergulatan iman berdasarkan latarbelakang profesi dan pendidikan. Kalau Anda seorang awam, bagaimana Anda memandang polah kaum teolog yang (dianggap) punya otoritas lebih untuk bicara soal Tuhan? Kalau Anda teolog profesional, bagaimana Anda memandang spiritualitas yang berkecambah di kalangan awam? Dan apa maknanya buat iman Anda? Kalau Anda seorang fisikawan, bagaimana Anda memaknai iman dan ilmu? Apakah, misalnya, Anda setuju dengan ungkapan Einstein bahwa Tuhan tidak bermain dadu? Kalau Anda seorang politikawan, bagaimana Anda memandang posisi iman dan kepercayaan dalam kehidupan berbangsa-bernegara? Bagaimanakah, misalnya, pengaruh iman seorang politikawan terhadap kebijakan publik yang dibuatnya? Dan seterusnya.

    Tenggat pengiriman naskah adalah 21 Januari 2011. Tidak ada batasan mutlak soal panjang-pendek tulisan, tapi sebagai patokan Anda boleh menulis antara 2.000 sampai 7.000 kata. Silakan mengirim naskah lewat surat elektronik ke alamat majalahontic@gmail.com.

    Salam,
    Redaksi Ontic
    Kontak : Satria Anandita (081654949494)

  2. kira2 udah ada blm d toko kaset?????

  3. heruyaheru says:

    jadi pengen nonton…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 170,459 hits

Kalender

August 2009
M T W T F S S
« Dec   Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

“Quotation”

"Invented traditions have significant social and political functions... The intention to use, indeed often to invent, them for manipulation is evident; both appear in politics, the first mainly (in capitalist societies) in business." (Eric Hobsbawm, The Invention of Tradition, 1996)

Peta Pengunjung

Top Clicks

  • None
%d bloggers like this: