Rumah Kultura

Membaca Peristiwa dengan Sudut Pandang Beda

Catatan Ringan usai menonton film “Merantau”

Posted by Mh. Nurul Huda on 10 August 2009

“Gila!…Luar biasa filmnya, saya benar-benar nggak rugi,” kata teman saya berdecak puas usai menonton film Merantau di Depok Town Square. Saya pun tak mengelak. Sore itu lebih separoh kursi dalam studio 2 bioskop 21 nampak penuh, dan terlihat wajah-wajah penonton yang kebanyakan muda mudi di sebelah kiri dan kanan saya berbinar sambil sedikit menahan haru meninggalkan ruangan.

FIlm olahan sutradara asal Inggris Gareth Evans ini, menurut saya, paling bermutu di antara film laga nasional yang pernah ada. Merantau menampilkan seni beladiri silat harimau asal Minang, Sumatera Barat yang digarap secara ciamik nan memukau. Judul ‘Merantau” sendiri diambil dari tradisi merantau anak muda Minang yang pergi ke tanah seberang untuk mencari jatidirinya. Konon, Merantau telah diputar sebagai film penutup di ajang Puchon International Fantasy Film Festival (Pifan) 2009 di Bucheon, Korea Selatan, dan memperoleh applause dari masyarakat di sana.

Sepenuhnya saya setuju pendapat banyak orang bahwa bila semakin banyak film bermutu semacam ini diproduksi, pasti dengan sendirinya film-film dengan selera rendahan seperti “Paku Kuntilanak” yang dirilis dalam waktu hampir bersamaan akan segera masuk liang kuburnya dan tak pernah bangkit lagi, kecuali ada “dukun” sinting yang sukanya cari sensasi.

Menonton “Merantau” bukan hanya membuat kita menemukan kenikmatan estetik lewat adegan silat Harimau yang ciamik (tak kalah dengan Jacky Chan) atau scene pemandangan di bukit tinggi yang aduhai. Film ini menawarkan kekayaan filosofi hidup yang tinggi, menggungah hati dan penuh inspirasi. Film ini, setidaknya menurut saya, adalah suatu hidup dalam pencarian terhadap “the truth” yang berasal dari tradisi Merantau anak muda keluarga Minangkabau zaman dulu. Meminjam ungkapan antropolog Victor Turner, tradisi merantau adalah ritual peralihan (rite of passage) yang harus dilalui untuk tumbuh menjadi dewasa dan memikul tanggung jawab keluarga. Lewat merantau, anak muda yang beranjak dewasa bukan hanya sekadar pergi dari kampung halamannya menuju ke tanah sebrang yang asing nun jauh di sana, tetapi yang lebih penting adalah menemukan “the truth” atau “kebenaran” dalam perjalanan hidupnya, atau “kesejatian” di dalam dirinya (pesan yang dinarasikan si Emak, yang diperankan Christine Hakim).

“Kebenaran” itu tidak cukup ditemukan di dalam kitab suci, apalagi dalam ayat-ayat yang dipahami secara tekstualistik. “Kebenaran” justeru ditemukan di dalam suatu “moment of truth” saat seseorang menghadapi pilihan-pilihan dalam dunia kehidupan konkrit. Dalam momen-momen yang menantang dan eksistensial itulah dia menemukan “the truth”, sebagaimana Yuda, tokoh utama yang diperankan oleh Iko Uwais, yang dalam perantauannya mendapati Astri (penari erotis yang diperankan Sisca Jessica) diperlakukan sebagai makhluk sub-human yang hendak diperdagangkan oleh sindikat perdagangan perempuan.

“Moment of truth” ini juga dihadapi oleh Eric, rekan Yuda asal Minangkabau, yang lama merantau di Jakarta dan menentukan pilihan bekerja menjadi preman kota. Namun jalan Eric berliku, “the truth” ia temukan di akhir hidupnya saat ia diberondong oleh ratusan tembakan mematikan dalam sebuah lift sambil teguh menyelamatkan Yuda yang diketahui masih memanggul misi pembebasan manusia, “the truth” itu sendiri.

“The truth”, “kesejatian” adalah suatu yang prinsipil dalam hidup orang muda dalam tradisi Minangkabau. Ternyata ia tidak muncul dari suatu egoisme, macam egoisme politik, intelektualistik atau bisnis. “The truth” justeru ditemukan dalam kesetiakawanan, persahabatan, dan pengorbanan demi suatu misi pembebasan. Baru setelah menemukan “the truth” itu ia dapat diberi tanggung jawab sosial yang lebih besar dalam kehidupan. “The truth” ditemukan oleh orang yang terlibat dalam kehidupan konkrit ketimbang mereka yang menggenggam ayat sambil mengasingkan diri, atau atas nama sebuah ayat menciptakan malapetaka bagi orang lain. Dalam pengertian sekarang, barangkali “the truth” ditemukan oleh para kiai organik, intelektual organik, pebisnis organik, kaum muda organik yang terlibat dalam penderitaan yang lain.

Di akhir lakon, barangkali para pecinta film holliwood di sini akan dibuat kecewa. Tidak seperti tokoh superhero Superman atau Batman sang penyelamat dunia yang tetap hidup sepanjang masa. Yuda, sang superhero dalam lakon ini, keburu meninggal sebelum memperoleh tanggung jawab itu. Yuda pergi saat memburu “the truth” dan berusaha mempertahankannya. Tubuhnya bersimbah darah, sebatang besi tua menancap di dadanya.

Kematian yang tidak diharapkan, dan terasa menyakitkan. Di sebelah kursi saya, pasangan muda-mudi menangis sesenggukan. Yang lain memilih bertahan di kursinya sambl sibuk mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca menahan haru. Ya, benar, sang sutradara membunuh si tokoh utama, Yuda sang superhero. Mungkin ia tahu itulah memori sejarah orang Indonesia, si tokoh harus dimatikan (seperti Soekarno). Tapi mungkin juga ia tahu strategi bikin film di Indonesia: buatlah penonton menangis tersedu-sedu, niscaya film anda akan laku..[]

Posted in Fragmen Lain | 1 Comment »

Politik (Ruang) Perempuan PMII

Posted by Mh. Nurul Huda on 10 April 2008

“Teman-teman perempuan menangis terisak, saat mendengar KOPRI diputuskan menjadi badan semi-otonom,” kata Desilawati, teman saya, yang juga anggota KOPRI asal DKI Jakarta.

“Nampak sekali mereka kecewa,” demikian lanjutnya dalam sebuah pembicaraan via telpon sekitar dua minggu usai Kongres Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Kota Batam, Propinsi Riau. Meskipun dalam beberapa diskusi ringan mengenai KOPRI (Korp PMII Putri) saya seringkali berbeda pendapat dengannya, Desi, sejauh pengetahuan saya, adalah salah seorang kader perempuan PMII yang punya integritas. Justru karena berbeda, dan terutama karena integritasnya, itulah saya menghargainya dengan tanpa syarat.

Saya sendiri tidak menghadiri perhelatan Kongres yang akhirnya memilih Sahabat Rodli Kaelani sebagai ketua umum itu, karena menyadari diri bukan bagian dari orang penting di tubuh organisasi mahasiswa muslim progresif ini. Tapi sikap acuh tak acuh semacam ini sebenarnya membuat saya merugi lantaran tidak memahami secara detil argumentasi di balik keputusan strategis soal KOPRI di atas. Satu-satunya alasan dominan yang terdengar adalah bahwa perjuangan kesetaraan perempuan sudah paripurna, setidaknya sudah maju sekian puluh langkah, bila pemisahan domain kader PMII putra dan kader PMII putri telah didekonstruksi. Pembedaan hanyalah ekspresi cara berpikir yang diskriminatif. Begitu kata sebagian mereka.

Sejauhmanakah argumentasi ini bisa dipertanggungjawabkan dalam konteks strategi gerakan perempuan ke depan, dan KOPRI pada khususnya? Esei pendek ini dimaksudkan untuk memeriksa hal tersebut.

Hampir semua aktifis perempuan sudah mafhum, bahwa gerakan perempuan adalah fenomena umum dari gejala maraknya berbagai gerakan sosial baru yang tumbuh sejak pertengahan abad lalu. Ia adalah respon dari kebuntuan gerakan Kiri Lama yang terkurung dalam politik kelas yang berakibat pada sikap acuh tak acuh terhadap realitas penindasan di dalam sub-sub kelas, seperti yang menimpa komunitas kulit hitam dan kaum perempuan. Maklum saja, bagi Kiri Lama hanya ada dua kelas, kelas kapitalis sebagai kelompok penindas, dan kelas proletar sebagai kelompok tertindas. Dalam pandangan mereka (berbagi dengan Liberalisme, Kiri Lama masih menganut keyakinan rasionalitas Pencerahan yang meyakini “kemanusiaan yang sama dan universal”), kelas yang telah disebut terakhir ini adalah satu-satunya agen universal yang menjadi motor perubahan.

Refleksi semacam ini lahir di Eropa, sementara realitas peminggiran dan diskriminasi terhadap kaum perempuan adalah fenomena yang hampir merata di belahan dunia. Justeru karena dalam setiap refleksi bersifat partikular, parsial dan selalu ada jarak renggang dengan kenyataan, maka setiap basis dasar pengandaian dari sebuah refleksi mesti ditatap dengan mata kritis dan terbuka. Apakah universalitas manusia –yang acuh tak acuh terhadap realitas diskriminasi dan peminggiran berdasarkan perbedaan budaya, agama, etnik, dan jenis kelamin, atau katakanlah perbedaan konteks struktur dasar masyarakat– adalah pengandaian yang cukup memadai sebagai basis gerakan kesetaraan kaum perempuan?

Di kalangan feminis progresif, dalam struktur dasar masyarakat yang patriarkis, kesetaraan universal adalah ilusi. Dan gerakan perempuan seyogyanya tidak lahir dari sebuah ilusi semacam itu. Gerakan perempuan harus lahir dari basis dasar kenyataan sosial yang konkrit. Kenyataan itu adalah perbedaan. Perbedaan budaya, mode ekonomi, nilai religi, kekuatan fisik, aspek psikologis dan biologis, dan seterusnya. Bukan perbedaan yang diingkari dan didiskriminasi, melainkan perbedaan yang dihargai dan dalam konteks yang bersifat relasional. Di dalam politik perbedaan, butuh suatu strategi: politik ruang. Ruang yang didominasi oleh laki-laki tak banyak yang bisa diharapkan, baik akomodasi suara maupun sumberdaya. Ini realitas, bukan pengandaian. Berdasarkan alasan itu pula, kira-kira, dulu, Kiri Lama yang sudah impoten dan lesu itu harus menggantikan pandangan kelas universalnya dengan gerakan-gerakan sosial baru berbasis perbedaan. Dan Kiri Lama bermetamorfosis menjadi Kiri Baru. Lalu bagaimana dengan PMII? Read the rest of this entry »

Posted in Politik Budaya | 23 Comments »

Tempat Ibadah Ahmadiyah Terancam Dibongkar

Posted by Mh. Nurul Huda on 3 December 2007

Source: Radar Cirebon, 3 Desember 2007

JALAKSANA – Pergolakan sosial di Desa Manislor, Kecamatan Jalaksana kembali muncul. Hal itu menyusul disebarkannya surat dari gabungan ormas Islam di Kuningan yang mengatasnamakan Komponen Muslim perihal penegasan terhadap jamaah Ahmadiyah di desa tersebut.

Sedikitnya 35 aktivis Komponen Muslim melakukan penyebaran surat terhadap seluruh jamaah Ahmadiyah di sana. Sekitar 1.000 lembar surat diberikan kepada setiap rumah yang berjumlah 3.029 jiwa. Tidak hanya penyebaran surat, pada hari itu juga dibentangkan spanduk bertuliskan imbauan jihad terhadap seluruh umat Islam. Read the rest of this entry »

Posted in Fragmen Budaya di Media Massa, Keputusan/Regulasi Budaya, Politik Budaya | Leave a Comment »

Tegang, Ratusan Suku Dayak Luruk Kantor Kejaksaan

Posted by Mh. Nurul Huda on 21 November 2007

Takmad-Kapolres Saling Dorong

Source: Radar Cirebon, 21/11/2007


INDRAMAYU – Sebagai bentuk penolakan terhadap keputusan Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) Kabupaten Indramayu, ratusan pengikut aliran Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Losarang meluruk Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Indramayu, Selasa (20/11) sekitar pukul 10.00. Mereka memprotes keras sekaligus menolak hasil telaah anggota Pakem yang menyatakan bahwa aliran Suku Dayak sesat dan harus dibubarkan.

Pantauan Radar, ratusan pengikut aliran Suku Dayak Losarang pimpinan Pangeran Takmad Diningrat Gusti Alam diangkut menggunakan truk mendatangi kantor Kejari. Ikut mengawal rombongan Suku Dayak di antaranya Ahmad Baso (Komnas HAM), Wakiran dan Sarma, angota perwakilan Suku Baduy, Ketua Patrio Sunda Pajajaran, Kamaludin dan Ketua Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika, Elen. Read the rest of this entry »

Posted in Fragmen Budaya di Media Massa, Politik Budaya | 7 Comments »

Warga NU Sesalkan Penyerangan Naqsabandiyah

Posted by Mh. Nurul Huda on 20 November 2007

Source: Harian Fajar, 20 Nov 2007

MAKASSAR– Sebagian warga Nahdhatul Ulama (NU) menyayangkan tindak penyerangan terhadap kelompok tarekat Naqsabandiyah di Bulukumba beberapa waktu lalu. Warga NU dimaksud, seperti Lakpesdam-NU Makassar, Aliansi Muda Nahdhatul Ulama (AMNU) Sulsel, dan KMNU Sulsel.Mereka menyayangkan tindakan anarkis hingga melukai beberapa pengikut aliran sekaligus merusak rumah yang biasa dijadikan tempat berzikir. Warga NU itu menilai tindakan penyerangan tidak bisa dibiarkan.

“Menyesalkan sikap beberapa kelompok masyarakat yang dengan mudah menyatakan dan memberi stigma “sesat” terhadap praktik kebergamaan dalam masyarakat, khususnya yang menimpa kelompok tarekat naqsabandiyah,” sebutnya dalam siaran persn yang diterima redaksi, malam tadi.

Read the rest of this entry »

Posted in Fragmen Budaya di Media Massa, Politik Budaya | 5 Comments »

Warga Serang Kelompok Tarekat Naqsabandiyah

Posted by Mh. Nurul Huda on 20 November 2007

Source: Harian FAJAR, 19 Nov 2007

Pimpinan Tarekat Terluka

BULUKUMBA — Ratusan warga Tana Beru Kecamatan Bontobahari, menyerang sebuah rumah yang diyakini sebagai tempat ibadah Tarekat Naqsabandiyah, di Kelurahan Sapolohe, Sabtu malam pukul 22.30 Wita.Akibatnya, rumah permanen itu hancur rata dengan tanah setelah diamuk massa menggunakan batu dan senjata tajam lainnya.

Sekitar 60-an jemaah pengikut tarekat dari beberapa kecamatan terdekat yang sedang melakukan zikir terpaksa dievakuasi ke kantor Polsek Bontobahari.

Akibat diserang warga, pimpinan tarekat Naqsabandiyah di Bulukumba, Andi Muhammad Ridwan, terluka di bagian mata. Warga bertindak brutal lantaran merasa resah dengan kehadiran aliran yang dianggap menyimpang dari agama Islam itu. Untuk mengamankan situasi, puluhan aparat Polres Bulukumba dipimpin Wakil Kepala Polres Bulukumba, Kompol Teguh Aswardie, turun ke lokasi.

Read the rest of this entry »

Posted in Fragmen Budaya di Media Massa, Politik Budaya | 27 Comments »

Pernyataan Sikap: Negara Sebaiknya Bersikap Adil dan Netral

Posted by Mh. Nurul Huda on 13 November 2007

Pernyataan Sikap

Negara Sebaiknya Bersikap Adil dan Netral Terhadap Semua Penganut Kepercayaan, Sekte, dan Agama

Kami yakin sepenuhnya bahwa semua agama mengajarkan keharusan menghormati sesama manusia, tanpa pembedaan apa pun. Agama-agama juga tidak membenarkan pemaksaan keyakinan kepada orang lain. Ajaran agama yang bersifat universal inilah yang menginspirasi para the founding fathers Indonesia merumuskan Pancasila sebagai landasan ideologi negara. Nilai-nilai penghormatan terhadap manusia ini kemudian menjadi asas dalam penyusunan konstitusi, UU Dasar 1945.

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (1948) menyatakan secara tegas penghormatan terhadap kemerdekaan manusia, terutama kemerdekaan dalam beragama dan berkeyakinan. Berikutnya, Undang-Undang No. 12/2005 tentang Ratifikasi Kovenan Hak Sipil dan Politik, khususnya pasal 18, lebih tegas mengakui hak kebebasan beragama dan berkepercayaan.

Read the rest of this entry »

Posted in Pernyataan | 1 Comment »

Ngadu ke Komnas HAM, Polisi Diminta Tangkap Pimpinan Dayak Losarang

Posted by Mh. Nurul Huda on 13 November 2007

Source: Radar Cirebon, 9/11/2007

INDRAMAYU – Perseteruan antara Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) dan Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Losarang, terus memanas. Untukmempertahankan keyakinannya pasca pembekuan oleh Pakem, sejumlah perwakilan aliran kepercayaan pimpinan Takmad Diningrat itu meminta perlindungan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di Jakarta, Kamis (8/11).

Pimpinan Suku Dayak Losarang, Takmad Diningrat melalui juru bicara Dedi mengungkapkan, pihaknya sengaja datang ke Komnas HAM karena merasa keyakinan dan budaya yang dijalani secara damai telah dihalang-halangi bahkan dianggap sesat, sehingga harus dibekukan. ”Saat ini kami masih berada di Jakarta untuk meminta perlindungan kepada Komnas HAM terkait dengan munculnya telaah dari anggota Pakem. Kalau tidak ada halangan, sejumlah anggota Komnas HAM akan mendatangi Pakem Indramayu untuk meminta klarifikasi tentang hasil telaah,” tandas Dedi melalui saluran telepon, kemarin

Read the rest of this entry »

Posted in Fragmen Budaya di Media Massa, Politik Budaya | Leave a Comment »

Dayak Losarang Tolak Dibubarkan

Posted by Mh. Nurul Huda on 12 November 2007

Source: Radar Cirebon, 8/11/2007

Dedi: Kami Bukan Aliran Kepercayaan tapi Budaya

INDRAMAYU – Meski Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) Kabupaten Indramayu secara resmi membekukan aliran Suku Dayak Hindu Budha Segandu Loasarang, namun para pengikut aliran kepercayaan yang dipimpin Takmad Diningrat tetap berpegang teguh kepada keyakinannya. Bahkan, ia menolak pembekuan aliran kepercayaan yang telah dianut oleh ribuan pengikut di sejumlah desa di Indramayu.

Pimpinan Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Losarang, Takmad Diningrat melalui juru bicara Dedi menjelaskan, saat ini pihaknya bersama ribuan pengikut tetap melakukan aktivitas seperti hari biasanya. Dirinya mengaku tidak terpengaruh dengan munculnya pernyataan tentang pembekuan oleh Pakem, terkait aliran SukuDayak yang dinyatakan sesat.

Read the rest of this entry »

Posted in Fragmen Budaya di Media Massa, Politik Budaya | Leave a Comment »

Myanmar: Antara Geopolitik Minyak China Dan Hegemoni AS

Posted by Mh. Nurul Huda on 7 November 2007

Source: Kompas, 5 Nopember 2007

Oleh: Maruli Tobing

Junta militer yang berkuasa di Myanmar kini lega. Badai ancaman terbesar sejak Jenderal Senior Than Shwe memimpin junta tahun 1992 berhasil dipadamkan. Tentara hanya membutuhkan waktu dua hari menggilas aksi unjuk rasa ribuan biksu dan mahasiswa, akhir September lalu. Sejak itu “aksi prodemokrasi” tamat. Amerika Serikat gagal mewujudkan Revolusi Kunyit para biksu menjadi sejenis Revolusi Bunga di Georgia dan Revolusi Orange di Ukraina.

Namun perang belum berakhir. Perjalanan masih panjang dan berliku. Pada pembukaan Sidang Umum PBB, akhir September lalu, Presiden AS George W Bush mengecam kebrutalan militer dan pelanggaran hak asasi manusia di Myanmar. Bush mengimbau agar masyarakat internasional meningkatkan tekanannya terhadap junta dan mendesak PBB “membebaskan rakyat Myanmar dari tirani dan kekerasan”.

Lantas, apa sesungguhnya yang terjadi di Myanmar? Minyak dan gas. Read the rest of this entry »

Posted in Ekonomi Politik, Fragmen Budaya di Media Massa, Politik Budaya | 1 Comment »